Kita hidup di dunia laki-laki. Tapi banyak perempuan yang membunuh perempuan lain. Mungkin kalimat ini terdengar sarkas. Tapi ini realita.

Berapa kali kita mendengar gerbong KRL perempuan lebih ganas daripada gerbong umum? Meski gak sepenuhnya benar, tapi beberapa roker (rombongan kereta) perempuan mengakui hal itu. Beberapa waktu lalu, viral sebuah video dua perempuan saling jambak gara-gara berebut tempat duduk. Video itu semakin menjustifikasi asumsi bahwa di dalam gerbong ini berlaku hukum rimba. Yang paling kuat, dia pemenangnya.

Ada lagi kasus Firza Husein dan Rizieq Shihab. Soal ini saya selalu berpijak pada sikap masalah hubungan seksual -apapun bentuknya- adalah wilayah privat yang haknya gak bisa diganggu gugat siapapun kecuali pelakunya sendiri. Tapi nyatanya? Ada banyak perempuan ikut menghakimi Firza. Dia ditempatkan sebagai perempuan yang paling nista diantara perempuan lain.

Padahal, coba bayangkan bila, suatu hari nanti smartphonemu dicuri orang lalu foto bugil buat kekasihmu disebarkan di internet. Kalau begitu, mau apa? Seperti halnya kasus Cut Tari dan banyak lagi video privat yang bocor ke dunia maya. Perempuan justru jadi pihak yang ikut menuding jari telunjuk pada mereka.

Kita hidup di dunia laki-laki, tapi perempuan masih saling membunuh sesamanya. Ada berapa banyak perempuan yang saling membandingkan diri satu sama lain? Atau menganggap perempuan A lebih baik dari perempuan B. Ikut-ikutan menentukan standar peran perempuan. Mengkritik sikap dan keputusan perempuan lain.

Berapa banyak perdebatan antara siapa yang terbaik antara ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Saling pamer mana anak ASI eksklusif dan anak susu botolan. Saling membandingkan perempuan beralis sulam tidak lebih baik dari alis alamiah. Saling nyinyir mana yang pakai Birkin asli atau KW super. Saling sikut merebutkan posisi di pekerjaan. Juga saling sinis soal pilihan pakaian yang dikenakan, entah itu bikini atau burqa.

Kita hidup di dunia laki-laki. Jadi buat apa kita saling membunuh satu sama lain. Bukankah apa yang kita hadapi juga sama? Peran ganda, sama. Diskriminasi, sama. Standar ukuran kecantikan, sama. Ketidakadilan, sama. Urusan patah hati, juga sama.

Feminisme bukan hanya tentang melawan konstruksi budaya Patriarki. Feminisme, buat saya, adalah tentang memberdayakan perempuan. Bagaimana sebuah ideologi diperjuangkan melawan konstruksi berabad-abad, kalau kesadaran saling memberdayakan saja tidak ada? Padahal memberdayakan adalah juga tentang memberikan pilihan sebesar-besarnya pada perempuan untuk mengambil keputusan. Tanpa dihakimi.

Kita ini hidup di dunia laki-laki. Peran, pola pikir, persepsi atas tubuh, cara bersikap, perilaku seorang perempuan dibentuk budaya – yang didominasi laki-laki. Mereka masih jadi warga negara kelas satu. Kita masih jadi Liyan – entitas yang keberadaannya dinomorduakan.

Bukankah yang terjadi malah sebaliknya? Perempuan memakai standar laki-laki untuk menghakimi perempuan lain. Padahal, kita hidup sebagai Liyan di dunia yang sama.

Padahal kalau kamu perempuan, pilih saja keputusan yang terbaik buat dirimu. Gak perlu ambil pusing soal omongan orang lain. Kamu mau kasih bayimu ASI eksklusif silakan, gak juga silakan. Alismu mau kamu kerok pakai mesin potong silakan, dibiarkan gondrong juga gak usah peduli. Mau pakai bikini segaris atau kain tutupi seluruh tubuh, itu pilihanmu. Pilih jadi istri atau jomblo sampai mati, itu kehendak bebasmu. Mau jadi simpanan atau istri kedelapan, itu keputusanmu.

Kalau kamu perempuan, gak usah usil dengan keputusan dan pilihan perempuan lain. Usillah pada laki-laki yang memilih poligami. Kritiklah laki-laki yang merayu perempuan untuk kirimkan foto telanjangnya. Proteslah pada laki-laki yang menentukan peran hidupmu sehari-hari. Marahlah pada laki-laki yang lakukan kekerasan pada sesamamu, perempuan!

Jangan seperti gerombolan domba melawan serigala, tapi malah saling memangsa. Kayak gini kok cita-citanya mau menguasai dunia.

Berdaya, sis! Jangan pakai kacamata laki-laki. Pakai kacamatamu sendiri.