Praktek sunat perempuan sepertinya sudah menjadi ritual usang seiring perkembangan zaman. Namun, ironis, mutilasi genital masih ditemukan di kota modern ini. Kali ini, korbannya adalah dua bocah perempuan berusia enam dan tujuh tahun.

Pemerintah negara bagian New South Wales, Australia sudah melarang praktek sunat perempuan sejak tahun 1994. Namun, pekan lalu, empat orang dituntut karena melakukan praktek mutilasi genital pada dua anak perempuan ini.

Kepolisian setempat menyatakan meski praktik ini diterima dalam sebagian budaya, hal ini masih ilegal di Australia. “Praktik ini adalah bagian dari kepercayaan budaya di negara lain, tetapi saya tekankan kalau di Australia ini adalah pelanggaran,” kepala unit kejahatan seksual, John Kerlatec seperti dikutip Asia Calling.

Empat orang menjadi terdakwa. Salah satunya Sheikh Shabbir Vaziri, 56, seorang pemimpin kelompok agama asal Pakistan. Polisi juga menangkap dan menuntut seorang mantan perawat berusia 68 tahun yang diduga menyunat bocah-bocah itu. Seorang laki-laki berusia 42 tahun serta perempuan berusia 35 tahun juga sudah ditangkap.

Kerlatec menegaskan prosedur sirkumsisi ini tetap ilegal meskipun dilakukan sesuai standar medis yang memadai. “Prosedur ini terjadi di daerah metropolitan Sydney. Saya yakin praktik tersebut dilakukan dalam kondisi medis tertentu,” kata dia.

Sungguh ironis praktek kontrol terhadap tubuh perempuan ini ditemukan di Australia. Menteri Layanan Masyarakat Pru Goward menuturkan ini adalah kali pertama seseorang dituntut melakukan mutilasi alat kelamin di New South Wales.

Tapi, Pru menambahkan, pemerintah bertekad untuk meneruskan kasus ini, meski prosesnya kemungkinan bakal sulit. “Kadang polisi sangat kesulitan mengumpulkan bukti-bukti yang memadai, karena praktik ini dilakukan secara diam-diam.”

Ia juga khawatir masih ada banyak kasus lainnya. “Sepertinya ini bukan kasus satu-satunya,” kata Goward. Itu sebabnya, hukum mutilasi genital perempuan diubah pada 1994.

Pemerintah negara bagian menyadari kemungkinan meluasnya praktek ilegal ini sejak bertahun-tahun lalu. “Sayang sekali, baru ada kasus dengan bukti memadai sehingga kami bisa menuntut dan menangkap para tersangka.”

Aziza Abdel-Halimm presiden Jaringan Perempuan Muslim Nasional mengatakan selama beberapa tahun organisasinya membuat satu program bersama Komisi Urusan Etnis. Tugas mereka mendidik para perempuan dari beberapa negara Afrika dan Amerika Selatan.

Wilayah ini masih memperbolehkan praktik sunat dilakukan pada anak-anak perempuan muda. “Kami pikir ini efektif, tapi saya tidak tahu dengan orang-orang dari negara-negara lainnya yang baru tiba di sini,” kata Aziza.

Merugikan Perempuan

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa antara 100 sampai 140 juta anak perempuan dan perempuan menjadi korban sunat. Malangnya, para perempuan ini harus hidup dengan konsekuensi menahun akibat pemotongan alat kelamin itu.

Menurut Dr. Deborah Bateson Direktur Medis dan Keluarga Berencana NSW seperti dimuat The Age, mutilasi alat kelamin perempuan atau sunat perempuan mengacu pada praktek pengangkatan sebagian atau seluruh alat kelamin eksternal perempuan untuk alasan non-medis.

Sunat perempuan terbagi tiga jenis utama. Tipe pertama mengacu pada penghapusan atau seluruh klitoris dan/atau ujung klitoris yang disebut kulit preputium. Tipe kedua adalah penghapusan sebagian atau seluruh klitoris dan labia minira dengan atau tanpa pemotongan labia majora.

Tipe ketiga adalah infibulasi yaitu penyempitan lubang vagina bersamaan dengan membuat segel pembungkus. Caranya dengan menghilangkan atau menjahit labia majora dan atau labia minora sehingga hanya tersisa lubang sebesar pensil untuk kencing dan haid.

Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan segala jenis sunat perempuan meningkatkan risiko kematian bayi (15 persen untuk Tipe I, 32 persen untuk Tipe II dan 55 persen untuk Tipe III).

Wanita yang menjalani infibulasi juga berisiko melahirkan secara caesar sebesar 30 persen serta mengalami pendarahan pasca melahirkan hingga 70 persen, lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak menjalani sunat perempuan.

Bateson menegaskan sunat perempuan tidak memiliki manfaat medis. Beragam masalah akan muncul seperti jaringan parut, nyeri kronis, kesulitan seksual, masalah menstruasi, kencing, dan komplikasi termasuk persalinan macet. Akibat paling fatal adalah infeksi, pendarahan bahkan kematian.

Kasus sunat perempuan di Australia, kata dia, kebanyakan ditemukan pada perempuan-perempuan asal Afrika Timur, Asia dan Timur Tengah. “Para perempuan ini memiliki keberanian mengunjungi klinik kami untuk konsultasi soal kehamilan, masalah seksual dan nyeri genital,” kata dia.

Operasi Vagina 

Di ujung spektrum lain, ketika sunat perempuan dikritik, permintaan operasi vagina atau labiaplasty juga meroket. “Kami juga melihat peningkatan jumlah perempuan yang meminta rujukan bedah pada alat kelamin untuk alasan non-medis,” kata Bateson.

Labiaplasty atau operasi pada labia meningkat di Australia seperti di Inggris dan Amerika. Dalam beberapa kasus, secara medis dibenarkan. Namun sebagian besar perempuan—tua dan muda—meminta operasi hanya karena cemas pada penampilan labia mereka.

Terkadang alasannya terdengar sederhana yaitu demi penerimaan pasangan. Alasan lain yang sering terungkap adalah kenikmatan seksual.

Padahal kesadaran dan penerimaan akan perbedaan bentuk kelamin akibat usia sangat penting. Perempuan perlu menyadari bahwa semua prosedur bedah memiliki konsekuensi. Antara lain infeksi, kerusakan syaraf dan jaringan parut.

Faktor resiko dan manfaat harus ditimbang hati-hati. Bateson mengatakan tindakan menghiasi labia dengan berlian, cincin emas atau beragam operasi plastik vagina bisa saja memberi gairah dan kenikmatan seksual. Tetapi, bisa juga tidak.

Perempuan hidup dalam dunia yang kompleks dengan standar yang ditetapkan masyarakat. Sebagian perempuan memiliki pilihan sementara perempuan lain tidak.

Ada perbedaan antara tindak pidana mutilasi paksa alat kelamin anak perempuan dengan wanita dewasa yang memodifikasi labia demi kenikmatan. Namun kedua praktek itu berakar pada konsep bahwa seksualitas perempuan harus kompromis terhadap standar masyarakat yang tidak masuk akal.

Padahal, sebagai perempuan, kita harus memastikan pilihan yang tepat untuk diri sendiri dan anak perempuan kita.

Asia Calling | Ninin Damayanti

Sumber: Lingkar Berita