Setahun sudah berlalu. Aku pikir aku tidak akan bisa melewati hari itu. Hari dimana aku memutuskan membenci malam. Hari dimana aku ingin merobeknya hingga serpihan terakhir. Aku sudah disentakkan dari mimpi. Terpelanting dalam kegelapan tergelap. Dalam kelam yang hitam pekat. Sunyi. Tapi ganas sekali.

Aku menengok ke belakang. Anakku pura-pura tertidur di sudut ranjang. Dia sesungguhnya takut sekali. Tapi aku tahu dia kuat. Tangguh. Sementara aku bersandar di tepi dipan, bersimpuh. Kaki dan tanganku berdenyut hebat. Lebam. Aku meraih secarik kain dari lemari dan kuusap rambutku. Darah.

Kulirik jam di meja rias. 01.30. Sudah setengah jam berlalu. Baterai telepon genggamku nyaris habis. Ah, sial! charger ada di ruang tamu. Tidak mungkin aku membuka pintu yang sudah remuk ditendangnya. Aku bersyukur, pintu itu masih terkunci. Setidaknya aku aman. Sementara.

Aku coba menghubungi sekali lagi nomor itu. Masih dengan gemetar yang sama. Tapi kali ini nyaris tidak bisa lagi aku merasakan ujung jariku. Nomor darurat 112.

“Selamat malam. Polda Metro Jaya.”

“Tolong, Pak. Tadi saya sudah minta tolong. Katanya ada petugas mau kesini. Tolong.” Suaraku parau. Kuusahakan bicara sepelan mungkin. Aku tidak ingin Dia mendengarku.

“Ibu, sabar. Polsek terdekat tidak bisa kami hubungi.”

Seketika kumatikan saja telepon itu tanpa menjawab lagi. Aparat keparat. Selain malam, kuputuskan juga membenci polisi.

Sejurus kemudian, Aku mendengar suara bercakap-cakap di teras. Ada langkah kaki masuk ke dapur. Menyalakan kompor. Menjerang air. Mengaduk gelas. Aku berteriak minta tolong. Tapi mendadak suaraku hilang di kerongkongan. Hatiku mengatakan orang itu bukan penolongmu. Tapi itu dia. Dia! Aku dengar mereka bercakap sambil tertawa. Sepertinya aku kenal betul suara satu lagi. Orang yang setiap malam keliling komplek rumahku membawa kentongan. Sial! Kenapa mereka malah mengobrol di depan? Apa dia tidak tahu aku nyaris mati disini?.

Kepalaku sakit sekali. Entah berapa kali dia benturkan tadi ke sudut jendela kamar. Kakiku mulai tidak bisa digerakkan. Sepertinya jempolku patah. Warnanya mulai merah dan nyeri luar biasa. Anakku mulai beringsut, memelukku dari belakang. Aku meliriknya. Mengusap rambutnya. Aku melihat sepasang mata bening itu berkaca-kaca. Air menitik membahasi pipi bulatnya. Warnanya tidak lagi merah jambu, tapi kuning pucat. Dia ketakutan. Kugendong dia. Kurebahkan kepalanya di dadaku. Dada Ibu semoga membuatnya nyaman. Padahal, aku juga sama takutnya.

Sambil mendekapnya, aku menyanyi lirih. Tapi suaraku serak bercampur lendir.

Twinkle Twinkle little star.

How I wonder who you are.

Aku tidak bisa melanjutkan lagu kesukaan bocah itu. Tidak ada bintang malam ini, Sayang. Untungnya, dia sudah jatuh tertidur. Mendengkur halus di pelukanku. Kelelahan.

Ingatan tentang bahagia melindap pelan di kepalaku. Berganti getir yang menyeruak. Rasa itu semakin menguat ketika kulihat sekeliling. Kenapa perabot-perabot yang semestinya mati ini mendadak hidup?. Meja, kursi, lemari, dipan, rak buku, semuanya memiliki wajah. Wajah dia. Laki-laki itu. Dan mereka semua tertawa. Kukerjapkan mata. Kupikir aku berhalusinasi. Ternyata mereka memang tetap bisu. Kaku. Pikiran tentang dia menghantuiku.

Aku sudah pernah menghadapi kematian. Cuaca gunung yang tidak bersahabat hampir merenggut nyawaku. Kawah Ratu sedang marah waktu itu. Asap belerang masuk ke dalam tenda, menghabiskan semua oksigen yang tersisa. Yang menyelamatkanku hanya selembar selendang tenun basah yang kupakai mendekap wajah. Tapi malam ini rasanya lebih dari mati.

Lagi, ingatanku terlempar ke masa dulu. Orang-orang bahagia menyalamiku yang juga terlihat bahagia. Kuhiraukan saja penyanyi organ tunggal menor yang mendendangkan lagu patah hati.  Harum bunga melati menyeruak dari tepi pelaminan. Kerabat datang dan pergi. Sahabat ribut berfoto bersama. Mereka bilang, selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia. Ya, Aku memang bahagia. Awalnya.

Tujuh tahun bukan waktu sebentar untuk mengenal dia. Kupikir aku sudah memahaminya. Ternyata tidak. Rasanya seperti masuk dalam lingkaran setan. Bulan madu, ketegangan, amarah, bahagia, bulan madu lagi, ketegangan lagi, begitu seterusnya. Aku kan sudah tahu teorinya. Kupikir aku tahu.

Tapi apa yang lebih menyakitkan dari kehilangan jati diri bertahun-tahun? Luka dan lebam masih bisa kuobati dengan cairan antiseptik dari apotek. Tapi diri yang sirna karena tekanan psikologis itu sakit luar biasa. Beberapa kali aku mencoba mati. Keinginan itu pupus ketika kulihat bocah itu mengoceh, lalu dia belajar berdiri, lalu dia belajar menyanyi. Lamat-lamat kuingat bocah itu berlari mengejar capung. Tertawa-tawa riang. Dia yang membuat Aku berani hidup. Hidup!. Aku tidak mau mati malam ini.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Aku terhenyak. Ada bisik dari balik pintu. Aku kenal suara itu. Adikku!. Si bibik rupanya sudah menelepon Ibu. Dia minta adikku datang menjemput. Aku gembira bukan kepalang. Bergegas aku menarik koper dari bawah tempat tidur, kumasukkan pakaian seadanya, surat-surat seperlunya. Satu set kereta api kesayangan si bocah kusambar dari atas meja. Aku pergi. Berani!

****

Kini, setelah dua belas bulan, apa yang tertinggal di kepalaku tentangmu?. Tidak ada. Aku menulis ini karena aku ingin tahu reaksi batinku sendiri. Apakah aku sedih? Apakah aku takut? Apakah aku marah?.

Setelah kejadian itu, sesekali aku menyempatkan waktu masuk ke dalam keheningan. Memberi ruang bagi batinku yang riuh. Memberi jeda pada pikiranku sendiri. Aku mengamati. Memperhatikan gerak pikiranku, merasakan sensasi-sensasi tubuhku, mengizinkan diriku mengamati Aku.

Butuh waktu lama aku berani kembali ke rumah itu. Enam bulan. Itupun, baru kulakukan setelah aku masuk ke dalam keheningan selama tiga hari di tepian bukit. Saat membuka pintu, untuk pertama kali setelah kejadian itu, aku memutuskan hening sejenak. Ketakutan itu sontak lenyap. Dia toh sudah tidak ada di dalam. Dia juga memutuskan pergi. Ketakutan yang tersisa ternyata hanya di dalam pikiranku sendiri.

Setiap kali aku hening mengamati batin, ada rasa hangat mengalir di dadaku. Rasa yang sudah lama sekali aku hiraukan karena bertahun-tahun aku hidup dalam gamang. Kehangatan itu ternyata membuatku nyaman. Tentram yang membuatku enggan hidup di masa lalu. Aku tidak mau melekat. Aku ingin bebas. Aku membebaskan batinku sendiri dari rasa sakit.

Ada kalanya dia kembali. Mengusik hidupku sesekali. Satu dua kali aku ingin sekali marah. Manusiawi bukan?. Tapi kesadaranku cepat kembali. Dia tidak lagi berhak atas hidupku. Dia tidak lagi berhak menggangguku. Toh, aku sudah memaafkannya meskipun tidak akan pernah lupa. Aku sudah berdamai.

Kini aku paham. Hidup memang hanya persinggahan. Bahagia yang kurasakan hari ini bisa berganti jadi duka. Juga sebaliknya. Amarah bisa berganti menjadi welas asih. Tidak ada satupun yang benar-benar melekat. Kalaupun aku harus mengalami momen itu, aku menerimanya. Utuh sebagai bagian dari diriku.

***

Si bocah tiga tahun itu berlari masuk ke rumah. Rambutnya bau matahari. Dia membawa sejumput bunga rumput segar. “Bunda, jangan sedih lagi. Ini bunganya untuk Bunda. Lihat, Bun. Bunga ini cantik sekali.”

Aku sadar. Aku adalah perempuan perobek malam. Bukan karena aku membencinya. Tapi karena aku ingin berjumpa pagi. Pagi yang cerah, yang hangat.

Aku hanya sedikit khawatir. Berapa banyak perempuan di luar sana yang mengalami kejadian serupa?. Pasti seperti gunung es saja. Aku tidak ingin kalian diam. Bicaralah. Aku memilih bersuara karena aku tidak ingin ada yang bernasib serupa. Aku memilih menjadi penyintas. Klise? Kupikir tidak. Karena tidak ada satupun kekerasan yang bisa dibenarkan. Pun kekerasan yang hadir di balik pintu rumah mungil yang indah.

Slipi, Agustus 2014