Dia tidak sedang berorasi, tidak pula berteriak lantang. Tapi kata-katanya tajam seperti mata pisau. Merobek suara klakson mobil yang pengendaranya tergesa-gesa pulang. Menembus tembok-tembok kota Jakarta yang angkuh. Meluruhkan senja. Kalimatnya menjebol tanggul mataku. Aku terpelanting. Hilang.

Perempuan ini berdiri tegak menantang aspal. Tak peduli panas membakar telapak kakinya yang tak memakai alas. Dia Sukinah, 39 tahun, warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Ia membawa kabar tentang tanah kelahiran. Pegunungan Kendeng dalam bahaya.

Sukinah datang ke kota tidak sendirian. Ada Sakijah, Muwarti, Rusmi, Surani, Gunarti, Ngatemi, Giyem dan Suyati. Perempuan-perempuan dari lereng Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Mereka datang membawa lesung. Menabuhnya di depan Istana Merdeka. Suara kotekan lesung bertalu, memberi isyarat bencana. “Dulu tidak pernah kekurangan air, tapi sejak ada tambang setiap musim kemarau, belum musim panjang saja air sudah habis.”

Kamis, 9 April 2015, tepat 297 hari mereka berjuang. Sembilan bulan lebih. Seperti seorang Ibu yang akan melahirkan. Ada harapan, perjuangan, ketakutan, letih, tapi pantang menyerah. Demi mempertahankan nyawa mereka: sumber air Watu Putih.

Perempuan-perempuan desa ini membawa selembar surat untuk Presiden Joko Widodo. Mereka ingin Presiden tahu. Ada ancaman krisis air, kekeringan, banjir dan longsor di Rembang, Pati, Blora dan Grobokan. PT Semen Indonesia dan sejumlah perusahaan lain akan mengeruk gunung. Menggantikan sawah, ladang, hutan dengan tambang dan tiang pancang beton pabrik. “Kalau dibangun tambang, lahan pertanian habis dan air juga habis.”

Menurut data Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, saat ini sejumlah perusahaan tambang sudah mengepung, siap meratakan Pegunungan Kendeng. Selain PT Semen Indonesia di Rembang, ada PT Vanda Prima di Grobogan Purwodadi, PT Alam Blora Lestari di Blora, dan PT Indocement di Pati. Mereka akan mengeruk gunung dan menggusur sawah ladang. Setidaknya 900 hektar lahan di Rembang dibabat habis, 2.868 hektar di Pati akan digerus, 1.700 hektar di Grobogan, dan 2.025 hektar lahan di Blora akan dikeruk.

Darah sudah tumpah tahun 2014 lalu ketika ibu-ibu desa bentrok dengan aparat berseragam. Mereka sudah kenyang ancaman dan teror. Tapi dia tidak menyimpan dendam. Dalam kepalanya, hanya ada perjuangan. “Dulu simbah saya memperjuangkan tanah ini sampai mandi darah. Kenapa kita tidak meneruskan perjuangan itu. Demi anak cucu.”

Kenapa justru perempuan-perempuan dari lereng Gunung Kendeng ini yang berdiri di garda depan melawan pembangunan pabrik semen? Karena Sakinah dan teman-temannya dekat sekali dengan alam. Bagi dia, Bumi adalah personifikasi seorang Ibu. Dia memanggilnya Ibu Bumi.

Seperti halnya Ibu yang merawat; Kendeng dan Watu Putih juga memberinya makan, minum dan membantu bertahan hidup. Teramat luka ketika mengetahui Ibu Bumi disakiti. Dia berontak. Tidak terima Ibu Bumi diperkosa. “Jangan sampai Ibu Bumi ini rusak. Soalnya Ibu Bumi ini sudah memberi anak cucunya begitu banyak. Ibu Bumi ini sudah memberi kami makan.”

Relasi Perempuan dengan Alam

Seperti halnya feminisme, tidak ada satu azas tunggal dalam ekofeminisme. Seperti halnya ada perbedaan perspektif antara feminis liberal, marxis, radikal, sosialis, postmodern, eksistensialis dan feminis dunia ketiga. Tapi prinsip dasar dari berbagai aliran ekofeminisme adalah: ada hubungan antara dominasi perempuan dan dominasi alam. Sejak perempuan dikaitkan dengan alam secara kultural selama ribuan tahun, maka relasi konseptual, simbolik dan linguistik antara feminisme dan isu ekologi juga erat.

Dalam ekofeminisme ada yang mendukung pemisahan antara perempuan dan alam, ada yang mendukung hubungan perempuan-alam, ada pula yang mendekonstruksi dengan mendukung penghilangan penekanan pada relasi antara perempuan dan alam.

Ekofeminisme sebetulnya adalah istilah yang relatif baru. Diperkenalkan oleh seorang feminis Prancis Françoise d’Eaubonne dalam buku Le Féminisme ou la Mort (1974). d’Eaubonne menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara opresi terhadap perempuan dengan opresi terhadap alam.

Ariel Salleh, ekofeminis dari Australia menajamkan dalam esainya Environment: Consciousness and Action (1988). Menurutnya, “ekofeminisme merupakan perkembangan baru dalam pemikiran feminis yang berpendapat bahwa krisis lingkungan global saat ini adalah hasil budaya patriarki.”

Karen J. Warren menyebutkan cara berpikir patriarki yang hirarkis, dualistik dan opresif merusak perempuan dan alam. Alam difeminisasi ketika dia diperkosa, dikuasai, ditaklukkan, dikendalikan, dipenetrasi, ditambang oleh laki-laki. Alam juga dihormati, disembah dan diagungkan seperti halnya seorang Ibu.

“Jika laki-laki adalah tuan dari alam, jika laki-laki telah diberi kuasa atas alam; maka ia akan memiliki kendali tidak saja atas alam, tapi juga perempuan. Apapun yang bisa dilakukan laki-laki pada alam, juga dapat dilakukan pada perempuan.”

Sudut pandang patriarkal didasarkan pada dualisme yang memisahkan pikiran dari tubuh, jiwa dari materi, laki-laki dari perempuan, budaya dari alam. Dualisme yang memberikan nilai atau status yang lebih tinggi kepada apa yang secara historis diidentifikasi sebagai pikiran, nalar dan laki-laki dibandingkan dengan tubuh, perasaan dan perempuan. Logika dominasi inilah yang kemudian mengarahkan pada pembenaran pada subordinasi pada perempuan juga alam.

Mary Daly, seorang feminis radikal dari Amerika Serikat, mengenalkan istilah Gyn/Ekologi (ginekologi). Daly mengkontraskan kekuatan perempuan dengan laki-laki. Menurut dia, perempuan memiliki kekuatan menghadirkan kehidupan (lewat rahim) dan berelasi dekat dengan alam, bumi dan binatang. Sementara laki-laki tidak. Laki-laki tidak memiliki kekuatan menghadirkan kehidupan, karena itu tidak mampu menjalin kehidupan dengan alam. Kekuatannya ada pada tindakan destruktif.

Menurut Daly, ginekologi laki-laki adalah ginekologi yang membagi-bagi. Ginekologi yang merusak, masuk, membuat lubang, memisahkan menjadi bagian-bagian. Sementara ginekologi perempuan adalah ginekologi yang membuka, mengembangkan jaringan yang hidup dan merawat.

“Ada banyak perempuan yang terlibat. Memang yang ada di garda depan itu ibu-ibu. Soalnya nanti kalau bapak-bapak itu nanti saling dorong, bapak-bapak kan egonya sangat tinggi. Nanti konflik. Kami ini kan perempuan, lemah lembut. Ibu Bumi juga lemah lembut. Bumi yang merawat kami,” kata Sukinah.

Perempuan dianggap lebih dekat dengan alam dibandingkan dengan laki-laki. Alam digambarkan sebagai feminin. Keterkaitan fisiologis perempuan dengan kelahiran dan pengasuhan anak semakin mempererat hubungan alam dan perempuan. Siklus menstruasi, yang terkait dengan perhitungan bulanan, juga dianggap sebagai relasi tubuh perempuan dengan alam. Begitu pula dengan siklus mengandung dan melahirkan.

Melalui pengalaman tubuh perempuan yang unik, mulai dari menstruasi bulanan, kehamilan yang sangat menuntut perhatian, kesakitan ketika melahirkan hingga kenikmatan menyusui anak; perempuan mengetahui rahasia yang tidak diketahui laki-laki. Manusia adalah satu dengan alam. Sukinah, perempuan yang membesarkan dua orang anak, juga meyakini bahwa keterkaitan antara konsep Ibu dengan Bumi sangat erat. “Sebagai seorang ibu, aku merasakan Ibu Bumi ini sudah minta tolong. Jadi aku harus menolong Ibu Bumi yang sudah kesakitan ini.”

Pengetahuan Sukinah tentang peran Ibu Bumi didapatnya dari pengalaman sehari-hari sebagai seorang perempuan. “Aku belajar dari alam,” katanya. Kearifan yang ia dapat ketika berinteraksi dengan tanah, air, dan udara. Dia menganggap Bumi adalah seorang Ibu Agung, yang harus dijaga bukan dirusak dan dihancurkan. Agama Sakinah adalah alam.

Starhawk adalah seorang ekofeminis yang mengaitkan antara perempuan, alam dan spiritualitas. Spiritualitas berbasis Bumi menempatkan pada kesadaran bahwa setiap makhluk mempunyai nilai. Bila kita tumbuh dengan kesadaran seperti ini, maka kita akan mengambil tanggungjawab atas semua orang dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kita termasuk alam. Ketika yang terjadi adalah peracunan dan penghancuran bumi, pengembangan pribadi kita juga akan menuntut kesadaran untuk melakukan sesuatu: menghentikan dan mengembalikan serta menyembuhkan Bumi.

Sukinah, perempuan dari lereng Gunung Kendeng, menyadari. Sekali saja tanah Kendeng dirusak dan dihancurkan, maka nasib manusia-manusia yang menggantungkan hidup kepadanya tidak akan pernah tertolong lagi. Tanah, air, dan udara Kendeng tidak akan pernah sama lagi. Pada titik itu, Sukinah sadar. Bila Bumi Kendeng hancur, maka Tanah Jawa juga hancur. “Jawa ini harus dilestarikan. Indonesia ini kan sangat kaya. Tanahnya sangat subur, sumber daya alamnya sangat kaya jangan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.”

Ancaman yang mendera warga Rembang bukan hanya soal krisis lingkungan. Tapi juga konflik horizontal. Saat ini, warga terbelah. Ada yang pro dan ada yang kontra. Mereka yang mendukung beralasan pabrik semen akan memberikan lapangan pekerjaan. Bagi Sukinah, pilihan ini mengecewakan.

“Padahal sebelum ada pabrik semen aja setiap hari kerja. Itu gak dipikir. Mungkin itu mikirnya cuma sesaat. Tapi kami yang menolak mikirnya bukan cuma buat kami. Tapi buat anak cucu ke depannya gimana. Jangan sampai anak cucu sengsara.”

Kisah tentang Sukinah dan perempuan-perempuan Kendeng ini mungkin hanya selintas kita baca. Kita akan kembali tenggelam dalam rutinitas harian: bekerja, jalan-jalan, duduk di kafe yang nyaman sambil memperbaharui status media sosial.

Sementara Sukinah dan teman-temannya akan kembali ke tenda keprihatinan di lereng pegunungan Kendeng sambil berharap keadilan datang menghampiri. Bermimpi mereka bisa kembali memeluk Ibu Bumi mereka yang baru saja disakiti. Merawat lukanya. Mengembalikan keutuhannya. Menghidupkannya.

Saya bertanya, perempuan. Apa yang akan kita lakukan kalau Ibu kita diperkosa? Akankah kita melakukan hal yang sama? Sukinah memilih melawan. Perempuan desa yang tak pernah sekolah ini bilang, “Ibu Bumi tak boleh lagi disakiti.”

Bahan bacaan:

Ariel Salleh, Environment: Consciousness and Action, Journal of Environmental Education Vol 20 (1988)

Karren J. Warren, Newsletter on Feminism and Philosophy (Fall:1991)

Mary Daly, Gyn/Ecology: The Metaethics of Radical Feminism (Beacon Press: 1978)

Rosemarie Putnam Thong, Feminist Thought (Jalasutra: 1998)