Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dikritik karena merokok di Istana saat diwawancarai wartawan. Aktivis antitembakau mengkritik karena tidak sepatutnya pejabat publik merokok di tempat umum, di acara resmi negara, dan disiarkan televisi. Bukan contoh yang baik bagi publik. Oke, bisa dipahami.

Tapi jangan lupa. Ada banyak menteri dan pejabat setingkat menteri yang suka merokok ketika diwawancarai wartawan. Trimedya Panjaitan, seorang politisi PDIP (ralat), ketika memimpin rapat-rapat komisi, hampir tidak pernah lepas dari rokoknya. Padahal dia sedang memimpin rapat resmi di Gedung DPR dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi.

Syamsir Siregar, mantan Kepala Badan Intelijen Negara juga salah satu pejabat yang seringkali cuek merokok di Istana. Dia juga biasa merokok –bahkan menghisap cerutu– ketika diwawancarai wartawan online, cetak, elektronik di Kantor Presiden. Sekali lagi, Syamsir merokok di Kantor Presiden.

Kenapa Trimedya Panjaitan dan Syamsir Siregar tidak pernah menjadi angle berita? Dan kenapa hanya Susi yang jadi korban bully di media sosial?

Karena Susi perempuan. Sialnya, Susi seorang pejabat publik.

Lantas bagaimana dengan Trimedya dan Syamsir? Mereka juga pejabat publik. Mereka digaji dari pajak rakyat. Kenapa kritik bertubi tidak mendera mereka?

Saya sepakat rokok memang berdampak bagi kesehatan. Laki-laki dan perempuan yang terpapar asap rokok bertahun-tahun tentu akan menerima dampak kesehatan serius. Tapi, bagi saya, kritik terhadap Susi akhirnya bukan semata persoalan dampak rokok bagi kesehatan melainkan karena gendernya sebagai perempuan yang merokok.

Saya percaya, beberapa aktivis antitembakau yang saya kenal punya perspektif gender yang baik. Mereka bahkan menyatakan diri sebagai feminis. Artinya mereka mengkritik Susi karena rokoknya, bukan karena dia perempuan yang merokok. Tapi ketika isu ini mencuat di publik dan bergulir liar, apakah semua pembaca dan penikmat media sosial punya perspektif yang sama? Saya bertaruh, tidak. Apalagi isu ini kemudian digoreng oleh media-media seperti seperti pkspuyengan dan kawan-kawannya.

Akibatnya, prestasi Susi yang cemerlang tidak lagi penting. Orang sibuk meributkan rokoknya, tatonya, dan kawin cerainya. Lagi-lagi, karena dia perempuan maka rentan menjadi korban stigma.

Tanpa disadari si jurnalis, ataupun kita pengguna media sosial, melihat perempuan yang merokok masih sesuatu yang aneh, tidak lazim. Memang, ini zaman milenial. Tapi akui saja, masyarakat masih melihat perempuan perokok –apalagi bertato dan menolak memakai bra– sebagai perempuan pemberontak, nakal, binal, dan segala macam stigma negatif lain.

Ada kesepakatan tak tertulis, rokok bukan untuk perempuan. Tapi disaat yang sama perempuan dilibatkan dalam industri rokok — yang identik dengan maskulinitas. Perempuan tetap menjadi obyek. Lihat saja bagaimana industri menampilkan perempuan sebagai bintang iklan seksi atau sales promotion girl. Jangan lupa, sebagian besar buruh di pabrik rokok adalah perempuan.

Konstruksi budaya sudah menempatkan perempuan dan rokok dalam dikotomi tajam bahkan paradoks. Omong-omong soal perempuan yang merokok, mbok-mbok di Gunung Kidul juga merokok. Klobot malah. Tapi tidak pernah jadi persoalan. Kenapa ketika melihat perempuan kelas menengah yang merokok, publik menjadi sangat sinis?.

Lucunya, perempuan tua di Gunung Kidul yang merokok klobot disimbolkan sebagai perempuan pekerja keras tetapi perempuan kelas menengah yang merokok dianggap perempuan nakal. Padahal toh sama-sama menghisap tembakau.

Ada yang bilang, perempuan kelas menengah yang merokok memberikan kesan berbeda. Rokok dan bibir perempuan dianggap sebagai simbol penyatuan kelamin laki-laki dan perempuan. Rokok ibarat penis dan bibir ibarat vagina. Saya yakin, laki-laki sadar betul, melihat perempuan yang merokok dengan gerak-gerik tertentu menimbulkan rangsangan seksual. Bagaimana bila perempuan kelas menengah merokok klobot? Terangsangkah kalian? Saya bertaruh, tidak.

Tidak banyak perempuan seberani Susi Pudjiastuti. Perempuan yang berani melawan apa yang kalian sebut adat ketimuran. Dan ketika perempuan berani melawan konstruksi sosial dan budaya dalam masyarakat yang patriarkis, selesai sudah. Siap-siap saja label negatif tertoreh di jidat.

Apa lagi yang lebih menakutkan dalam masyarakat patriarkis selain melihat perempuan sukses yang merokok, bertato, mandiri, sukses, cerdas dan berdaya. Perempuan yang bebas memilih apapun yang terbaik bagi diri dan tubuhnya dianggap sebagai ancaman. Jadi, perempuan, hati-hati terjebak pada sudut pandang seksis ketika mengomentari Bu Menteri yang baru saja dilantik Jokowi ini.

Saya membela Susi bukan karena saya juga perokok. Tapi karena saya perempuan.