Patpong, Bangkok. Maret 2011. Ruangan itu pengap. Oksigen dalam ruangan seluas setengah lapangan basket ini mungkin tinggal separuh. Sisanya penuh nafas bau alkohol dan asap rokok. Kelip sinar laser menyumbang sedikit cahaya dalam ruangan yang dindingnya dicat hitam ini.
Di tengah ruangan, panggung persegi delapan dengan empat tiang. Tidak besar, cukup memuat dua atau tiga orang saja. Panggung dikelilingi kursi dan bangku kayu. Malam itu tidak satupun bangku tersisa. Puluhan turis takzim menonton pertunjukan diatas panggung, diiringi musik trance.

Tiger Show. Ya. Malam itu pertunjukan tari telanjang ekstrim sedang dipertontonkan. Sebetulnya, pertunjukan itu bernama Thai Girl Show. Entah, mengapa turis memilih menggunakan kata Tiger.

Di panggung ini, alat kelamin perempuan – vagina– tidak lagi berfungsi prokreasi. Tetapi jelas, rekreasi. Para penari memakai otot panggul mereka mengeluarkan dan memasukkan beragam benda dari vagina. Ya! Vagina!. Bola pingpong, rantai plastik, peluit, pena, rokok, sumpit, dan silet.

Seorang perempuan keluar dari balik tirai. Dia hanya memakai bikini. Perempuan muda, berkulit putih, berambut panjang ini menaiki tangga panggung sambil menari. Dia mengambil sebuah botol minuman ringan yang masih tertutup rapat. Mulut botol dimasukkan ke dalam vagina, lalu dia membuka tutupnya dengan bibir vaginanya. Tepuk tangan membahana. Dia membungkuk dan turun panggung.

Perempuan lain datang. Tubuhnya kurus. Terlihat puluhan sayatan silet di kedua tangannya. Dia mengambil tiga anak panah kecil, memasukkan ke dalam vagina. Memakai otot panggul, anak panah itu dia lontarkan ke papan dart diujung panggung. Tidak ada satupun yang meleset. Kembali penonton bersorak.

Lalu, giliran perempuan berusia hampir 40 tahun. Dia mengeluarkan rantai silet dari vaginanya. Di tengah pertunjukan, rangkaian silet itu macet. Perempuan malang. Dia berusaha keras, berkeringat, dengan wajah panik. Perempuan itu beruntung. Malam itu, rantai bisa dicabut tanpa melukai alat vitalnya. Entah esok hari…

Di Thailand, para pemandu wisata akan dengan senang hati menawarkan hiburan ini kepada pelancong. Patpong adalah salah satu kawasan di Bangkok. Tetapi bar dengan atraksi ini lebih banyak tersebar di Pattaya. Jangan bayangkan bar ini ada di sudut gang gelap nan kumuh. Tempat ini malah berada di pinggir jalan utama kota Bangkok.

Seorang pengunjung akan dikenai biaya 650 Baht atau sekitar Rp 185 ribu. Pengunjung mendapat satu gelas minuman dan boleh menonton satu kali putaran show. Setiap putaran diisi oleh 8-10 atraksi. Seorang bodyguard akan dengan senang hati mengusir bila anda mencuri-curi lebih dari satu putaran pertunjukan.

Pak Nah, seorang Melayu India, yang sudah 15 tahun bekerja sebagai pemandu bertutur. Gadis-gadis ini datang dari daerah termiskin di Thailand utara. Mereka masih muda, kira-kira 15-20 tahun. “Mereka awalnya bekerja sebagai buruh pabrik. Tapi krisis ekonomi membuat mereka rela menjual diri,” kata dia. Tentu, selalu ada agen yang membawa mereka dari kampungnya. Mereka dijual kepada para germo di Bangkok dan Pattaya. Sering, mereka juga didatangkan dari Burma, Kamboja, Laos dan Indonesia.

Perempuan malang. Mereka bekerja sejak pukul 6 sore sampai fajar menjelang. Tidak boleh terlambat sedetikpun atau upah mereka dipotong 5 Baht. Dalam sebulan mereka boleh libur dua malam. Bila bekerja penuh, mereka akan mengantongi 6000 Baht atau Rp 1,7 juta di akhir bulan. Bila bolos, upah tentu dipotong.

Seorang penari yang berwajah khas Indonesia sempat saya tegur di bawah panggung, tapi dia melengos. Tidak mau berbicara sepatah katapun. Dia perempuan usia 20an tahun berbadan kecil dan berambut cepak. Kulitnya gelap. Saat keluar dari ruangan, matanya bersiborok dengan mata saya. Entahlah apa artinya. Matanya sangat memelas.

Tubuh sepertinya bukan lagi milik mereka. Perempuan-perempuan ini harus bekerja 14 jam sehari, beratraksi menggunakan vagina. Dalam perang, perempuan dan vagina perempuan dipakai sebagai alat penguasaan melalui serangkaian pemerkosaan. Gadis-gadis Patpong tak ubahnya korban pemerkosaan. Pemerkosaan atas nama industri seks komersil. Atas nama pariwisata.

Catherine MacKinnon, seorang feminis dan profesor hukum, pernah bilang acara Tiger Show menjijikkan. Tetapi, logis bila disebut sebagai industri misoginis. “Pornografi perempuan Asia yang dijual telah hampir seluruhnya merupakan pornografi penyiksaan,” katanya. MacKinnon juga mencatat acara ini melanggengkan stereotip “timur yang eksotis”, yang dianggap sebagai fantasi rasis dan orientalis.

Identitas mereka direnggut. Mereka tidak diberi pilihan. Tubuh dan seksualitas mereka dijual atas nama industri seks komersial.