September 2014 lalu, jagat Twitter ramai dengan #WhyIStayed. Hashtag dimulai oleh Beverly Gordon, seorang penulis dan survivor kekerasan domestik yang terganggu benar oleh banyaknya orang yang bertanya kenapa Janay Rice memilih menikahi pacar yang punya tabiat kekerasan?

#WhyIStayed pun menyebar bersamaan dengan #WhyILeave yang tak kalah ramainya. Setiap pilihan mengandung alasan yang sama kuatnya. Perempuan yang memilih #WhyIStayed sebagian beralasan karena melindungi anak, menunggu pasangan berubah dan mengaku tidak memiliki kemampuan untuk pergi.

Sementara yang memilih #WhyILeave kebanyakan percaya mereka bisa hidup lebih bahagia bila meninggalkan pelaku. Perempuan yang memilih pergi bukan berarti lepas dari stigma. Pengalaman saya, ada saja yang bertanya, apa kamu tidak kasihan dengan anak? Bertahan salah, pergi juga salah.

Terlepas dari pilihan mana yang paling tepat, media sosial sudah memberi ruang bagi perempuan korban bersuara lewat #WhyIStayed. Tapi, sayang, perspektif masyarakat ternyata masih berfokus pada pilihan korban dan mengkritiknya bila –menurut mereka– salah. Padahal jauh lebih penting bertanya #WhyYouBeatHer kepada pelaku, bukan?

Ini adalah sedikit contoh dari rumitnya masalah kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi ada siklus kekerasan, masalah keuangan, tanggungjawab keluarga, ketergantungan ekonomi, hingga ketiadaan tempat tinggal bila korban memilih pergi. Tapi kenapa membebankan masalah ini hanya pada pilihan perempuan?

Ketika perempuan dikritik, kenapa laki-laki tidak?

#WhyIStayed membuat jutaan perempuan menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan pada mereka. Alih-alih sibuk bertanya, bukankah seharusnya masyarakat membantu akses agar perempuan korban bisa berdaya. Mulai sekarang, jangan lagi menanyakan hal itu. Tanyalah #WhyYouBeatHer kepada pelaku.