”Perempuan kok dengerin Iron Maiden.” Pernyataan itu terlontar dari seorang kenalan headbanger. Dia heran setiap pagi saya harus memulai hari dengan mendengarkan musik dari band yang digawangi Bruce Dickinson itu. “Bagaimana bisa mendengarkan musik yang bahkan liriknya sangat misoginis?”.

Dia memang benar. Heavy metal dan subgenre-nya adalah musik yang penuh dengan pesan kekerasan, pemberontakan, darah, pemujaan terhadap setan, dan apalah itu — yang gahar dan sangar – sebut saja. Harus saya akui, heavy metal adalah musik yang liriknya identik dengan maskulinitas, misoginis dan seksis. Jangankan feminis, perempuan pun sebaiknya tidak mendengarkan musik ini.

Tidak percaya? Silakan membaca penggalan lirik yang dinyanyikan oleh band trash metal dari California, Slayer. Judulnya saja sudah sangat misoginis: Sex, Rape, Art.

“You’re nothing. An object of animation. A subjective mannequin. Beaten into submission. Raping again and again.”

Dari petikan itu saja sudah bisa ditebak, lagu ini menganjurkan perkosaan terhadap perempuan. Slayer, seringkali dipelesetkan menjadi Satan Laughs As You Eternally Rot, memang kontroversial. Band ini berkali-kali digugat karena dituding memicu bunuh diri sejumlah remaja di Amerika Serikat.

Lantas mengapa saya masih mendengarkan heavy metal dan beberapa alirannya seperti progressive metal, speed/trash metal, black metal dan bahkan sesekali death metal? Ada alasannya.

Musik Proletar

Ada banyak perdebatan sejak kapan istilah heavy metal dipakai untuk mendefiniskan genre ini. Heavy metal muncul pertama kali dalam sebuah lirik lagu berjudul Born to be Wild dari band Steppenwolf tahun 1968. Jauh sebelum itu, heavy metal muncul dalam sebuah novel Naked Lunch karya William S. Borroughs. Adalah seorang kritikus musik ternama, Lester Bangs, yang mempopulerkannya sebagai sebuah genre musik. Dia menyebut Led Zeppelin dan Black Sabbath sebagai band beraliran heavy metal tahun 1972.

Black Sabbath
Black Sabbath

Heavy metal sebagai genre musik adalah anak kandung blues. British blues rock band yang tumbuh di akhir 1960an memberi pengaruh besar. Empat orang asal Birmingham yang membentuk band Earth, belakangan berganti nama menjadi Black Sabbath, memberi sentuhan baru pada blues. Blues rock menjadi lebih berat, lebih keras, dan lebih gelap.

Tapi, semangat pemberontakannya tetap dipertahankan. Black Sabbath adalah satu dari banyak band yang lahir dengan akar kelas pekerja, sama halnya dengan Led Zeppelin dan Deep Purple. Mereka lahir di daerah yang sebagian besar didominasi lingkungan pabrik industri bersama masyarakat dengan ide konservatif religius. Tony Iommy, gitaris lahir di Aston, Birmingham, sebuah kawasan industri yang gelap dan kasar. Lingkungan yang memaksanya menjadi pribadi yang kuat dan keras.

Dilihat dari akarnya, baik musik dan latar belakang musisinya, heavy metal adalah musik kaum proletar. Heavy metal adalah perlawanan terhadap kelas borjuis dan negara borjuis. Seperti yang dikatakan Karl Marx dalam Manifesto Komunis, perlawanan terhadap kelas adalah perjuangan abadi. Musik heavy metal tidak bisa menjadi musik yang lembut dan imut karena bertentangan dengan semangat pemberontakan dan perjuangan melawan kelas borjuis. Heavy metal memang ditakdirkan menjadi musik yang keras.

Robert Walser, penulis buku Running the Devil : Power, Gender, and Masculinity in Heavy Metal (1993) mengatakan musik metal mengartikulasikan dialektika kekuasaan dan kebebasan transenden. Karena itulah, lagu-lagu heavy metal menuntut permainan teknik gitar listrik tingkat tinggi, distorsi, vokal bertenaga terkadang dengan teriakan dan geraman, serta hentakan bas serta ketukan drum yang cepat.

Simbol pemberontakan juga terlihat dari penampilan para musisinya. Rambut gondrong, celana kulit atau spandek, jaket kulit atau jeans, sepatu boot, tato, aksesoris paku atau logam. Tetapi sejumlah band beraliran glam metal seperti Poison dan Alice Cooper agak sedikit berbeda dengan penampilan androgini. Tapi pesannya tetap sama: mendobrak kemapanan.

Tidak seperti genre musik lain, pada awal perkembangannya, heavy metal tidak mendapat tempat dalam siaran radio atau televisi. Padahal media ini menjadi saluran utama para musisi mengenalkan karya pada penggemar mereka. Band-band heavy metal akhirnya menggelar konser di tempat terbuka, stadion atau lapangan olahraga dengan tata suara spektakuler dan tata panggung megah. Adaptasi ini justru menciptakan kesetiaan penggemar pada band favorit mereka. Rasa solidaritas sesama penggemar pun terbangun.

Setelah sempat pudar karena gempuran musik disco, aliran New Wave of British Heavy Metal seperti Iron Maiden dan Diamond Head mengembalikan heavy metal pada masa kejayaannya. Dekade berikutnya, pada awal 1980an, munculah trash/speed metal lewat The Big Four : Metallica, Anthrax, Slayer dan Megadeth. Sejak saat itu, band-band heavy metal dengan beragam subgenre merajai musik dunia.

Hipermaskulinitas

Agresi dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup di alam selama ribuan tahun. Dalam heavy metal tercermin keinginan manusia paling purba : perjuangan, pemberontakan, perbedaan pendapat, semangat bertahan hidup dan cara menghadapi ketakutan yang tak diketahui. Ini adalah ide-ide yang selalu ada dalam sepanjang sejarah umat manusia. Metal bahkan mengangkat sisi tergelap manusia.

Adalah fakta bahwa pendengar heavy metal didominasi laki-laki. Sifat agresif heavy metal membuatnya menarik bagi pendengar laki-laki. Meski bisa diperdebatkan, agresifitas adalah sifat natural biologis laki-laki. “Selama ada amarah, muda, laki-laki kulit putih, maka ada kebutuhan untuk mendengarkan musik heavy metal,” kata David Konow, dalam Bang Your Head: the Rise and Fall of Heavy Metal (2002).

Namun, hal yang mengejutkan terjadi ketika melihat heavy metal dalam konteks budaya masyarakat (barat). Bukannya dipuji, heavy metal dipinggirkan oleh budaya arus utama. “Ada stereotip, penolakan, kecaman dan kutukan seolah-olah metal adalah musik yang tidak valid,” kata Samuel Dunn, dalam Metal : A Headbanger’s Journey (2005).

Mungkin, dalam arti tertentu, heavy metal merupakan bentuk keberbedaan. Dunn mengatakan metal menghadapi apa yang kita abaikan, merayakan apa yang kita sangkal, menuruti apa yang paling kita takuti. “Itulah sebabnya, metal akan selalu menjadi budaya luar.”

Seorang pemikir strukturalis, Ferdinand de Saussure, berpendapat bahasa yang mendefiniskan ide dalam pikiran manusia memicu perilaku tertentu. Pikiran kita adalah sebuah nebula samar yang belum dipetakan yang didefiniskan oleh bahasa. Pada tingkat yang paling dasar, bergabungnya bahasa dan pikiran tampil dalam bentuk penanda, simbol, kata atau gambar dan makna dibalik tanda.

The Big Four : Metallica, Anthrax, Slayer, Megadeth.
The Big Four : Metallica, Anthrax, Slayer, Megadeth.

Jaket kulit, tato dan rambut gondrong adalah penanda heavy metal. Tapi, pada tingkat yang lebih dalam, heavy metal dapat dilihat sebagai penanda dari psikologi kelas pekerja yang agresif. Oleh karena itu, bukanlah secara biologis laki-laki dituntut agresif, melainkan sosial. Adalah tugas laki-laki berperilaku agresif dan tidak patuh. Laki-laki mudah menjadi bagian dalam budaya heavy metal karena dia diterima dan diijinkan memiliki perilaku seperti itu.

Tidaklah mengherankan bila perempuan tidak benar-benar menjadi bagian dalam budaya ini. Menurut Jorge Pilay dalam Heavy Metal and Gender: All the Gender Issues Aside (2010), jika perempuan dipandang sebagai Liyan yang absolut, maka budaya ini tidak hanya merangkul mereka tetapi merayakannya sebagai bentuk akhir dari pemberontakan.

Nyatanya tidak. Geddy Lee, pemain bass band Rush mengatakan, “proses kreatif muncul dari dorongan pendengar remaja laki-laki dan keinginan menjadi pemain yang baik.” Pada akhirnya, musik heavy metal memang diciptakan untuk pendengar laki-laki. Hal ini diwakili dalam penonton yang sebagian besar laki-laki dimana dominiasi phallus ditampilkan, dan lagi-lagi, menjadi pameran superioritas (Dunn).

Yang cukup menarik, ide gender ditumbangkan dan sebagian besar diabaikan di banyak sejarah heavy metal, setidaknya di atas panggung. Dunn mengatakan apa yang dilanggengkan oleh budaya ini adalah “heroisme, dunia khusus laki-laki, dimana sekumpulan laki-laki sedang melakukan bagiannya,” dengan logika “berpikir tentang gender dengan tidak berpikir tentang gender.” Heavy metal adalah dunia laki-laki yang menciptakan perilaku hipermaskulin dalam budaya yang secara natural sudah agresif dan penuh pemberontakan.

Perempuan: Metalheads atau Groupies?

Bukan berarti tidak ada perempuan yang masuk ke dalam dunia ini. Ada. Metalheads perempuan juga menyukai intensitas dan kekuatan sounds, ketrampilan teknik bermain musik, emosi yang terbangun dan lirik. Lucia, 32, seorang headbanger perempuan mengaku jatuh cinta pada Metallica dan Sepultura karena intensitas soundsnya mampu memeras amarahnya hingga titik nihil. “Ini adalah musik marah,” katanya.

Tetapi pada banyak kasus, di dunia hingar bingar ini, perempuan masih dipandang sebagai Liyan, yang lain. Bila ingin diterima, perempuan yang datang ke konser metal diharapkan berperilaku sama dengan metalheads laki-laki. Berpakaian hitam, memakai kaos band favorit, aksesori yang sama, ikut headbanging, kalau perlu bertato. “Itu baru metalhead,” kata Ricky, 28, metalhead laki-laki.

Slayer Chick
Slayer Chick

Sepanjang perempuan mampu mengikuti kode yang berlaku dalam budaya heavy metal ini, dia akan diterima. Tidak akan diusik bila terjepit di antara ribuan laki-laki yang menonton di kelas festival. Atau bahkan dilindungi bila terjepit di tengah moshing pit atau wall of death. Tapi, jarang sekali ditemui, perempuan datang bersama teman-teman perempuannya menonton konser metal dan berdiri paling depan.

Ada determinasi antara metalheads perempuan dan laki-laki. Metalheads laki-laki mendengarkan metal karena menyukai musiknya. Tapi, metalheads perempuan dianggap menyukai band metal karena ketertarikan seksual dengan pemainnya. Misalnya, gitarisnya ganteng atau vokalisnya tampan. Stereotipe ini berlaku ketika perempuan mendatangi konser metal. “Ah, mungkin cuma ikut pacar atau ngeceng,” kata Dani, 34, metalhead penggemar Megadeth.

Kalau perempuan berpakaian seksi, mereka dianggap groupies. Harus diakui, dalam konser band-band besar selalu ada perempuan groupies. Vanilla Fudge, drummer Carmine Appice menyebutkan dalam tur mereka dengan Led Zeppelin. “Mereka ada di kamar hotel dan melecehkan gadis-gadis. Melakukan semua hal yang juga dilakukan Mike Tyson,” katanya. Pada era kejayaannya, ada banyak band yang malah sibuk bermain seks dengan groupies daripada fokus bermain musik seperti kasus Vince Neil, vokalis Mötley Crüe.

Seorang mantan groupie, Pamela Des Barres mengatakan, “groupie adalah seorang gadis, yang biasanya ingin bergaul dengan kelompok-kelompok, termasuk kelompok musik. Dari sinilah kata itu berasal.” Namun, bergaul diterjemahkan lebih dari sekedar duduk dan mengobrol dengan musisi. Lebih sering berhubungan seks. Seperti ketika John Bonham menampilkan drum solo pada lagu Moby Dick selama 20 menit, anggota Led Zeppelin lainnya malah meminta oral seks dari seorang groupie di ruang ganti mereka!.

Tapi tentu ini bisa diperdebatkan karena tidak semua groupies ingin tidur dengan musisi idola mereka. Namun Dunn mengatakan budaya heavy metal memang mendorong budaya kebencian terhadap perempuan, memanfaatkan ketidakberdayaan dan objektifikasi seksual perempuan.

Perempuan Mendobrak

Hampir 40 tahun, sejak era Iron Maiden dan Metallica ke Hatebreed dan Cradle of Filth, heavy metal sudah dicintai dan menjadi genre musik kontroversial. Fashion statementnya: rambut panjang atau cepak, kaos hitam, celana jeans ketat atau celana pendek, sepatu boot atau sneakers, serta laki-laki berotot dan bertato. Inilah industri musik maskulin.

Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, perempuan juga akan masuk ke dalam industri ini, menentang batasan gender dan membuat statement sendiri di dunia musik metal. Ada banyak perempuan pentolan grup band metal mulai dari Wendy O’ Williams (Plasmatics), Karyn (Crisis), Simone Simons (Epica), Christina Scabbia (Lacuna Coil), hingga Sharon den Adel (Within Temptation).

Mereka tidak tampil imut seperti Katy Perry atau nyentrik seperti Lady Gaga. Ini bukan musik pop lembut yang bisa didengar santai dan bicara tentang hal-hal biasa. Metal adalah musik yang melampaui batas-batas norma sosial. Basis pendengar yang mayoritas laki-laki membuat mereka menyandang “tugas” yang tidak biasa. Sebab metal bukan hanya tentang kebebasan, tetapi tentang melepaskan amarah, agresi dan rasa sakit.

Bahkan seorang Karyn, vokalis band Crisis dan dikenal sebagai Mother of Metal menghadapi pertentangan luar biasa ketika namanya melambung sebagai pentolan band metal. Padahal dia sudah beradaptasi dengan menampilkan aksi panggung agresif dan mengambil persona androgini demi berasimilasi dengan genre tersebut. Sama halnya dengan Wendy O’ William yang berani tampil urakan di atas panggung dan menolak segala batasan tentang vokalis perempuan.

Tentu saja, mereka ingin membuktikan diri. Genre musik ini dikenal sangat misoginis dimana perempuan menjadi objek eksploitasi. Misalnya, lagu Nothing Left to Mutilate milik band Cannibal Corpse yang bahkan liriknya terlalu misoginis dan sadis untuk saya kutip disini. Metal adalah gudangnya lirik seksis. Tapi Karyn dan Wendy serta musisi metal perempuan lainnya berhasil menjadikan panggung sebagai “alat kampanye” kesetaraan. Musik metal juga untuk perempuan.

Memang, masih ada perdebatan di kalangan feminis. Ada yang bilang, perempuan sebaiknya mendengarkan musik yang berpihak pada perempuan. Musik dari perempuan, oleh perempuan dan untuk perempuan. Bukan malah ikut melanggengkan budaya misoginis lewat musik yang kasar dan hingar bingar ini.

Perlu diingat, perempuan yang masuk dalam industri heavy metal ini adalah simbol kekuatan. Mereka menampilkan esensi heavy metal dengan mendobrak peran gender tradisional yang ditentukan oleh masyarakat. Perempuan telah ditekan sepanjang zaman dan menjadi Liyan laki-laki. Sama seperti kelas pekerja yang memulai aliran heavy metal ini, perempuan juga bagian strata bawah masyarakat yang ingin bangkit dari ketertindasan.

Pada akhirnya musik adalah masalah selera. Tapi, perempuan, bebaskan dirimu. Jangan terjebak dengan asumsi perempuan harus mendengarkan musik ini dan jangan mendengarkan musik itu. Membebaskan dirimu berarti juga memberdayakan. Ingat, musik hadir tanpa mengenal jenis kelamin. Semua telinga, laki-laki atau perempuan, diciptakan sama. Toh, bermain gitar dan drum juga tak perlu menggunakan penis, kan? \m/