Kisah tentang anak-anak Rimba sebetulnya sudah lama saya dengar dari sahabat saya Lucia Dianawuri. Dia pernah menjadi pendamping Orang Rimba. Selama berbulan-bulan, antropolog Universitas Indonesia ini wara-wiri sekitar Makekal Tengah, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Dahulu, teman baik saya ini kemana-mana harus membawa cangkul kecil untuk membuang kotorannya sendiri demi menyesuaikan diri dengan kearifan lokal Orang Rimba.

Tapi, saya baru mendapat gambaran bagaimana kehidupan Anak Rimba sebenarnya saat menonton film besutan Riri Riza ‘Sokola Rimba’. Ini adalah film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama. Buku berkisah tentang perjuangan Saur Marlina Manurung (yang lebih dikenal dengan Butet Manurung) sebagai fasilitator pendidikan yang bekerja untuk Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

Butet, yang diperankan Prisia Nasution, berusaha sekuat tenaga membuat anak-anak Rimba melek huruf. Sepanjang kisahnya, Butet ditemani dua bocah, Beindah dan Nengkabau. Anak-anak cerdas dan punya rasa ingin tahu tinggi. Terlihat bagaimana Beindah ‘ngotot’ belajar berhitung dengan biji karet.

“Berapo 10 dikurangi 3?”.
“Enom!”.
“Ah bukan”.
“Delapan”.
“Hah! Rajo penyakit!”

Memang, tidak semua pengalaman Butet divisualkan karena keterbatasan durasi. Meski demikian, Riri dan Mira Lesmana (produser) tahu betul menempatkan adegan-adegan klimaks yang membuat emosi penonton campur aduk. Ingin menangis dan marah sekaligus.

Dalam sebuah adegan, Tumenggung Belaman Badai mengusir Butet dari wilayahnya karena menuding pensilnya membawa sial dan petaka. Bungo, yang baru pulang dari berburu, marah saat menyadari Butet tidak lagi ada di biliknya. “Ke Mano Bu Guru Butet pegi? Akeh ndok bolajor pado Bu Guru,” kata Bungo. Dia lari mengejar tapi hanya mendapati Butet sudah menghilang dari balik bukit.

Inti cerita berpijak pada kisah Butet dan Nyungsang Bungo, remaja asal Hilir Sungai Makekal, yang jaraknya 7 kilometer dari tempat Butet biasa mengajar. Bungo memberi warna, konflik, dan emosi pada keseluruhan cerita. Keinginannya untuk berdaya dan keluar dari keterbatasan justru yang membuat saya melek.

Ya, melek sebenar-benarnya. Tahun 2013, di sudut taman nasional, ada kelompok masyarakat yang bahkan membaca ‘a’ saja tidak bisa.

Orang Rimba hidup berkelompok dan berpindah-pindah di pedalaman Jambi. Mereka mencoba bertahan dari gempuran penebang liar yang mencaplok wilayah mereka. Rimba rumah mereka tidak lagi serimbun dulu. Binatang buruan sulit dicari. Bungo, dan –mungkin–ratusan Orang Rimba lain, hanya bisa menatap nanar sisa batang pohon yang roboh dihajar gergaji mesin.

Potret kehidupan orang Rimba berhadapan dengan modernisasi tergambar lewat film berdurasi 90 menit ini. Termasuk, pengalaman-pengalaman pahit mereka saat berinteraksi dengan dunia luar: ditipu toke, dipermainkan saat transaksi karena mereka buta mata uang, ditipu penebang liar, dan  segala tipu muslihat menukar berhektar-hektar tanah adat  dengan rokok, kopi dan kain batik.

Sebagian kecil Orang Rimba kini sudah melek huruf, terutama anak-anak muda. Bahkan, Besudut, salah satu putra Rimba sudah mengecap Perguruan Tinggi di Jambi. Tapi, faktanya, sebagian besar orang Rimba masih terpinggirkan. Terhimpit oleh desakan zaman.

Tapi, untuk beberapa hal, Orang Rimba justru memiliki kearifan hidup yang lebih maju dari kita. Setidaknya, mereka tidak pernah merusak hutan dan menebang membabi buta demi mengisi perut. Mereka tahu bumi dan rimba ibarat Ibu yang menghidupi mereka dengan air susunya. Tidak ada yang lebih menyakitkan saat melihat Ibu mereka ‘diperkosa’ di depan mata.

Kalau boleh saya bilang, kita ini orang kota yang selalu merasa berbudaya sebetulnya cuma –meminjam istilah anak Rimba– RAJO PENYAKIT!

*Foto by : Lucia Dianawuri