“Jangankan bicara orgasme, banyak perempuan yang tidak mengenali tubuhnya.” Pernyataan ini terlontar dari seorang sahabat perempuan saat kami berbincang soal bagaimana perempuan bisa mengeksplorasi tubuhnya untuk mencapai kepuasan.

Seorang temanku yang lain mengungkapkan, “Temanku ada yang sulit mencapai klimaks saat bersenggama dengan suaminya. Tapi, mudah orgasme saat menstimulus klitoris. Ada pula yang terpaksa memalsukan orgasmenya.”

Pertanyaan berikutnya di benakku muncul: benarkah perempuan hanya bisa mengandalkan penetrasi penis untuk mencapai klimaks? Ataukah ada keterkaitan antara keduanya?.

Nyatanya, baru-baru ini, sebuah esai dari peneliti memaparkan bukti bahwa orgasme vagina dan klitoris, pada kenyataannya, fenomena yang terpisah. Ternyata, masing-masing mengaktifkan area otak yang berbeda dan mengungkapkan perbedaan psikologis utama antara perempuan.

“Kami memiliki banyak bukti mengenai perbedaan antara dua orgasme utama, klitoris dan orgasme vagina,” kata Emmanuele Jannini, profesor endokrinologi di University of Aquila di Italia dalam pernyataanya beberapa waktu lalu.

Memang masih diperdebatkan. Ginekolog Prancis Odile Buisson berpendapat dalam Journal of Sexual Medicine. Misalnya, bahwa dinding depan vagina yang terkait erat dengan bagian internal dari klitoris; merangsang vagina tanpa mengaktifkan klitoris mungkin nyaris mustahil. Dengan demikian, kata dia, orgasme vaginal dan klitoral bisa berbarengan.

Yang menarik, Barry Komisaruk dari Rutgers University juga melakukan studi. Otak perempuan yang sedang masturbasi dipindai dengan mesin pencitraan resonansi magnetik fungsional. Hasil menunjukkan daerah otak sensorik mana yang aktif dalam menanggapi rangsangan.

“Jika stimulasi vagina hanya bekerja melalui stimulasi klitoris, maka stimulasi vagina dan stimulasi klitoris harus mengaktifkan tempat yang sama pada korteks sensorik,” kata Komisaruk LiveScience. “Tapi, keduanya tidak.”

Terlepas dari sudut pandang biologis ini, perdebatan soal orgasme vaginal dan klitoral sudah terjadi terutama sejak Sigmund Freud mengungkapkan teorinya tentang kecemburuan perempuan pada penis. Namun, pemikiran Freud ini disanggah seorang feminis, Anne Koedt. Dia menyindir Freud dengan sebutan “Bapak Orgasme Vaginal” dalam karyanya yang legendaris, The Myth of Vaginal Orgasm.

Koedt menyatakan bahwa kekuatan laki-laki memang berdasarkan pada mitos bahwa untuk mencapai orgasme, perempuan harus mengalami penetrasi penis. Namun, sebelumnya, adalah penting untuk menekankan bahwa Freud tidak mendasarkan teorinya pada studi anatomi perempuan. Karena itu, Koedt secara radikal mendefinisikan kembali pemikiran tentang seksualitas perempuan.

Menurut Koedt, ada kesalahan pembedaan setiap kali membahas orgasme perempuan dan frigiditas. Frigiditas secara umum telah didefinisikan oleh laki-laki sebagai kegagalan perempuan untuk mengalami orgasme vaginal. Padahal, vagina bukan daerah yang sangat sensitif dan tidak dibangun untuk mencapai orgasme. Adalah klitoris yang merupakan pusat dari sensitivitas seksual.

Klitoris ibarat penis kecil, kecuali fakta bahwa tidak ada uretra didalamnya. Ereksinya yang mirip dengan ereksi laki-laki, dan kepala klitoris memiliki jenis yang sama struktur dan fungsi sebagai kepala penis.

Lombard Kelly dalam Sexual Feelings in Married Men and Women mengatakan kepala klitoris juga terdiri dari jaringan ereksi. Ia memiliki epitel atau permukaan yang meliputi sangat sensitif yang secara khusus diciptakan untuk stimulasi sensorik. Dalam kondisi mental yang tepat akan berujung pada orgasme seksual.

Nah, menurut Koedt, karena kurangnya pengetahuan perempuan tentang anatomi tubuh sendiri, pada akhirnya beberapa perempuan menerima gagasan bahwa orgasme yang normal adalah vaginal. Menurut Koedt, kegagalan ini disebabkan dua faktor.

Pertama, gagal untuk menemukan titik orgasme. Kedua, orgasme diterjemahkan sebagai keinginan sesuai pengalaman dengan ide yang didefinisikan oleh masyarakat — laki-laki. Tak heran, perempuan yang hanya tahu sedikit tentang tubuhnya, mudah menjadi bingung.

Akibatnya, ada banyak perempuan yang memalsukan orgasme mereka karena takut. Perempuan takut dianggap tidak sempurna secara seksual. Perempuan takut menyinggung ego laki-laki bila tak mampu memuaskan mereka. Dan, bahkan, perempuan takut meminta haknya untuk kenikmatan yang sama. Bila perempuan tak mampu orgasme, dianggap frigid, dicap mengalami masalah psikologis dan dianjurkan datang ke psikiater!.

Lucunya, kata Koedt, perempuan yang sebetulnya sehat secara seksual akan berpikir mereka tidak normal. Perempuan akan menyalahkan diri sendiri. Perempuan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah yang sebetulnya tidak ada sehingga berakhir pada kebencian pada diri sendiri.

Esai Koedt ini berhasil mendorong gerakan perempuan Inggris dan Amerika untuk melihat hubungan antara penindasan seksual perempuan dan penindasan politik pada perempuan. Karena itu, dia menegaskan, pembebasan perempuan juga harus melibatkan independensi seksualitas perempuan.

Jadi, mulai sekarang, kenalilah tubuhmu sendiri, perempuan. Orgasmelah!

Bahan bacaan :

1. Anne Koedt, The Myth of Vaginal Orgasm, 1970. http://www.uic.edu/orgs/cwluherstory/CWLUArchive/vaginalmyth.html

2. Stephanie Pappas, Does the Vaginal Orgasm Exist?, 2012. http://www.livescience.com/19579-vaginal-orgasm-debate.html