Aku masih duduk di bangku yang sama di satu sudut terminal bandara. Bangku dimana kita bertemu ketika kau datang ke kota ini. Aku ingat kita berbincang tentang hal sederhana. Tentang mimpi, kucing dan roti kopi yang tidak hangat lagi.

Ya, aku memberanikan diri duduk di bangku ini setelah kebersamaan kita. Aku  mengunyah roti sambil memandangi senja yang merah. Mengamati orang-orang lalu lalang. Mereka bergegas, berpelukan, lalu pergi.

Kata orang, bandara adalah tempat dimana ciuman paling banyak diberikan daripada pesta pernikahan. Di sini doa lebih banyak dipanjatkan daripada rumah-rumah ibadah. Tempat dimana orang berharap bertemu kembali dengan orang yang ia cintai. Setidaknya, berharap dia akan baik-baik saja. Doa dan kecupan adalah hal paling indah yang bisa seseorang berikan sebelum pergi. Tak seorangpun tahu kapan akan mati, bukan?

Di bangku ini, aku teringat percakapan terakhir sebelum kau pulang ke kotamu. Percakapan yang memberiku harapan. Memberiku keyakinan tentang sebuah kenyamanan. Perasaan yang membuatku percaya, cinta yang tulus itu ada.

“Kamu tahu, terakhir kali aku ada di terminal ini, aku teringat padamu,” katamu sore itu sebelum kau melanjutkan perjalanan.

“Oh ya? Kenapa?”

“Waktu itu kau menyapaku. Ada desir yang berbeda. Aku rasa aku jatuh cinta.”

Aku tersenyum. Padahal setahun lalu, kita tidak saling mengenal. Kita adalah dua manusia asing. Kalau saja hari itu aku tidak nekat menyambangi kota itu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Pertemuan pertama kita sebetulnya biasa saja. Terlalu biasa. Jauh dari berkesan.

Ah, aku baru ingat, aku memang tidak pernah bicara hal-hal luar biasa denganmu. Aku tidak pernah bicara soal strategi politik calon presiden. Aku tidak pernah bicara tentang betapa aku mengagumi Nikola Tesla. Tidak pula bicara soal perdebatan legalisasi ganja. Tidak. Sama sekali tidak. Kita benar-benar hanya bicara tentang hal biasa. Tentang hari ini aku pergi ke mana, tentang ikan kembung goreng kesukaanku, atau tentang pilekmu yang selalu kumat setiap kali dingin menyergap.

Tapi justru itu yang membuatku jatuh cinta.

Aku pernah bilang, hidup sudah sangat rumit. Bicara tentang hal-hal rumit seringkali membuat kepalaku mau pecah. Pekerjaan menuntutku membuat analisa politik. Sementara kamu sibuk berkutat dengan angka dan statistik. Aku tidak butuh bicara ideologi dengan partnerku. Aku hanya butuh berbicara tentang hal biasa.

“Tapi aku tidak yakin masih mencintaimu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

Aku terdiam.

Bertahun-tahun luka ternyata membuatku terlatih patah hati. Aku pernah bilang padamu, aku sudah lupa rasanya menangis. Maksudku, aku tidak tahu lagi bagaimana menangisi kesedihan. Aku bahkan tidak lagi bisa merasakan perih. Kau ingat? Suatu malam aku pernah mengeluh padamu. Aku bilang, sepertinya aku kehilangan tangis. Aku merindukannya.

Di bangku ini aku kembali terpelanting dalam kenangan. Tentang mereka yang datang dan pergi. Laki-laki yang mampir sebentar atau juga lama. Tapi tidak satupun yang menghadirkan perasaan seperti ini. Aku pikir, inilah persinggahan terakhir.

Aku percaya, setiap manusia ditakdirkan bersinggungan bukan tanpa sengaja. Satu sama lain berjumpa untuk satu tujuan. Setiap manusia dipertemukan karena salah satu harus belajar dari yang lain. Bersamamu aku belajar. Aku harus memahami bahwa mencintai berarti melepaskan. Aku harus mengerti bahwa tidak ada satupun yang abadi. Bahkan, perasaanku sendiri.

Pertemuan kita juga sudah digariskan semesta. “Denganmu aku berbicara dengan jiwa. Aku mencintaimu karena jiwamu,” kalimat itu pernah terlontar dari mulutmu. Entah karena sambungan telepon jarak jauh yang membuat kalimatmu terdengar terbata-bata, ataukah karena kau memang mengucapkannya dengan sangat hati-hati. Mendengar pernyataanmu  akhirnya aku berjumpa tangis. Bukan tangisan sedih. Bukan. Tapi sesuatu yang tak terbahasakan itu telah menyelinap. Hangat. Menenangkan.

Kau memang menenangkan. Kau ingat, bukan? Aku pernah bilang kau seperti laut dalam. Diam. Tenang. Misterius. Sayang, perempuan-perempuan yang pernah singgah dalam hidupmu bukan penyelam ulung. Mereka hanya menganggap kau laki-laki yang tidak tahu bagaimana caranya bicara. Tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan kata-kata. Tidak satupun yang bisa memahamimu seperti aku. Mungkin kau lupa satu hal. Aku ini perenang handal. Aku menyelamimu sebab yang kukenali adalah jiwamu.

Aku juga percaya, manusia hidup dalam siklus tertentu yang membuat satu sama lain akan kembali bertemu. Kehidupan bukan soal lahir dan mati. Hidup adalah sebuah proses yang terus berulang. Hidup adalah tentang pembelajaran. Ketika kita belum sempurna, kita akan diberi beberapa kali kesempatan mengulangnya. Pada titik itu, kita bisa saja bertemu dengan jiwa-jiwa yang sama. Jiwa-jiwa yang memang ditakdirkan mendampingi kita. Sampai kita menemukan dan mengenal siapa diri kita sebenarnya.

Pertemuan demi pertemuan akan terus berlangsung. Jiwa-jiwa yang sama akan kembali bersinggungan. Mereka akan saling mengingat satu sama lain. “Kita sudah pernah bertemu. Pada suatu masa yang lampau.” Kalimat itu juga yang pernah kita saling ucapkan pada pertemuan pertama.

Tidak banyak yang memahami rahasia ini. Aku dahulu pun tidak paham. Ketika orang yang kucintai pergi, sakitnya sungguh luar biasa. Aku memaksakan diri, menciptakan realita idealku sendiri. Saling mencintai harus bersama sampai mati. Padahal semakin kuat kita menggenggam, kepedihan datang lebih cepat. Bertahun-tahun aku mencoba memaknai itu.

Akhirnya aku juga tahu, tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan. Dalam siklus kehidupanku kali ini, aku juga sudah berkali-kali kehilangan. Kehilangan pasangan, sahabat, teman, cita-cita, mimpi, harapan. Bahkan aku sudah pernah kehilangan diriku sendiri. Sampai akhirnya aku kehilanganmu. Sakit.

Kemarin, aku memutuskan harus menembus batas sakitku sendiri. Dulu aku selalu bilang, kalau kau sakit, resapi sakit itu sampai kau tidak sanggup lagi. Jangan kau hindari. Menghindar berarti menyangkal. Tapi nyatanya, sudah aku selami pun aku tetap saja merasa sakit. Sampai akhirnya aku punya ide gila. Aku ingin bermain-main dengan sakit. Lalu aku merajah tubuhku sendiri.

Sebab aku tidak percaya ketika kau bilang, “aku takut suatu hari nanti aku akan meninggalkanmu.” Pernyataan ini membuatku tercekat. Tapi aku mencoba mengabaikannya. Jadwal yang padat dan tuntutan pekerjaan membuatku merasa tak perlu berkutat dengan perasaan-perasaan yang tidak pasti. Alasan lain, aku sudah lelah hidup dalam ketakutan-ketakutan. Pada titik ini aku menyadari, itulah kesalahan terbesarku. Aku merasa, aku sudah mengabaikanmu.

Tapi pernahkah kau berpikir, jangan-jangan kau mengkhianati pikiranmu sendiri? Seperti aku yang seringkali curiga dengan pikiranku sendiri. Pikiran membuatku pergi ke dunia yang tak dikenal. Dunia yang asing. Dunia yang lebih sering menjebakku daripada membebaskanku. Membuatku tidak melihat keindahan di depan mataku.

Maksudku, realita adalah sesuatu yang hadir dalam bentuk pikiran-pikiran. Ketika pikiran takut itu hadir, maka ketakutan itu pada akhirnya menjadi nyata. Sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Bukan pisau yang akan membunuh kita, tapi pikiran kita sendiri. Seandainya kita bisa membebaskan diri dari pikiran-pikiran dan menjalani segala sesuatu apa adanya, bukankah kita akan melihat semuanya jadi berbeda. Kita bebas.

Di matamu, mungkin aku adalah perempuan bebas. Padahal apa sih artinya bebas? Bukankah keinginan untuk bebas juga pikiran. Bila ada keinginan untuk bebas, bagaimana kita bebas dalam arti sebenar-benarnya bebas?

Orang lain mungkin akan menganggap aku perempuan pemberontak. Perempuan yang hidup di luar norma. Tapi siapa yang menentukan norma? Bukankah sejarah dirumuskan oleh laki-laki? Di dunia seperti ini, perempuan yang berani mengambil sikap untuk dirinya sendiri akan dianggap sebagai ancaman? Apakah kamu juga merasa aku sebuah ancaman? Ancaman bagi egomu?

Aku masih duduk di bangku yang sama. Jadwal penerbanganku belum juga diumumkan. Di negara ini, keterlambatan adalah sebuah keniscayaan. Entahlah, aku tidak tahu apakah harus senang atau mengumpat marah.  Toh aku bisa berlama-lama menari bersama kenangan. Tapi aku juga harus rela lebih lama bercengkrama dengan sakit yang kau tinggalkan.

Lima bulan bersamamu ternyata tidak cukup membuatku mengenal diriku sendiri. Hubungan adalah tentang pengenalan. Bukan hanya mengenalmu, tetapi lebih dari itu. Menjalin relasi denganmu berarti aku harus belajar mengenal diriku sendiri. “Aku sedang belajar berdamai dengan egoku,” kataku. Itu hal tersulit yang harus aku jalani.

Aku ingat bagaimana aku mengumpatmu. Gara-gara kau bilang, “maaf aku masih berkutat dengan masa lalu.” Kalimatmu itu yang akhirnya membuatku kalah dengan egoku. Tidak masuk dalam logika ada orang yang rela berkubang dengan masa lalu. Detik saja tidak pernah berjalan mundur. Dalam kepalaku, kau hanya mencari alasan menghindariku. Kalau saja kau bilang maksud sebenarnya. Aku lebih suka kejujuran, meski pahit luar biasa.

Tapi hingga kini kau tidak pernah mengatakannya.

Denganmu aku belajar lagi tentang kemelekatan. Tidak ada satupun yang abadi. Hidup memang sekeping mata uang. Bahagia dan sakit ada dalam kepingan yang sama, dari dua sisi yang berbeda. Melekat pada bahagia berarti harus siap juga merasakan sakit. Begitu pula sebaliknya.  Tapi bukankah kita diberi kebebasan untuk memilih? Bahagia atau sakit? Ternyata kau memilih sakit. Seperti aku pernah katakan padamu lewat sebuah pesan singkat, “kau punya kesempatan bahagia kenapa justru memilih sakit?” Membaca pesan itu, aku yakin kau menangis.

“Mengapa cintamu pudar secepat itu?” Aku bertanya lagi. Kau terdiam. Lama sekali. Rupanya kau tak cukup punya nyali menjawab pertanyaan tajam itu. Sampai-sampai aku berpikir, jangan-jangan yang kau cintai bukan aku. Bisa jadi, yang kau cintai adalah konsep cinta itu sendiri. Kau terjebak. Ketika berpikir kau mencintai seseorang, sebetulnya kau tidak benar-benar mencintai. Kau hanya memuja cinta.

Bukankah cinta seharusnya tidak membuat kita terpaksa. Cinta tidak pernah menuntut. Cinta juga tidak pernah bersyarat. Ketika kita mengucap “aku mencintaimu” artinya kita juga tidak perlu memberikan syarat. Aku sudah belajar banyak soal hubungan dengan segudang persyaratan yang berujung pada kegagalan. Aku lelah. Bersamamu, aku memahami hal baru, cinta tanpa syarat tidaklah cukup. Jatuh cinta ibarat busa detergen. Awalnya saja riuh dan menggelora. Lama-lama toh mengendap juga. Tapi bukan berarti luntur, melainkan hanya berubah bentuk. Menjadi komitmen.

Komitmen berarti kesetiaan sementara cemburu adalah ego. Kita memang berjarak ribuan kilometer. Namun terpisah ruang bukan berarti aku tidak setia. Relasi, bagiku, adalah tentang menitipkan kepercayaan. Aku akui, aku perempuan yang mudah jatuh hati. Tetapi aku bukan perempuan yang mudah bicara cinta. Kalimat “aku mencintaimu” tidak dengan mudah meluncur dari mulutku. Tidak semua laki-laki yang menjalin relasi denganku cukup beruntung mendengar itu.

Aku sudah memutuskan setiap kali aku datang ke sini, aku akan terus duduk di bangku ini. Bukan berarti aku tidak beranjak dari masa laluku. Bukan. Masa lalu adalah sesuatu yang harus kurayakan. Pengalaman yang membuatku berdiri tegak hingga sekarang.

Ah, suara renyah perempuan dari maskapai penerbangan sudah memanggil. Telat 20 menit dari jadwal. Aku berkemas. Pulang ke kota kelahiranku. Tak lama lagi aku kembali. Masih dengan diriku yang sama. Hanya lebih sempurna. Pertemuan kita, menyempurnakanku. Selamat tinggal. Sampai jumpa lagi. Nanti.

Slipi, 15 April 2015