Momen tidak terlupakan datang di penghujung tahun 1960. Waktu itu Titiek masih menjadi penyanyi honorer di RRI. Sumarti (nama asli Titiek Puspa), gadis desa asal Semarang, mendadak mendapat tawaran istimewa: audisi menyanyi di Istana Negara. Penyanyi Gordon Tobing lah yang memberinya kesempatan emas itu. Hati Titiek bungah sekaligus deg-degan tidak karuan.

Bagaimana tidak? Bung Karno adalah orang yang memiliki karisma luar biasa. Tidak pernah terpikir dalam benaknya akan menyanyi di hadapan orang nomor satu di negeri ini. Saking groginya, dia sempat menolak tawaran Gordon. Tetapi Gordon segera menunjukkan surat undangan dari Istana Negara. “Dia benar, saya diminta datang,” katanya.

Titiek, yang sedang hobi meniru gaya pakaian Marilyn Monroe, memilih memakai kebaya Jawa hari itu. Kain ia bebat rapi. Selendang disampirkan di bahu. Sempurna. Tetapi penampilan apik ternyata tidak mampu melenyapkan kecemasannya. Kaki Titiek lemas. Tangannya gemetaran. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Bung Karno.

Bung Karno berbicara dalam bahasa Jawa, “Oh, ini tho Titiek Puspa? Katanya pintar menyanyi. Ya sudah, menyanyi sana,” kata Bung Karno sambil menyalami tangan Titiek. Sore itu, ia melanutkan tembang Kasih Di Antara Remaja, tembang andalannya. “Oh.. apik tenan,” kata dia.

Bernyanyi di depan Bung Karno ternyata tidak mudah. Bung Karno anti musik Barat. Suatu hari di tahun 1963, Titiek didaulat menyanyi lagi. Pada masa itu, lagu dengan irama beat sedang menanjak. Titiek, yang gandrung dengan The Beatles, menciptakan lagu Marilah Kemari. Sambil menunggu Bung Karno datang, Tieik diminta menyanyikan lagu itu oleh para undangan.

Ternyata, Bapak mendengar. Dia marah. “Ini siapa yang menyuruh! Pasti ini ada yang menyuruh! Kowe yo?,” kata Bung Karno menunjuk Martadinata yang waktu itu menjadi penanggungjawab acara. “Sudah dibilang gak boleh nyanyi lagu ngik ngok!”. Ngik ngok adalah julukan Bung Karno untuk lagu-lagu Barat. “Untung, bukan saya yang dimarahi, tapi Martadinata,” kata Titiek.

Akhirnya lagu diganti. Mereka menyanyi lagu Mari Kita Bergembira yang lebih mendayu. “Aduh, waktu itu saya lemas sekali. Bapak marah karena lagu itu seperti meniru lagu Amerika,” katanya. Padahal Bung Karno anti-Amerika dan sedang kampanye Go to Hell America!.

Tidak terhitung berapa kali Titiek bernyanyi di Istana. Soal honor, dia lupa besarnya. Yang pasti, setiap ada tamu negara, Titiek dipanggil menyanyi. Pengalaman menjadi penyanyi Istana membuka matanya pada dunia. Itulah pertama kalinya dia pergi ke luar negeri.

Suatu kali, Titiek bersama Nien Lesmana (Ibunda Indra Lesmana), Idris Sardi, Bubi Chen, Teti Mustafa, Edi Sud dan lain-lain, dibawa rombongan Istana ke luar negeri. Bung Karno melakukan kunjungan kenegaraan selama 40 hari ke beberapa negara. Ikut tur kenegaraan bersama bung Karno tidak bisa sembarang berpakaian. Rombongan perempuan harus memakai kebaya. Untung Titiek masih muda. Dia nyaman saja memakai kain yang diwiru dan kebaya kutu baru. Pergi ke Jepang, Belanda, Budapest, Hongkong, Prancis tetap berkebaya.

Di Prancis, kedatangan rombongan berbarengan dengan konser The Beatles. Senangnya bukan kepalang. “Kami lihat jadwal, malam itu Bung Karno tidak ada acara,” katanya. Kesempatan menonton konser pun datang. Titiek dan teman-teman membeli tiket seharga US$ 6. Uang saku perjalanan sampai terkuras habis.

Titiek berdandan necis. Eh, satu jam sebelum berangkat, dikabari protokoler. Bung Karno menerima tamu pukul 7 malam. Musisi dan penyanyi harus segera bersiap. Lemas. Pupus sudah harapan bertemu John Lennon dan kawan-kawan. Akhirnya, semua musisi dan penyanyi, laki-laki dan perempuan, menangis sejadi-jadinya. “Seperti mau mati rasanya malam itu,” kata Titiek.

Titiek puspa 3
Photo by unknown

Bagi Titiek, Bung Karno itu seperti bapaknya. “Sayang, waktu Bung Karno sakit, saya tidak bisa menjenguk. Mana boleh,” katanya. Titiek juga dekat dengan Ibu Fatmawati. “Bu Fat suka sekali dengan lagu saya, Mama, yang saya ciptakan untuk ibu saya.”

Tetapi Titiek lebih dekat dengan Ibu Tien Soeharto. Ya, kami bersahabat. Awal Titiek dekat dengan Bu Tien ketika dia bersama beberapa artis bertandang ke Cendana. Titiek yang senang guyon, rupanya membuat Bu Tien kepincut. “Dia senang sama saya karena membuatnya tertawa lepas.”

Saat Titiek pamit pulang, tiba-tiba tangannya digamit Bu Tien. “Tiek, kamu mbok disini dulu,” kata Bu Tien. Titiek bertanya-tanya. Ternyata, Bu Tien hanya ingin mendengarnya bercerita lagi. Titiek diajak ke kamar Bu Tien. Akhirnya, siang itu, Titiek sibuk mengoceh demi membuat Bu Tien terhibur.

Apa saja ia ceritakan. Mendengar kisah Titiek, Bu Tien terpingkal-pingkal sampai keluar air mata. Bahkan sampai menggelosor di lantai saking gelinya. Entah apa yang membuat saya tampak begitu lucu di mata Bu Tien. Ajudan mengetuk berkali-kali tidak digubris mereka.

Mengko sek!” Protokoler masuk mengingatkan waktu, malah dimarahi Bu Tien. “Nek mengko ya mengko!”

Waktu Titiek pamit pulang, Bu Tien bilang, “Sering dolan mrene yo, Tiek.”

Sejak itu, Titiek sering mengunjungi Bu Tien. Dia selalu bercerita apa saja dan menunjukkan apa saja. Ya patung, ya koleksi-koleksi yang disimpan di kamarnya. “Tiek, tak duduhi ki lho ono patung apik .” Pernah juga waktu show di TMII, Titiek diajak nonton film 3 Dimensi di Keong Mas. “Saya takut. Lha, Bu Tien ini Ibu Negara,” kata Titiek. Tapi Bu Tien meyakinkan Titiek, “ora opo opo.”

Titiek memang dekat sekali dengan Bu Tien. “Waktu Beliau meninggal, saya sangat terpukul. Sedih sekali. Dia sudah menganggap saya seperti anak sekaligus sahabatnya,” katanya. Tapi Titiek rupanya tidak pernah memanfaatkan kedekatan itu. “Saya tulus saja. Saya tidak mau merusak persahabatan itu dengan kepentingan macam-macam,” kata Titiek. Pernah suatu kali, Bu Tien bilang, “pengen gawean opo tak paringi.” Setelah dibilang begitu, malah saya jarang kesana.

Seorang Titiek tahu kedekatannya dengan Istana sangat beresiko. Dia tidak mau kejadian tahun 1964 terulang. Waktu itu, dia membeli mobil bekas dari seorang menteri masa itu, Yusuf Muda Dalam. “Saya membayarnya mencicil dua kali. Eh, saya dibilang gundiknya, simpenannya. Saya dituding menjual diri. Padahal demi Allah, mobil itu saya bayar, meski baru separuh,” katanya. Titiek sampai dibawa ke Mahkamah Militer Luar Biasa menjadi terdakwa. Di pengadilan, orang tertawa menghina. “Tetapi Tuhan tahu saya benar,” katanya. Tuduhan simpanan orang pada masa Bung Karno itu pelajaran berharga. Jangan ada urusan dengan mereka karena bisa berbuntut jelek.

Titiek juga sempat dipandang miring saat ia menciptakan lagu untuk Pak Harto. Waktu itu Edi Sud menyuruhnya membuat lagu untuk acara ulang tahun Golkar. Supaya gampang, Edi Sud mengusulkan Titiek mendaur ulang lagu orang saja. Hanya liriknya yang diganti. Titiek marah. “Lagu untuk Presiden kol hanya lagu daur ulang,” katanya.

Akhirnya Titiek mendapat inspirasi. Dia menonton tayangan TVRI. Pak Harto sedang memberi bantuan beras yang sangat banyak bagi penduduk Ethiopia yang kelaparan. Sebetulnya Indonesia sedang dituding Bol Geldof, musisi asal Inggris, membajak lagu kemanusiaan ciptaannya untuk Ethiopia. Tayangan itu membuka benak saya.

Seketika, dengan coret-coretan di atas kertas, dia membuat lagu. Melodi dan syair mengalir lancar. Hanya seperempat jam! Titiek menelepon Edi Sud, “Lagunya sudah jadi.” Judulnya Bapak Pembangunan. Ketika lagu itu tuntas dinyanyikan, Pak Harto mendekati saya. “Makasih, Tiek. Lagune apik,” kata Pak Harto sambil meneteskan air mata. Dia menangis.

“Meski saya selalu dekat dengan Istana, saya tidak pernah memanfaatkan itu. Saya ini tidak mengerti urusan politik. Saya hanya menyanyi,” kata Titiek.

*Tulisan dimuat di rubrik Memoar Majalah Tempo 2011, diedit ulang.