Kalau boleh, saya ingin mengajukan ada satu pertanyaan mendasar. Menurut iman Katolik, perjalan rohani berakhir pada persatuan antara aku dan Tuhan di surga.

Jadi, di akhir perjalanan masih ada si aku. Sedangkan meditasi tanpa objek justru berdampak pada lenyapnya si aku untuk selanjutnya melebur dengan unknown atau yang Tak-Dikenal. Di akhir perjalanan, tidak ada lagi si aku atau si aku lenyap.

Bagaimana hal ini bisa dipahami secara iman Katolik? Saya pernah ikut meditasi kristiani dengan Rm Sing, perwakilan Rm Laurence Freeman di Indonesia. Dari situ saya melihat meditasi ini masih ada si aku. Tentu saja akhirnya mengarah ke persatuan aku dengan Tuhan yang sesuai dengan iman Katolik.

Kesatuan si aku atau diri (higher self) dengan Tuhan atau mystical union merupakan puncak dari mistik Kristen. Namun menurut pengalaman Bernadette Roberts, seorang Katolik yang hidup di abad 21, pengalaman kesatuan mistik itu barulah separuh perjalanan. Separuh perjalanan yang lain adalah si aku dan Tuhan sama-sama lenyap. Ketika diri dan Tuhan lenyap, kesatuan si aku dengan Tuhannya runtuh, yang ada tinggal “the unknown” (Yang Tak-Dikenal).

Pengalaman Bernadette Roberts merupakan temuan baru bahwa akhir perjalanan bukanlah kesatuan mistik, melainkan berakhirnya diri sekaligus berakhirnya Tuhan yang dialaminya. Pengalaman pasca kesatuan mistik itu tidak ada dalam literatur mistik Kristen.

Mengapa demikian? Ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi para mistik Kristen memiliki pengalaman pasca kesatuan mistik itu tetapi tidak menuliskannya karena berbagai alasan. Bisa jadi mereka mengalami tetapi tidak melihat pengalaman itu sebagai pengalaman yang pada hakekatnya berbeda. Bisa juga terjadi bahwa mereka mengalaminya, tetapi sengaja menyembunyikannya karena alasan menghindari risiko represi dari otoritas Gereja saat itu.

Terang pemahaman awal tentang kontemplasi atau meditasi Kristen bisa ditemukan pada tulisan-tulisan Yohanes Casianus, salah satu rahib padang gurun, pada abad ke-4. Kemudian pada paruh kedua abad ke-13, Meister Echart, seorang Rahib Dominikan, lebih tegas berbicara tentang arti pentingnya pengosongan diri atau ketidakmelekatan untuk mengalami Allah mistikal atau Inti Keallahan.

Pada paruh kedua abad ke-14, muncul buku The Cloud of Unknowing oleh seorang pengarang anonym yang banyak dipengaruhi oleh tradisi mistik Pseudo-Dionysius. Tradisi mistik dengan mengambil “jalan negativa” ini menjadi inspirasi para mistik generasi berikutnya seperti John Scotus Erigena, Nicholas Cusa, Yohanes Salib, Teilhard de Chardin.

Pada abad ke-20, muncul meditasi “Centering prayer” yang dikembangkan sejak tahun 1970-an oleh Thomas Keating, seorang rahib Trappist, bersama dengan dua orang Trappist lainnya, William Menninger dan Basil Pennington. “Centering prayer” ini juga merupakan pengembangan dari ide-ide dalam The Cloud of Unknowing. Teknik meditasi “centering prayer”, seperti meditasi kebanyakan, masih berfokus pada objek tertentu. Objek “centering prayer” adalah mantra atau kata-kata pendek, seperti “Maranatha”, “Jesus”, “Allah”, “Abba”, “Shalom”, “Roh”, “Kasih”, dan seterusnya.

Meditasi tanpa objek adalah meditasi yang tidak dilandasi oleh doktrin dan tujuan tertentu. Justru karena bebas doktrin atau bebas tujuan menurut doktrin tertentu, maka meditasi tanpa objek menurut hemat saya merupakan meditasi yang murni. Selama orang Katolik/Kristen atau monoteis masih berpegang pada doktrin, maka apa yang sungguh-sungguh ingin dicarinya justru tidak akan ditemukan.

Hambatan terbesar kaum monoteis untuk sampai mengalami Inti Keallahan (The Godhead) adalah konsep atau doktrin tentang iman atau Allahnya. Sama halnya dengan seorang Buddhist tidak mungkin mengalami pembebasan diri selama masih memegang doktrin anattā (tanpa-diri).

Pada akhir perjalanan itu, semua akan lenyap. Bahasa manusia atau bahasa malaikat, karunia untuk bernubuat, bahasa roh, segala pengetahuan, bahkan iman yang sempurna sekalipun semuanya akan lenyap (Bdk. 1 Korintus 13:1-2, 8). Tidak ada lagi si aku, keluargaku, bangsaku, agamaku, Allahku, Bapaku, Jesusku, Roh kudusku. Pada akhirnya semua doktrin, konsep, pengetahuan iman lenyap. Semua pengalaman pemurnian, kencerahan, penyatuhan dengan Tuhan akhirnya runtuh.

Ketika si aku yang adalah pengalaman, pengetahuan, doktrin, iman, dan seterusnya itu lenyap, maka yang tinggal adalah Inti Keallahan, Yang Tak-Dikenal, Kasih, atau Sesuatu Yang Lain. Semua pengetahuan tidak lengkap. Selama apa yang tidak sempurna masih ada, apa yang sempurna tidak ada. Selama si aku masih ada, Allah tidak ada. Meditasi yang murni justru langsung membawa orang untuk mengalami akhir perjalanan itu.

Akhir perjalanan itu tidak ditemukan dalam waktu sebagai hasil pergulatan panjang oleh si aku, melainkan terlahir setiap saat ketika si aku lenyap. Kalau Anda sungguh-sungguh ingin mencari kebenaran, janganlah berpegang pada doktrin tentang kebenaran, tetapi lepaskan semua doktrin tentang kebenaran. Kebenaran iman yang sejati terlahir ketika kebenaran iman intelektual runtuh seluruhnya.*

* Tulisan ini saya kutip dari tulisan Romo Sudrijanta, Titik Hening: Meditasi Tanpa Objek, 2012. Buku bisa didownload gratis di Meditasi Mengenal Diri