Jerman boleh bersorak. Argentina mau tak mau cukup puas di tempat kedua. Tapi yang jelas, Brazil gigit jari. Apa yang terjadi dalam ajang sepakbola terbesar ini tak akan dilupakan dari memori fans tim nasional. Tak ada yang lebih menyedihkan dari dikalahkan 1-7 oleh Jerman dan kemudian 0-3 oleh Belanda saat perebutan tempat ketiga.

Sekarang, Brazil harus menghadapi cobaan lagi. Tantangan ekonomi yang sempat surut dan pemilihan presiden yang berpotensi memecah belah pada Oktober mendatang. Belum lagi, negara ini harus bersiap untuk Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. Kritik bertubi terus datang karena Brazil dianggap tak bisa memprioritaskan belanja negara.

“Selama pesta, Brazil seperti berada dalam pulau impian, tapi kenyataan segera datang,” kata Marcelo Salomon, ekonom yang mengikuti perkembangan Brazil di Barclays, New York. “Brazil dalam proses perlambatan ekonomi itu mengejutkan, bahkan pesimisme terbesar.”

brazil1
Photo by Victor Moriyama

 

Ekonom sudah berkali-kali menurunkan standar mereka untuk pertumbuhan domestik bruto Brazil tahun ini. Salomon hanya berani memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,7 persen, turun dari 1,7 persen.

Setelah empat tahun stagnan, banyak pabrik memotong biaya produksi. Brazil sudah setengah mati  memacu pertumbuhan dengan pinjaman, kredit konsumen dan bantuan tunai untuk rakyat miskin, kata beberapa ekonom. Tapi rencana pemerintah membangun pelabuhan dan infrastruktur untuk memicu peningkatan daya saing terbilang gagal.

Seorang pejabat Departemen Keuangan senior, Márcio Holland, berkilah perlambatan ini didorong oleh penurunan ekonomi global, bukan kegagalan kebijakan. Pinjaman pemerintah untuk sektor riil dan subsidi bagi keluarga miskin sudah berhasil meredam tekanan.

Tapi semua toh tak berubah. Bagaimana memacu pertumbuhan ketika Brazil akan dihadapkan pada kampanye politik menjelang pemilihan presiden. Hal itu hanya akan menambah beban perekonomian.

Kesenjangan ekonomi dibalik kemeriahan Piala Dunia sudah mencuat sebelumnya. Presiden Dilma Rousseff, yang mengincar jabatan periode kedua, sudah dicemooh saat pembukaan Piala Dunia di Sao Paulo, Juni lalu. Namun dia mendapat banyak dukungan setelah partai sayap kiri –yang mengusungnya—menyetujui jaminan subsidi kesejahteraan dan perumahan bagi rakyat tidak mampu.

brazil2
Photo by Victor Moriyama

 

Jajak pendapat menyebutkan Rousseff masih unggul untuk memenangkan pemilihan mendatang. Kelancaraan pelaksanaan Piala Dunia membantu mendongkrak popularitasnya hingga 35 persen. Naik dari sebelum perhelatan yang hanya 33 persen.  “Kami ingin Brazil puas karena telah mengadakan acara yang sangat sukses,” kata Rousseff.

Tapi manuver oposisi akan menyulitkan langkahnya. Beberapa ekonom Brazil menjadi semakin kritis pada kebijakan Rousseff. Intervensi negara pada industri berat seperti minyak menyumbang pada perlambatan ekonomi. Ketidakpuasan pasar begitu tinggi ditunjukkan dengan melonjaknya pasar saham Brazil bertepatan dengan penurunan elektabilitas Rousseff.  Meskipun Hollan, pejabat Departemen Keuangan, menolak hubungan keduanya.

Sekarang Brazil ingin mengulang kesuksesan menghelat Piala Dunia dengan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2016. Tapi ingat, pada 2013, sebanyak satu juta demonstran turun ke jalan memprotes keputusan pemerintah menghabiskan USD 11,4 juta untuk membangun stadion dan proyek-proyek Piala Dunia. Jumlah ini sangat fantastis bila dibandingkan kebutuhan negara itu untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Olimpiade 2016 di Rio dikhawatirkan akan semakin memperbesar jurang kesenjangan.

Sementara gempita Piala Dunia usai, ekspektasi mengeruk keuntungan dari perhelatan besar itu tidak tercapai. Turnamen ini mestinya berhasil memicu pertumbuhan ekonomi lewat pembangunan kereta api bawah tanah dan infrastruktur besar lainnya. Nyatanya, fasilitas kereta api super cepat antara Sao Paulo dan Rio tidak pernah dibangun. Brazil hanya mampu berfokus pada infrastruktur venue dasar seperti stadion. Empat arena– Brasilia, Cuiabá, Manaus dan Natal—tak terlalu dibutuhkan sehingga menjadi simbol pemborosan.

Padahal, di negara ini, sepakbola ibarat dewa. Tapi harapan kemenangan pupus sudah ketika Brazil dihajar Jerman 1-7 pada babak semifinal. Kekalahan telak ini semakin tidak bisa mendongkrak suasana hati ekonomi Brazil.

Beberapa penduduk Brazil sudah mulai bertanya-tanya apakah harga yang harus dibayar sebanding dan tidak sia-sia. “Sekarang, dengan kekalahan ini, orang akan melihat lebih dekat pada masalah Brazil. Melihat apa yang harus dilakukan dan apa yang belum dilakukan: kualitas sekolah dan rumah sakit,” kata Rogerio de Souza Ribeiro, 27 tahun, warga Sao Paulo.

Tangan Tuhan rupanya belum juga menjamah Brazil.

(Sumber: Wall Street Journal, The Telegraph)