Tentang Cat, Aerosol dan Kritik Sosial
Foto: Clara Prima/Opini.id

Kampret Syndicate memakai stensil untuk menyampaikan kritik sosial dan politik di ruang publik. Mereka menolak menjadi seniman galeri dan memilih tembok jalanan sebagai kanvas. Sudut-sudut kota adalah galeri, tak terbatas ruang dan aturan. Kali ini mereka mencoretkan wajah Munir dalam goresan cat aerosol, untuk menolak lupa.
Adalah Iwan Ismael, seorang seniman stensil asal Medan yang menggagas Kampret Syndicate. Kelompok ini bermarkas di Bandung. Nama Kampret dipilih tidak sembarangan. “Kampret adalah binatang yang muncul di keheningan malam. Datang dalam diam dengan sorot mata tajam. Kampret juga mewakili umpatan kemarahan,” kata Iwan Ismael, pada pertengahan Agustus 2016.

Iwan mengasuh belasan anak-anak muda usia 20-an tahun. Nama Syndicate berarti sebuah kelompok tanpa ikatan. Siapapun, kata dia, bisa masuk dalam sindikatnya. “Saya tidak mau mengikat mereka dalam kelompok. Mereka entitas yang bebas. Bebas dalam berkarya.”

Gaya stensil mempengaruhi Iwan sejak sekolah menengah pertama. Alasannya, membuat stensil itu cepat dan mudah direproduksi. Tetapi dia punya alasan lain yang lebih filosofis. Bagi dia membuat stensil seperti masuk ke dalam ruang hening. Ibarat meditasi.

Ketika sebagian seniman menjadikan galeri sebagai media eksistensi, tidak demikian dengan Iwan dan kawan-kawan. Stensil jalanan bagi mereka adalah bentuk perlawanan. “Kami melawan mereka yang sudah nyaman pameran dalam galeri Fine Art. Konflik besar saya adalah orang-orang yang eksis seperti itu. Semacam dia bikin sesuatu lalu show off dan pamer.”

Stensil yang awalnya diadopsi sebagai cara gampang membuat karya massal, perannya kemudian berubah. Seni stensil menjadi lebih kompleks, rumit dan kuat. Stensil tidak lagi soal menduplikasi mural dengan menggunakan cat dan aerosol. Stensil adalah alat penyampai pesan lewat bahasa visual.

Sejak kemunculannya, stensil art akhirnya banyak digunakan oleh seniman jalanan untuk menyampaikan kritik pedas soal kondisi sosial dan politik. Seperti halnya Buenos Aires pada pertengahan 1920-an, Iwan juga ingin menjadikan Bandung sebagai galeri jalanan. Ruang berisi karya yang mengganggu siapapun penikmatnya. Mulai dari tukang sapu jalan sampai pejabat pemerintahan.

Usahanya berhasil. Stensil Malala Yousafzai, perempuan muda yang ditembak Taliban, sempat membuat gerah sejumlah ormas pro-Taliban di Bandung. Demikian juga karya berjudul “Taman Kencing Berdiri.” Stensil bergambar orang sedang buang air kecil itu dibuat untuk mengkritik Pemkot Bandung. “Mereka membuat taman tapi gak membuat sarana toilet. Kita disuruh pipis berdiri, gitu?” Gara-gara itu, ia sempat diundang pejabat kota makan siang. Tapi ia tidak datang.

Selama bertahun-tahun, stensil, grafiti dan mural sudah menjadi subkultur di seluruh dunia. Kelompok yang ditolak masyarakat arus utama karena sebagian orang menganggapnya vandalisme bukan seni. Iwan mengakui itu. “Ini memang vandal. Rasa takut ketika saya berkarya juga tetap ada.”

Tapi tidak penting lagi memperdebatkan apakah ini vandalisme atau seni. Sebab satu hal yang menjadi tolak ukur keberhasilan bukan soal apakah karyanya dipuji kurator atau dihapus Satpol PP. “Yang penting gambarnya kena. Terus besok responnya berisik. Itu artinya orang merasa terganggu.”

Berpendapat dengan cat dan aerosol? Kenapa tidak?