Matahari sudah condong ke barat ketika Tempo bertandang ke rumah penyair Sapardi Djoko Damono di kompleks dosen Universitas Indonesia, Cirendeu, Ciputat, tiga pekan lalu. Rumah bercat putih itu hanya sepelemparan batu dari Situ Gintung.

Perabot di rumahnya sederhana, menguatkan sosok Sapardi yang lekat dengan puisi liris yang bersahaja. Tidak ada mebel besar dan mewah. Hanya seperangkat kursi tamu yang dimakan usia, bantal kursi bermotif batik, kulkas tua, bale kayu berlapis tikar rotan, rak kayu penuh buku, dan sebuah komputer.

Berkemeja cokelat dengan celana jins, wajah Sapardi yang berkacamata terlihat tirus. Malam sebelumnya, dia harus lek-lekan, tidak tidur karena menemani beberapa penyair yang bertamu. “Mereka mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal saya sendiri enggak merasa berulang tahun,” katanya. Tiga pekan lalu penyair yang rambutnya sudah memutih ini genap berusia 70 tahun.

Sapardi tinggal di rumah itu dengan seorang pembantu. Istrinya, Wardiningsih, dan dua anaknya, Rasti Suryandani dan Rizki Henriko, tinggal di Depok, Jawa Barat.

Bangunan di atas lahan 400 meter persegi yang ditempati sejak 1995 itu merangkap kantor penerbitan miliknya, Editum. Bermodal komputer dengan program Microsoft Word dan sebuah printer, dia mencetak ulang 14 bukunya.

Kekecewaan Sapardi kepada penerbit sudah memuncak. Sejak tahun lalu, dia mencabut hak cipta semua karyanya. “Bikin sakit hati,” katanya. Sapardi enggan menyebut berapa jumlah royalti yang diperoleh setiap tahun dari penerbit sebelumnya. “Tidak jelas dan belum tentu ada. Buku puisi kan tidak laku,” katanya.

Selain menulis puisi, Sapardi masih mengajar di Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Indonesia. Dia juga menulis esai dan kritik sastra, menerjemahkan dan menyusun makalah.

Sesama penyair biasa menyapanya Sapardi atau SDD. Istrinya memanggil Djoko. Namun seorang penulis perempuan dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada memanggilnya Dam.

Dia lahir di Baturono, Solo, 20 Maret 1940, tepat pada bulan Sapar. Ayahnya, Sadyoko, salah seorang abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta yang menjadi pegawai negeri sipil Jawatan Pekerjaan Umum.

Saat Sapardi menginjak remaja, keluarganya pindah ke Kampung Komplang, Solo bagian utara. Rumah di pinggir kota ini memberikan suasana baru. Kampung yang sepi membuat Sapardi tidak lagi keluyuran. Dia memilih menulis.

Sapardi asyik dolan, tapi tidak lagi di ruang fisik, melainkan keluyuran di alam khayal. Cerita pendek pertamanya dikirim ke suplemen Taman Putro milik majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, tapi ditolak. “Karangan saya dianggap enggak realistis,” ujar lulusan Sastra Barat Universitas Gadjah Mada ini.

Buku kumpulan puisi pertamanya, Duka-Mu Abadi, terbit berkat bantuan sahabatnya, pelukis Jeihan Sukmantoro, pada 1969. Sajak-sajak itu ditulis dua tahun sebelumnya. Sejak itu, Sapardi semakin subur memproduksi kata-kata.

Dia telah menerbitkan puluhan buku sastra, sebagian kumpulan puisi. Pada 1974 terbitlah Mata Pisau, menyusul Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2002), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002), dan Kolam (2009).

Sapardi juga menerjemahkan sejumlah sastra asing, termasuk karya Kahlil Gibran. Lucunya, puisinya yang berjudul Aku Ingin malah sering dianggap karya Kahlil Gibran. Padahal puisi itu kerap dikutip di lembar pertama undangan pernikahan.

Stamina dan vitalitasnya seolah tidak pernah mati. Dia mengaku sehat meski postur tubuhnya terlihat ringkih. “Saya enggak ada pantangan makan. Sate, gule, tongseng kambing masih saya makan,” katanya. Meski pernah terkena serangan jantung, Sapardi lekas pulih. Dia termasuk satu dari sedikit seniman yang rajin check-up kesehatan ke dokter.

Tidak banyak yang tahu Sapardi jago bermain gitar. Mantan gitaris band kampus ini juga mengoleksi ribuan lagu dalam format MP3 di komputernya. Dia menyukai jazz tapi mengagumi The Beatles. Saat Tempo memintanya memetik gitar, dia hanya tertawa, “Ah, sudah tua.”

Sambil menawarkan teh manis dalam cangkir keramik bermotif kembang, Sapardi terus bertutur. Dia mengaku dulu belajar menulis puisi dari Rendra lewat karya Ballada Orang-orang Tercinta. “Puisi Rendra mudah dipahami,” katanya. Puisi karangan penyair Chairil Anwar baru dia pelajari belakangan.

Sapardi tidak suka televisi. Dia menghindari suara bising televisi atau radio, yang membuatnya tidak bisa merenung, apalagi menulis. “Untuk apa? Bikin bingung saja,” katanya. Dia bahkan tidak berlangganan koran atau majalah.

Soal menulis, peraih SEA Write Award dan Ahmad Bakrie Award ini pernah hanya butuh waktu 15 menit untuk menciptakan puisi. “Tapi makin lama makin susah menulis. Saya menjadi kritikus tulisan saya sendiri,” kata pendiri Yayasan Lontar ini.

Puisi berjudul Dongeng Marsinah dalam kumpulan Ayat-ayat Api, misalnya, butuh waktu tiga tahun untuk dirampungkan. “Saya otak-atik terus, tapi tidak jadi-jadi,” katanya tentang karya untuk mengenang buruh perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur, yang tewas dibunuh pada masa Orde Baru itu.

… tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu..

Penggalan sajak Hujan Bulan Juni itu mewakili karya Sapardi yang liris dan sederhana. Dia menjadikan lirik sebagai genre puisi yang lentur dan variatif. Banyak orang jatuh cinta pada puisi setelah membaca karyanya dan menjadi penggubah puisi setelah terpikat sajak-sajaknya. “Dia salah satu rasul utama dunia puisi Indonesia,” penyair Joko Pinurbo menyampaikan pujian.

Sapardi berhasil melanjutkan tradisi lirisisme yang dimulai sejak Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Liris memiliki unsur yang menonjol: kental menciptakan suasana, ungkapan, dan mengolah bahasa. “Sapardi sangat kuat dengan puisi suasananya,” penyair Sitok Srengenge menambahkan ciri puisi Sapardi.

Tema keseharian yang dipilih Sapardi menjadi kekuatannya. Karyanya tentang hujan, bunga jatuh, air selokan, bayangan, batu, pohon belimbing menunjukkan betapa dia akrab dengan suasana sehari-hari yang kerap dilupakan orang lain. “Saya menganggap orang dan benda itu sama,” kata Sapardi. “Seperti anak kecil, benda saya anggap teman.”

Namun ada pula yang menganggap kesederhanaannya sebagai kemiskinan kata. Kosakata yang digunakan dalam rentang waktu 40 tahun karyanya dinilai terbatas. “Miskin itu relatif. Tapi Sapardi mengulang-ulang,” kata kritikus sastra Nirwan Dewanto.

Dalam karya-karya Sapardi, hujan misalnya tumbuh dalam pelbagai variasi: hujan yang terpisah dari tik-tok jam; hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, payung, dan berdiri di samping tiang listrik; hujan yang mengenal baik pohon, jalan, dan selokan; hujan bulan Juni yang lebih tabah dari siapa pun; dan hujan yang tak sempat menerima isyarat awan.

Puisi Sapardi, menurut Nirwan, merupakan karya yang ingin dicintai dengan sederhana. Dia tidak menuntut: puisi yang dengan sendirinya membuka diri. Puisinya mudah digemari karena genap dalam gramatika dan semantik. Lantaran itu, sejumlah orang melakukan musikalisasi atas puisi-puisinya.

“Kita memang ingin mencintai puisi dengan sederhana. Namun boleh jadi cinta yang sederhana tak cukup lagi, karena di hadapan kita terbentang puisi-puisi dari aneka tanah air, yang mengundang sedikit amarah, sedikit cemburu, dan sedikit muslihat,” Nirwan menambahkan.

Sapardi memang tidak seperti Chairil Anwar yang tiba-tiba bisa sangat mengejutkan karena menggunakan struktur kalimat yang tidak lazim atau kata yang nyeleneh. Sapardi adalah Sapardi dengan puisinya yang bersahaja.

Penyair hujan itu kini telah beranjak tua. Tapi dia berusaha tidak keropos dalam karya. Dia masih mampu bertahan dengan stamina yang tidak banyak dipunyai penyair lain. Karya terakhirnya dalam Kolam masih saja menggetarkan sama halnya dengan Duka-Mu Abadi, 41 tahun silam. Sapardi seperti sajak yang ditulisnya sendiri dalam Pohon Belimbing: Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi Tua juga akhirnya?

Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo, Mei 2010.