Pertanyaan ini menggelitik saya pada suatu sore sepulang saya mengunjungi dokter spesialis kandungan. Ini pemeriksaan rutin saja, semata kesadaran atas kesehatan alat reproduksi saya.

Si suster, perempuan, sambil tertawa-tawa menanyakan kenapa saya tidak memutuskan punya anak lagi. “Toh waktunya sudah cukup. Ngapain punya anak cuma satu,” kata dia. Si dokter, laki-laki, menyahut. “Iya bu, setidaknya punya anak itu minimal dua lah. Anjuran pemerintah loh.”

Saya diam saja. Saya tidak tersinggung dengan pertanyaan dan pernyataan mereka. Tapi dalam hati saya membatin. “Mengapa mereka harus menganjurkan berapa kali saya harus melahirkan? Memangnya penting bagi mereka kalau saya punya anak hanya satu, dua, atau sepuluh sekalipun?”

Saya teringat dengan seorang dosen saya, almarhumah Syarifah Sabaroeddin. Dalam percakapan di teras rumahnya, 10 tahun lalu, dia mengatakan, “sadari. Tubuhmu dikonstruksikan. Tubuhmu itu ‘milik’ orang-orang, milik masyarakat, bahkan milik negara.” Saya hanya mangut-mangut saja malam itu.

Tubuh yang dimaksud disini bukan tubuh secara biologis saja. Tubuh perempuan, pada akhirnya, bukan semata fakta deterministik. Tubuh perempuan didefinisikan oleh otoritas di luar dirinya. Tubuh perempuan diobjektifikasi oleh sesuatu yang bahkan asing bagi tubuh itu sendiri.

Seorang feminis eksistensialis, Simone de Beauvoir, menyatakan dalam bukunya The Second Sex “One is not born, but rather becomes a women”. Pernyataan Beauvoir ini adalah pernyataan favorit saya. Saya kutip dimana-mana, di blog, Twitter, Facebook, dimanapun agar saya tetap sadar: tubuh semestinya menjadi kuasa saya.

Dalam perspektif Beauvoir, yang kental dipengaruhi oleh Jean-Paul Sartre, perempuan tidak pernah menyadari ketubuhannya sendiri. Pemaknaan perempuan atas tubuhnya dipengaruhi budaya. Budaya laki-laki. Perempuan selalu menjadi objek yang diluar, yang asing dan komplementer bagi lelaki.

Simone menggunakan istilah “the other” atau “liyan” untuk mendefinisikan keterasingan perempuan pada tubuhnya. Kesadaran perempuan atas tubuhnya adalah kesadaran palsu yang dikonstruksi selama berabad-abad. Tak heran, seringkali perempuan merasa aneh dengan tubuhnya sendiri.

Dalam budaya Patriarki tubuh perempuan wajib berfungsi sesuai pemilik kuasa. Rahimnya harus berfungsi untuk reproduksi. Bahkan, lebih fatal lagi, tubuh dan alat kelamin perempuan diobjektifikasikan sebatas identitas seksual saja. Tubuh perempuan adalah sesuatu yang asing, yang tidak ia kenali.

Malangnya, kalau boleh saya katakan demikian, identitas semu ini mendasari perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan membangun relasi. Tubuh tidak dianggap sebagai subjek yang memiliki hak dan identitas independen.

Kacamata Foucauldian juga membantu saya memahami tubuh perempuan adalah korban represi atas seksualitas. Michel Foucault menekankan kekuasaan selalu dipakai untuk mendefinisikan seksualitas sesorang. Represi berlaku mulai dari sistem nilai sosial, doktrin agama dan aturan-aturan yang dibentuk negara.

Pihak ketiga yang saya sebut itu, bahkan, seolah memiliki wewenang penuh untuk membentuk wacana bagaimana seharusnya tubuh diberlakukan. Paling sederhana, lihat saja program Keluarga Berencana yang diterapkan secara sistematis, menggunakan alat-alat negara. Jangan heran bila negara pun abai pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

Dominasi ini tentu mengkhawatirkan. Tetapi, lebih mengkhawatirkan lagi, bila perempuan–si pemilik tubuh–tidak pernah memahami tubuhnya. Gagal memahami tentu membuat perempuan tak bisa berkuasa penuh atas tubuhnya. Perempuan akan merasa dia tidak punya hak bicara atas tubuhnya. Perempuan tidak berani memilih, tidak berani bersikap, tidak berani memutuskan atas segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuhnya.

Sekali lagi saya bertanya, pada siapa perempuan punya kuasa selain atas tubuhnya sendiri?

Referensi :

1.Simone de Beauvoir; The Second Sex, Vintage: 1989.
2.Michel Foucault; The History of Sexuality, Vintage: 1990.