Seandainya bisa kuhitung, entah sudah berapa ribu orang kujumpai. Apakah itu kau yang dulu pernah duduk di hadapanku. Lalu kita berbincang tentang banyak hal sambil menyeruput secangkir cappucino panas. Atau bersama mereka yang saling bertukar keringat dalam sesaknya kereta pagi menuju Jakarta.

Adakah yang benar-benar melekat bagimu? Karena bagiku kini tidak lagi.

Kalaupun ada yang tertinggal, aku bilang itu bukan rindu. Tetapi kenangan akan masa lalu yang masih bersemayam dalam pikiranku.

Mengembalikan kesadaran memang tidak mudah. Tapi itulah yang sedang kulakukan sekarang. Seperti berkali-kali kubilang, aku tak hidup di masa lalu juga tak mau menuntut masa depan.

Aku adalah perempuan yang hanya ingin menikmati setiap momen. Saat ini. Detik ini. Tak ingin kehilangan sekejap saja. Karena perjumpaan dengan manusia-manusia itu tidak akan pernah terulang dalam satu momen yang persis sama.

Bagiku, terpenting adalah mereka yang kujumpai dalam setiap persinggahanku. Entah dia adalah seorang penjaga pintu kereta, sopir bus antar kota, seorang ibu tua yang bingung mencari suaminya, atau sekelompok remaja yang kini duduk bergerombol menikmati kopi di sudut gedung tua ini. Aku adalah bagian dari mereka dan mereka adalah bagian dari diriku.

Aku tidak ingin ketika aku tua nanti, ada penyesalan yang tersisa. Apakah aku telah benar-benar menikmati hidup? Bagaimana aku bisa menjawabnya, bila saat duduk menyeruput kopi ini saja diriku tak pernah benar-benar hadir disini.

Cikini, 26 Juli 2014