“Ditato sakit gak?” Ini pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Jelas saja sakit. Siapa yang rela membiarkan tubuhnya ditusuk-tusuk dengan jarum bermata tiga belas selama enam jam? Belum lagi proses perawatan pascatato yang luar biasa rumit. Memiliki tato baru sama seperti memiliki seorang bayi. Harus sangat telaten. Salah sedikit, resiko kesehatan mengancam. Tapi merajah tubuh bukan cuma sekedar bermain-main dengan adrenalin atau keinginan berdamai dengan rasa sakit.

Lalu kenapa saya nekat? Keputusan merajah tubuh bukan keputusan membabi buta. Yah, meski harus saya akui ada momentum romantisme yang membuat saya menghubungi seorang teman pada tengah malam untuk mencari seorang tato artis. Tapi keinginan ini sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Pertimbangan yang matang dengan mengukur faktor konsekuensi dan resikonya.

Konsekuensi di sini berarti saya siap menerima stigma bahwa perempuan bertato adalah perempuan tidak benar. Perempuan yang menyimpang. Coba saya tanya, apa yang ada di benakmu ketika melihat perempuan bertato naga? Nakal? Binal? Pemberontak? Mantan narapidana? Laki-laki bertato saja sudah pasti diberi stempel di jidat, apalagi perempuan.

Justru ini yang membuat saya berani mengambil sikap. Saya tidak lagi hidup berdasarkan penilaian-penilaian orang lain. Saya juga punya alasan lebih dari sekedar pamer ketika memutuskan merajah tubuh dengan naga. Tidak sembarang orang bisa melihat tato ini meski gambarnya saya unggah di media sosial. Bahkan, bos saya sendiri saya tolak mentah-mentah ketika dia meminta saya memperlihatkan rajah yang baru dua hari dibuat.

Tato Perempuan dalam Sejarah

Rajah sudah menghiasi tubuh perempuan sejak ribuan tahun lampau. Bukti arkeologi berupa patung-patung manusia yang diukir menunjukkan bahwa tato dipraktekkan sejak 3.500 tahun yang lalu di Kutub Utara. Perempuan-perempuan Eskimo didapati merajah tubuh mereka pada bagian wajah. Tato juga ditemui pada perempuan-perempuan di Mesir dan Yunani. Rajah juga menjadi bagian kebudayaan tua di Nusantara, seperti tato pada perempuan Mentawai dan Dayak.

Desain dan alasan di balik tato bervariasi dari budaya ke budaya. Tato dibuat sebagai tujuan spritual sebagai jembatan antara manusia dan roh sehingga hanya boleh dimiliki oleh orang-orang dengan kemampuan spritual tertentu (dukun), menunjukkan kelas dan status sosial, menunjukkan peralihan fase kehidupan dari kanak menjadi dewasa, atau menunjukkan keanggotaan individu pada suatu suku tertentu.

Yang menarik perhatian saya justru ketika ada perempuan dari era Victoria yang bertato. Pada masa itu, tubuh perempuan dikonstruksi sedemikian rupa karena tuntutan agama Katolik dan Protestan. Tapi, ternyata, ada juga perempuan yang “keluar” dari pakem dan berani merajah tubuhnya di tengah tekanan gereja dan komunitas agama yang luar biasa. Bagi saya, ini perempuan-perempuan subversif!

Margot Mifflin dalam “Bodies of Subversion: A Secret History of Women and Tattoo” menunjukkan sejumlah fakta bahwa ada juga perempuan yang merajah tubuhnya di era ini. Salah satunya adalah Olive Oatman, perempuan kaukasian pertama di Amerika Serikat diketahui memiliki tato. Keluarga Oatman dibunuh oleh suku Indian Yavapais pada abad ke-18. Lalu dia diadopsi oleh Indian Mohave yang kemudian merajah tubuh Oatman dengan motif tradisional. Ketika dia kembali ke komunitasnya, dia menjadi selebriti dan fotonya diabadikan pada 1858.

Lalu ada Nora Hildebrandt yang menarik perhatian masyarakat Amerika pada akhir abad 18. Hildebrandt mengklaim telah ditato secara paksa oleh kelompok suku Indian. Nyatanya dia ditato oleh ayahnya sendiri, Martin Hildebrandt, salah satu tato artis pertama di New York. Nora, yang lahir tahun 1850, memamerkan tatonya kepada publik pada 1883. Tubuhnya ditutupi dengan tinta tato mulai dari leher hingga kaki. Tak kurang ada 365 desain tato di seluruh tubuhnya. Dia berkeliling dengan Barnum & Bailey Circus dan menerima bayaran dari “pameran” tatonya.

Berbagai kebudayaan di dunia memiliki intrepretasi yang berbeda terhadap tato. Ketika di Cina tato identik dengan penjahat, maka di Filipina tato adalah keindahan. Perempuan bertato juga bukan hal aneh lagi belakangan. Sayangnya, ketika tato menjadi biasa, stigma negatif tak ikut memudar. Modifikasi tubuh yang dilarang keras oleh agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat melarang tinta melekat selamanya pada tubuh manusia, apalagi perempuan.

Tato dan Klaim atas Tubuh Perempuan

Ketika sebagian pecinta tato menilai tato adalah seni, saya melihat tato adalah pilihan politik atas tubuh. Tato pada tubuh adalah statement politik. Klaim atas tubuh saya. Sepertinya berat sekali ya pernyataan ini? Ya memang. Tato pada tubuh perempuan jarang sekali menjadi isu yang diperdebatkan beramai-ramai di gedung legislatif seperti halnya akses terhadap kesehatan dan hak reproduksi. Tapi ini bukan berarti perempuan tidak bisa mengambil pilihan dan membuat keputusan atas tubuhnya sendiri.

Apa hubungannya dengan politik? Istilah Politik Tubuh pertama kali dipakai awal 1970-an pada era gerakan feminis gelombang kedua di Amerika Serikat. Kala itu perdebatan tentang aborsi mencuat. Sudut pandang politik tubuh dipakai untuk melawan objektifikasi tubuh perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan kampanye hak-hak reproduksi perempuan.

Frase yang banyak dipakai adalah “Personal is Political” yang diperkenalkan oleh Feminis radikal Carol Hanisch. Dia menekankan perjuangan perempuan mendapatkan hak atas tubuhnya dalam ranah domestik – termasuk dalam hal seksualitas – berkaitan erat dengan keberhasilan perempuan mendapatkan haknya dalam ranah publik. Kesadaran perempuan atas tubuhnya sendiri adalah hal yang sangat fundamental. Politik tubuh menekankan pada kekuasaan dan otoritas perempuan atas tubuhnya.

Belakangan, pada era feminis gelombang ketiga, politik tubuh tidak hanya dipakai terbatas untuk memecah kebisuan perempuan atas isu-isu aborsi dan perkosaan. Tetapi juga pada pilihan-pilihan sadar perempuan atas tubuh dan seksualitasnya. Termasuk pilihan orientasi seksual, operasi ganti kelamin, tato dan body piercing.

Penilaian perempuan atas tubuhnya selama ini ditentukan oleh masyarakat. Perempuan – sadar atau tidak – tidak punya kebebasan memilih. Seperti yang ditulis Mifflin dalam pengantar bukunya, tato memang semakin menarik perhatian perempuan sebagai lambang pemberdayaan. Tato ibarat lencana keberanian perempuan menentukan nasib di tengah kontroversi tentang hak-hak aborsi, perkosaan dan pelecehan seksual. Tiga isu tentang tubuh yang seringkali membuat kita bertanya, “siapa yang mengontrol tubuh perempuan?”

Banyak feminis yang memilih berpakaian ala laki-laki; ogah memakai kosmetik karena dianggap membuat perempuan terjebak dengan keinginan memuaskan laki-laki; dan menyamakan dirinya dengan laki-laki. Tapi, politik tubuh lebih dari itu. Perempuan diberi kebebasan penuh untuk memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Perdebatan tentang politik tubuh muncul ketika, misalnya, ketika perempuan memutuskan melakukan operasi plastik demi estetika. Apakah keinginan itu atas kesadarannya atas tubuh atau untuk menyenangkan hasrat laki-laki?

Saya sendiri berpendapat, ketika keputusan perempuan dibuat atas pilihan sadar, apapun alasannya, disitulah perempuan menjadi berdaya. Sebetulnya, perempuan, membuat pilihan atas tubuhmu sendiri bisa dilakukan dari hal-hal sederhana. Tidak harus merelakan diri ditusuk-tusuk jarum selama berjam-jam. Sejauh itu keputusan itu diambil atas kesadaranmu, kebutuhanmu, dan keinginanmu; bebaskan dirimu. Saya memilih merajah tubuh dengan rajah seekor naga karena kecintaan pada seorang bocah bernama Nagasena.

Ah, saya bahkan sudah jatuh cinta pada tato naga ini bahkan sebelum tintanya melekat pada kulit saya. Tato adalah komitmen seumur hidup. Kesetiaannya melebihi kesetiaan seorang kekasih. Hanya tato yang rela menemanimu hingga liang lahat nanti, bukan?


Bahan bacaan:

A Secret History of Women and Tattoo – The New Yorker

Carol Hanisch – Wikipedia, the free encyclopedia

Feminism 101: The Personal is Political | Mind the Gap

NORA HILDEBRANDT – The First Tattooed Lady – Circus Freaks and Human Oddites