Pukul 02.00 WIB dinihari. Bulan purnama bulat sempurna. Dari Cemorolawang, suara gamelan sayup terdengar. Gugusan tujuh gunung memantulkan lanutan gamelan Jawa hingga ke seantero lembah. Upacara di lembah purba ini sakral.

Malam itu hari ke 15 bulan Kasada menurut perhitungan Jawa, jatuh pada 14 – 15 September 2009. Hari puja-puji dan persembahan bagi Sang Hyang Widhi Wasa. Ribuan penduduk Tengger siap mengikuti prosesi upacara Yadnya Kasada.

Langit Tengger cerah. Udara dan angin dingin menusuk kulit menembus tulang. Empat lapis pakaian dan dua jaket tebal serta pelindung kepala dan sarung tangan tidak mampu menahan serangan hawa dingin. Di malam-malam musim kemarau seperti ini, suhu bisa mencapai tiga derajat celcius.

Ribuan penduduk Tengger sudah memasang sesaji dan memanjatkan doa di tepi bukit Cemorolawang. Ini ritual “buka pintu” sebelum rangkaian upacara. Prosesi serupa juga dilakukan di pintu desa Dingklik, Pasuruan.

Arak-arakan penduduk menuruni lembah menuju Pura. Laki-laki memakai beskap hitam, celana komprang, ikat kepala batik, dan berselimut kain khas Tengger. Perempuan mengenakan kebaya dan kain. Sebagian besar tanpa alas kaki. Meski dingin dan berangin, mereka tidak peduli.

Meski ditawari kuda dan jeep, saya memilih berjalan kaki menyusuri lautan pasir bersama dua rekan fotografer. Kami mendahului rombongan. Berjalan kaki dari arah Cemorolawang menuju Pura Luhur Poten membutuhkan waktu 30 – 45 menit. Jarak yang harus ditempuh sekitar 2,5 kilometer. Lelah tapi semua terbayar. Lembah purba ini sangat eksotis.

Naga Emas

Dibelakang, arak-arakan seperti naga emas yang menyelinap perlahan diantara punggung-punggung bukit. Kepalanya adalah formasi pikulan obor yang digotong pemuda pilihan. Badan dan ekor terbuat dari tubuh-tubuh mungil penduduk Tengger yang membawa ongkek (persembahan), sesaji dan obor kecil. Bunyi tetabuhan dan gamelan mengiringi langkah. Mistis.

Poten, sebidang lahan di lautan pasir, tempat upacara Kasada. Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Di areal Poten ini terdapat beberapa bangunan yang dibagi menjadi tiga Mandala atau zona. Konon, saat Gunung Bromo meletus pada tahun 2004 lalu, pura ini nyaris tidak tersentuh kerikil, bongkah batu, dan abu yang memuntah dari kawah.

Wangi dupa menyeruap kuat. Di pelataran pura ini, ratusan penduduk tidur berselimutkan sarung dan kain. Mereka telah melakukan sipeng (bermalam menunggu Kasada) sejak sehari sebelumnya. Mereka berasal dari dusun yang lebih jauh.

30 menit kemudian, arak-arakan tiba. Ongkek dan sesaji diletakkan. Sebanyak 47 dukun pandhita duduk di dalam pendapa menghadap Padmasana atau takhta Sang Hyang Widi. Gamelan ditabuh lebih keras tanda prosesi upacara Yadnya Kasada dimulai. Obor-obor dinyalakan di sekeliling pura sebelum sang dukun kepala membacakan mantra. “Selamat datang para umat dalam Upacara Yadnya Kasada malam ini,” kata Mudjono, sang dukun kepala membuka upacara.

Setelah Puja Stuti dilafalkan, dukun pandhita membacakan kisah Roro Anteng dan Joko Seger dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Indonesia. Selama beratus-ratus tahun, legenda ini dituturkan lisan kepada keturunannya. Dari kedua nama itulah kata Tengger berasal.

Kini keturunan Roro Anteng dan Joko Seger mendiami empat kabupaten di empat penjuru Gunung Bromo yaitu Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo. Diperkirakan, jumlah penduduk Tengger saat ini mencapai 500 ribu jiwa.

“Roro Anteng dan Joko Seger prihatin. Sudah lama berumahtangga tak kunjung diberkahi anak. Mereka meminta keturunan kepada Yang Maha Agung. Permohonan dikabulkan. Dengan syarat, si putra bungsu harus dipersembahkan untuk Dewa Bromo (Brahma),” kata Mudjono membacakan sepenggal legenda Tengger.

Suasana hening saat kisah ini dituturkan. Masing-masing dukun semakin intens membakar dupa. Asapnya menyesaki aula. Hanya wartawan, juru foto dan kameraman yang masih hilir mudik di sekeliling pura.

Peserta khidmat mendengarkan. Berselimut sarung, mereka bergerombol di sudut. Satu dua kelompok berusaha menghangatkan tubuh dengan perapian sederhana dari arang dan kayu kering. Sisanya memilih bersedekap atau duduk berdekatan. Saya duduk di antara penduduk yang membuat perapian dari kayu cemara kering sambil mencoba melawan dingin.

 

Api #tengger #kasada #bromo #latepost #backpacker #travelling #indonesia #eastjava

A post shared by nagaketjil (@nagaketjil) on

Wisuda Dukun

Di Pura Poten inilah penduduk Tengger akan mengangkat dua orang dukun baru. Penggantian dukun ini dilakukan rutin setiap tahun, tergantung dukun mana yang habis masa jabatan. Syaratnya, minimal berusia 25 tahun dan sudah menikah. Calon dukun wajib menempuh satu ujian sebelum dilantik. Yaitu membaca mantra Mulunen tanpa jeda dan kesalahan.

Dukun dan mantra dalam masyarakat Tengger adalah bagian yang tidak terpisahkan. Dukun ini nantinya bertugas mengepalai seluruh ritual keagamaan dan prosesi upacara tahapan kehidupan suku Tengger. Setiap dusun memiliki seorang dukun utama dan asisten dukun. Total ada 49 dukun di seluruh bumi Tengger.

Satu calon dukun, Jumal (35) asal Dusun Punjul, Desa Gemita, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo dipanggil Mudjono untuk menjalani ujian. Jumal membaca Mantra Mulunen. Awalnya mulus dan lancar. Namun belakangan mulai tersendat-sendat. Ia lupa mantra. “Huuuu… masa dukun lali mantra ne!,” teriak Oyok, warga Dusun Punjul yang duduk bersama saya.

Mudjono meminta Jumal mengulang. “Kalau tidak hafal, sampeyan tidak bisa jadi dukun,” kata Mudjono. Mantra diulang hingga tiga kali sebelum Jumal dinyatakan lulus. “Sah?,” tanya Mulyono. Dijawab serentak, “Sah!.” Jumal yang berwajah tirus bernafas lega. “Saya sudah menghafal tiga hari berturut-turut,” kata dia. Peserta kedua, Sai (55) asal Desa Pakel, Kecamatan Guci Alit, Kabupaten Lumajang lulus sempurna. Ia mampu melantunkan mantra tanpa kesalahan.

Korban Suci

Upacara Mulunen selesai. Satu persatu orang berkemas. Mereka bersiap mendaki 232 anak tangga Bromo untuk Labuhan. Ongkek dan sesaji akan dilemparkan ke dalam kawah yang masih membara.

Ongkek adalah rangkaian persembahan. Ongkek dirangkai oleh penduduk dusun sehari sebelumnya. Satu ongkek mewakili satu dusun. Bentuknya beragam, tergantung kemampuan.

Ongkek termewah tahun ini terbuat dari kerbau yang sudah diambil dagingnya sehingga hanya tersisa kepala, empat kaki dan kulitnya; sementara dagingnya telah diolah menjadi masakan.

Ongkek paling sederhana dibuat dari beragam jajanan pasar dan makanan ringan. Sementara, sesaji perorangan bentuknya lebih beragam. Mulai dari uang recehan senilai Rp 500, buah, sayur mayur, makanan kecil, hingga seekor kambing.

Tahun ini, tidak semua dusun membuat ongkek. Hartono, seorang warga Tengger bertutur, Dusun Ngadisari tidak diijinkan membawa ongkek. Sebab, dusun ini masih berpantang. Seorang warga meninggal ketika prosesi upacara Kasada dimulai. “Dusun yang berpantangan ini hanya boleh melabuhkan persembahan dari tiap-tiap keluarga atau perorangan,” katanya.

Pukul 04.30 WIB. Purnama semakin condong ke barat, tepat berada di antara punggung Bromo dan Batok. Udara semakin dingin menusuk dan angin berhembus kencang. Dibantu cahaya obor, arak-arakan berjalan perlahan menapaki punggung gunung yang berbatu dan berpasir. Suara gending masih menggema.

Sebelum matahari mengintip dari cakrawala, sebagian ongkek dan sesaji itu telah tiba di puncak Bromo. Jauh di bawah sana, mulut kawah menganga mengeluarkan asap. Angin berhembus sangat kencang dan udara bercampur belerang. Baunya sangat menyengat, menyebar ke segala arah. Kain penutup mulut –dibasahi air– membantu memberi oksigen tambahan.

Menariknya, belasan laki-laki dan perempuan rela berdiri di tepi kawah dengan kemiringan 45 derajat untuk memungut persembahan. Wajah-wajah mereka menggurat renta, mungkin karena usia atau pengaruh alam Tengger yang keras.

Sebagian besar dari mereka memilih tidur di puncak Bromo. Ada yang tidur sejak sehari sebelumnya. Hanya bermodalkan selembar sarung serta karung padahal suhu sudah mendekati titik beku. Demi mengumpulkan sisa-sisa sesaji dengan harapan bisa dikonsumsi atau dijual kembali. Padahal sebagian besar sesaji sudah mengering layu dimakan suhu yang nyaris beku.

Satu persatu ongkek dan persembahan dilontarkan. Dengan harapan ucapan syukur itu diterima oleh Sang Hyang Widhi Wasa. Prosesi Ngelabuh ini adalah simbolisasi pengorbanan Raden Kusuma ke dalam kawah untuk menggantikan 24 orang saudaranya. Kusuma adalah putra bungsu Roro Anteng dan Joko Seger yang hilang ditelan kawah Bromo. Selama beratus tahun kemudian, penduduk Tengger rutin mengorbankan sebagian ternak dan hasil ladang kepada Bromo sebagai bentuk Korban Suci.