Tidak ada yang lebih melenakan selain menikmati sepiring besar udang rebus bumbu Thai, bir dingin, ditemani keramahan penjual pasar malam di Hua Hin. Kota nelayan modern di pesisir selatan Thailand ini sudah membuat saya jatuh cinta.

Ini adalah kali kedua saya mendatangi kota ini. Hua Hin adalah kota peristirahatan di Provinsi Prachuap Khiri Khan. Jaraknya kurang lebih 200 kilometer dari Bangkok atau sekitar 4 jam perjalanan menggunakan minibus. Dari Bangkok, saya memilih menggunakan travel yang bisa disewa perorangan atau rombongan.

Tidak seperti Phuket atau Pattaya dengan tawaran wisata erotisnya, Hua Hin jauh dari hiruk pikuk kehidupan malam. Kota ini sebelumnya dikenal dengan nama Ban Samoe Rieng atau Ban Laem Hin atau desa berbatu yang berada di ujung. Namun, sejak Raja Rama VII membangun akses jalan dan kereta api, Hua Hin berganti wajah dari desa nelayan menjadi kota peristirahatan keluarga bangsawan.

Raja Thailand memilih Hua Hin sebagai kota peristirahatan keluarga kerajaan sejak 70 tahun lalu. Ada beberapa istana tempat tinggal raja dan keluarga kerajaan berlibur disini. Selain Istana Klai Kangwon, masih ada istana musim panas lain, yaitu Istana Mrigadayavan yang berlokasi di pantai Bang Kra, antara Cha am dan Hua Hin.

Hua Hin adalah pelabuhan kecil dengan pantai landai yang dikelilingi perbukitan. Meski kota kecil, bukan berarti Hua Hin “terbelakang” dibanding kota pantai lain di Thailand. Hua Hin sangat modern. Hotel bertaraf internasional berjajar di sepanjang pantai. Sebagian besar hotel menawarkan pantai privat dengan pasir putih yang bersih.

Pasar Malam

Kalau menginap di pusat kota, cobalah mampir ke pasar malam di Jalan Dechanuchit. Pasar ini ramai setiap malam minggu. Siang hari, ruas jalan dipakai lalu lalang kendaraan. Tapi, menjelang pukul 18.00, jalan ditutup dan pedagang kaki lima mulai membuka kios di kedua sisi jalan.

Pengunjung bisa menumpang tuktuk–kendaraan tradisional Thailand–ke lokasi yang juga terkenal dengan nama Soi 72 ini. Pasar terletak tidak jauh dari stasiun kereta api (Liap Thang Rotfai) dan membentang sampai Jalan Petchakasem.

Pasar inilah salah satu magnet Hua Hin pada malam hari. Di sepanjang jalan, Anda akan menemukan pedagang menjajakan souvenir, kerajinan tangan, pakaian tradisional Thailand, kue manis, sepatu, lukisan dan lain sebagainya.

Saya agak kaget karena para penjual ini memasang harga lebih tinggi kepada turis. Meskipun sebetulnya harga suvenir yang dijual disini lebih murah dibandingkan harga di Pasar Catucak, Bangkok. Mau tak mau, saya memakai trik demi mendapatkan harga murah meriah. Tawarlah antara 50 persen sampai 70 persen dari harga barang.

Memang, jarang ada penjual yang fasih berbahasa Inggris. Tetapi mereka selalu menggunakan kalkulator saat bertransaksi. Para penjual masih bersedia melayani pertanyaan pembeli–dengan bahasa tarzan tentunya–meskipun transaksi batal karena harga yang tidak sesuai.

Soi 27 memang terkenal sebagai pusat backpacker dan turis berbujet rendah seperti saya. Suasana di jalan ini mirip dengan Jalan Jaksa di Jakarta Pusat. Sepanjang jalan dipenuhi kafe dan hostel murah. Tetapi, lingkungan cukup bersih sebab pemerintah setempat menjadikan pasar malam ini sebagai obyek wisata utama di Hua Hin.

Street foods. #bangkok #thailand

A photo posted by nagaketjil (@nagaketjil) on

Segar dan Murah

Makan tentu pilihan yang sangat menyenangkan setelah lelah berjalan keliling pasar. Hua Hin awalnya adalah desa nelayan yang bertransformasi menjadi kota modern. Tak heran, sebagian besar menu masakan yang dijual adalah hidangan laut segar ditambah beberapa menu masakan barat.

Anda bisa pilih beberapa restoran yang terkenal disini antara lain Bird Chilli, The Hua Hin Terrace, atau Hua Hin Seafood Restaurant. Saya memilih yang ketiga karena kabarnya ini adalah restoran terbaik keempat di kota.

Kebanyakan restoran meletakkan meja dan kursi di luar ruangan. Anda bisa melihat sinar terang bulan, lampu warna warni, atau kabel listrik kusut yang menjuntai. Malam itu pengunjung sangat ramai. Beruntung, saya mendapat tempat duduk di halaman.

Restoran ini memiliki memajang bahan makanan lautnya memakai gerobak. Koki menata rapi udang berukuran besar (king prawn), scalop, lobster, kepiting, cumi-cumi, sampai gurita kecil. Meja bar, atau sebetulnya lebih pantas disebut gerobak bar, juga sengaja diletakkan di luar ruangan sehingga pengunjung bisa melihat atraksi si bartender.

Saya memilih sepiring udang besar dengan harga THB 100 atau sekitar Rp 31 ribu. “Tidak lengkap menikmati hidangan laut tanpa anggur putih,” kata Chap, si pelayan. Dia menawarkan beberapa jenis anggur putih yang cocok menemani udang rebus bumbu Thailand.

“Pinot Grigio atau Sauvignon Blanc? atau mungkin California Chardonnay?”. Saya hanya tersenyum. Harga segelas anggur cukup murah, hanya THB 100. Tetapi di malam yang sedikit gerah itu, segelas bir dingin sudah cukup bagi saya.

Udang rebusnya ternyata sangat lezat. Kata si pelayan, udang yang dijual baru ditangkap pagi hari. Pantas rasanya manis dan teksturnya kenyal. Sausnya adalah bumbu pedas Thailand dengan rajangan daun ketumbar. Entah apalah nama hidangannya, saya lupa. Yang saya ingat hanya makan sambil memandangi keramaian pasar malam di seberang jalan.

Malam itu, saya dan dua rekan menghabiskan sepiring udang besar, dua lobster batu, sepiring kerang, dua nasi goreng, dua gelas anggur putih dan segelas bir dingin. Total harganya THB 900 atau Rp 281 ribu. Dengan kualitas bahan makanan dan pelayanan yang memuaskan, harga itu sangatlah murah.

Kalau malas mampir makan di restoran, Anda bisa membeli makanan di warung kaki lima. Soi 27 berlimpah kios yang menjual roti, phad thai, kao moo daeng, salad mangga (yam ma-mooang), manisan Thailand, lumpia, mie goreng dan kerang rebus. Tanpa membeli pun, saya suka sekali melihat kesigapan penjual menyiapkan hidangan sambil mengobrol dengan penjual lainnya.

Menjelang tengah malam, satu persatu kios ditutup dan para penjual berkemas. Para turis bergegas pulang. Restoran buka lebih lama, beberapa diantaranya hingga dini hari. Saya memutuskan tidak langsung kembali ke Bangkok. Rasanya, menginap semalam di kota ini dapat membayar kerinduan saya pada laut, udang segar, bir dingin dan Hua Hin.