Sejak 12 tahun lalu, ketika saya memutuskan menjadi agnostik, lebih mudah bagi saya mencerna sisi historis-politis peristiwa penyaliban Yesus. Sudut pandang ini hampir tidak pernah mendapat ruang saat saya mencoba menelaah alkitab dan berdiskusi di gereja-gereja.

Orang Kristen percaya, Yesus disalib karena alasan teologis, menebus dosa manusia. Padahal alasannya menurut saya pribadi, politis semata. Yesus dihukum mati — disalib– karena dia mengklaim dirinya Raja Yahudi. Alasan ini terang tercantum di kayu salibnya : INRI. Iesus Nazarenus, Rex Iudaeorum. Yesus orang Nazareth, raja orang Yahudi. Titulus ini sengaja dipasang tentara Pontius Pilatus sekedar olok-olok semata.

Pada masa itu, kekaisaran Romawi memposisikan diri sebagai perwakilan Tuhan di dunia. Kehidupan agama dan politis lebur menjadi satu. Sementara Yesus, dalam pelbagai kotbahnya di Galilea, menyatakan diri perantara kerajaan Allah. Bukankah pernyataannya ini sangat provokatif?

Pengikut Yesus, notabene adalah nelayan, pedagang kecil, petani, penggembala ternak, buruh dan kelas pekerja. Ajarannya mengkritik keras penguasa, elit kelas atas, dan kaum agamawan Yahudi yang menikmati fasilitas. Ada banyak kisah dalam Perjanjian Baru yang menerangkan soal kritiknya itu.

Dalam beberapa kesempatan, Yesus menyatakanlegiun atau orang kuat sebagai sekumpulan setan yang menyebabkan penderitaan rakyat Yahudi. Ini adalah perumpamaan yang dipakai Yesus untuk menyebut penguasa Romawi yang sedang menjajah orang Yahudi pada masa itu. Jelas, dia dianggap mengancam status quo. Gerakan yang digalang Yesus adalah gerakan politis bukan semata gerakan rohani.

Sementara, Yesus hidup dimasa ketika pemberontakan orang Yahudi akan dilibas lebih kejam oleh tentara Romawi. Masa-masa setelah Yesus wafat, ketika pengikutnya dikejar seperti binatang buruan menjadi satu cerita soal kekejaman tentara Romawi.

Beberapa abad sebelumnya, rakyat Palestina memiliki tokoh heroik, pejuang Makkabe. Mereka yakin, tertumpahnya darah akan membuat tanah Palestina terbebaskan dan penjajah akan terusir keluar. Perjuangan berhasil, mereka berhasil mengalahkan Raja Syria Antiokhus IV Epifanes.

Bisa jadi, Yesus juga mengambil teladan dari para pejuang Israel yang mati syahid ini. Bedanya, dia memutuskan menjadi pemberontak yang damai. Artinya, memutuskan berperang tanpa senjata dan tanpa kekerasan. Dia memilih memberikan penyadaran dan pemberdayaan rakyat Yahudi.

Yesus sadar orasinya membawa dampak. Lantas, bagaimana caranya agar gerakannya membawa implikasi politik yang real? Yesus ‘mengorbankan diri’. Alih-alih melawan ketika ditangkap, dia bersikap kooperatif.

Sepekan sebelumnya dia disalib, arak-arakan pendukung Yesus sudah memberikan tekanan kepada pemerintah Romawi saat dia memasuki gerbang kota Yerusalem. Saat itu, bangsa Yahudi sedang merayakan masa Paskah, masa pembebasan Israel dari tanah Mesir. Kedatangan Yesus disambut para imam konservatif Yahudi yang mempengaruhi Pilatus untuk menjatuhi hukuman mati.

Akibatnya, bisa ditebak. Yesus dihukum mati di kayu salib, hukuman paling hina pada zaman itu. Kematiannya memukul pengikutnya. Shock!. Mereka membuat kisah tandingan agar kematiannya tidak menjadi antiklimaks. Selanjutnya, selama 2000 tahun, cerita kebangkitan tubuh Yesus dipercaya jutaan penganutnya.

Dalam Perjanjian Baru, kebangkitan Yesus ini sebetulnya diceritakan beragam dari bermacam sudut pandang. Tidak semua pengikut Yesus menyatakan soal kebangkitan daging. Paulus, misalnya, tidak pernah menyatakan kebangkitan daging dengan pernyataan kubur kosong dan penampakan ragawi Yesus.

Konsep kebangkitan ini sebetulnya sudah dikenal oleh agama-agama pagan pemuja Matahari. Terbit dan tenggelam identik dengan kebangkitan dan kematian. Dewa Horus adalah dewa yang mati lalu bangkit lagi. Belakangan konsep ini diadopsi oleh Kristen. Sunday? itu bukan hari Tuhan, tetapi hari Matahari.

Dialah Yesus yang saya kenal sekarang. Saya tidak lagi memandangnya sosoknya dengan iman bahwa dia tuhan dan juruselamat seperti halnya penganut Kristen evangelikal. Saya ingin mengenal dia sebagai manusia. Ya, manusia seperti saya, manusia seperti Anda. Lelaki dari Nazareth, berusia 33 tahun, seorang pejuang Yahudi revolusioner.

Referensi :

1. Ioanes Rahmat, Memandang Wajah Yesus, 2012

2. ioanesrakhmat.blogspot.com