Kerusuhan rasial sering terjadi di Indonesia. Tapi kerusuhan yang berbuntut pemerkosaan warga keturunan Cina secara besar-besaran agaknya baru pertamakali terjadi pada 13-14 Mei lalu. Sudah 44 kasus perkosaan terjadi, di antaranya menyebabkan lima wanita tewas dan tiga lainnya bunuh diri. Apakah kita akan terus membiarkan “bom waktu” soal keturunan Cina ini meledak dan mengenai muka kita?

Kerusuhan 14 Mei 1998 di Jakarta ternyata bukan hanya soal penjarahan, pengrusakan, atau pembakaran saja. Belakangan mencuat kasus yang sungguh menyayat hati nurani: perkosaan. Korbannya hampir semua adalah warganegara keturunan Cina. Setelah ada 1.200 lebih korban tewas (menurut versi tim relawan) – sementara menurut versi kepolisian korban tewas 316 (lihat: “Pulangkan Anakku, Biar Hanya Secuil Dagingnya” dan “Istriku Wafat Bersama Anakku di Kandungannya”), kasus perkosaan ini makin membuat orang membuka mata: peristiwa di Jakarta itu merupakan tragedi terberat sepanjang sejarah Republik Indonesia. Bayangkan. Dalam dua hari itu telah terjadi 44 kasus perkosaan di Jakarta, menurut Ita F. Nadia dari tim relawan. Tak cuma itu. Dari 44 kasus itu, terdapat delapan korban perkosaan yang tewas. Lima orang karena dibunuh setelah diperkosa. Dan tiga lainnya bunuh diri karena tak kuasa menanggung malu.

Pemerintah sendiri belum banyak berkomentar soal perkosaan ini. Tim Komnas HAM juga baru membentuk tim untuk menampung soal perkosaan itu (lihat: “Kami Punya Bukti, Pelakunya Jelas Kelompok Terorganisasi“). Tapi beberapa lembaga swadaya, terutama divisi perempuan kelompok relawan yang diketuai Ita F. Nadia, telah bergerak mengumpulkan data. Mereka juga membuka layanan “hotline” untuk korban yang ingin mengadukan nasibnya, dengan nomor telepon 021-7902109 atau 021-7902112. Kini setiap hari dilaporkan ada 25 orang perempuan yang melaporkan nasibnya.

Kejadian yang mereka alami bermacam ragam, dari mulai “disentuh tempat terlarangnya”, ditelanjangi sampai diperkosa. Ita F. Nadia sempat menuturkan beberapa kasus dalam wawancara dengan Radio Belanda, 8 Juni lalu. Misalnya, ketika para pegawai pulang naik bis di dalam bis, penumpang dipilih-pilih.

Para penumpang Cina disuruh turun, disuruh membuka baju, dan kemudian disuruh jalan berbaris. Mereka digiring ke padang ilalang di pinggir jalan. Yang berparas cantik diperkosa. Sedangkan yang berparas tidak begitu cantik disuruh berjalan telanjang. Modus berikutnya, perempuan-perempuan Cina secara ramai-ramai ditelanjangi di jalan raya, kemudian tubuhnya digerayangi. Ada yang sobek payudaranya dan seluruh badannya memar.

Ada lagi kisah pegawai bank. Sebanyak sepuluh orang memasuki bank dan menutup bank tersebut. Para pegawai Cina disuruh menari-nari dengan telanjang. Kemudian ada tiga anak gadis dari keluarga Cina miskin yang diperkosa. Mereka berumur sepuluh sampai delapan belas tahun, diperkosa oleh tujuh orang di sebuah tempat di Jakarta Utara.

Yang berikutnya adalah sebuah keluarga yang kebetulan kakak perempuan para korban mengaku kepada Ita Nadia bahwa dua adik perempuannya diperkosa di lantai tiga rumah mereka oleh tujuh orang pula. Setelah diperkosa, dua adik perempuan itu didorong ke lantai dua dan satu di mana api telah berkobar, sehingga dua adik tersebut meninggal. Itu beberapa kasus. Kasus-kasus lain, mereka biasanya diperkosa, kemudian dicekik. Tetapi ada juga yang ketika diperkosa, korban kemudian bunuh diri (lihat: “Para Pemerkosa Itu Dikomando”).

Ada lagi kisah Andina, sebut saja begitu. Gadis berusia 26 tahun ini, pada hari naas itu (Rabu 13/5) pulang dari kantornya. Sebuah bank swasta di kawasan Tomang. Ia dibonceng pacarnya, pegawai perusahaan komputer, menuju rumahnya di bilangan Jelambar, Jakarta Barat.

Merasa keadaan sudah mereda, mereka nekad pulang menjelang pukul 21.00 WIB. Keduanya tak pernah bermimpi, dalam perjalanan itu, di suatu tempat di Jakarta Barat mereka tiba-tiba dikepung massa yang muncul begitu saja entah dari mana.

Di keremangan malam itu, kata cerita di sebuah surat elektronik, Andina sudah tak mampu lagi berpikir diapakan saja dirinya. Yang teringat hanyalah, ia ditarik-tarik massa agar turun dari sepeda motor. “Tuhan, tolong Tuhan….” hanya kata-kata itu yang dia teriakkan di tengah-tengah himpitan kepanikan dan ketakutan luar biasa.

Blazernya sudah terlepas, sementara seluruh harta miliknya dilolosi. Uang, handphone, kartu ATM, SIM, STNK, helm, bahkan obat dokter untuk orangtuanya yang baru ditebus di apotek, habis dijarah.

Andina tidak ingat lagi, diapakan saja dirinya waktu itu. Hanya doa yang terus menguatkannya. Sekali ia jatuh terjengkang, tetapi dengan kekuatan yang tersisa ia bangun dan kembali memegang baju pacarnya erat-erat. Sang pacar, yang orangtuanya berencana melamar tanggal 17 Mei – empat hari setelah kejadian ini menimpa – tak berdaya dipukuli massa. Yang terdengar hanyalah rintihannya, “Ampun, Pak.. ampun. Saya orang biasa…”

Sementara teriakan massa makin menyeramkan. Tetapi dalam keputusasaan, menurut penuturan Andina di sebuah situs di internet, tiba-tiba ada orang tua muncul. Ialah yang memerintahkan agar para penjarah membebaskan dua anak manusia ini. Andina dan pacarnya bisa pergi meninggalkan tempat itu, sebelum kemudian ditolong polisi jaga di dekat situ yang juga tak luput dari lemparan batu massa.

Oleh polisi mereka diantar ke rumah penduduk. Seorang penduduk kemudian memboncengkan keduanya sampai rumah. Berhari-hari kemudian, Andina masih saja dicekam peristiwa itu. Lama ia tak masuk kantor. Sekujur tubuhnya penuh bilur-bilur biru, bahkan juga di pangkal paha. Bekas-bekas kekerasan ini, baru hilang seminggu kemudian.

Kisah lebih memilukan menimpa Edwin yang akhirnya harus menyaksikan massa memperkosa anak gadisnya (lihat: Anak Diperkosa, Ayahnya pun Sakit Jiwa).

Ada juga seorang korban yang lolos dari usaha perkosaan dan bercerita. Ketika ia naik bis di daerah Jakarta Barat, bisnya dihentikan massa, dan semua penumpang diminta turun. Kebetulan ia berada di belakang seorang ibu yang berkulit putih. Saat itulah ada yang mulai berteriak,”Serbu ibu itu, perkosa Cina itu.” Walau ketakutan, si ibu itu lantas bilang,”Saya bukan Cina, tetapi Batak.” Lalu ibu itu mengeluarkan KTP-nya. Melihat itu orang tadi berteriak,”Jika begitu, perkosa wanita yang di belakangnya.” Gadis Cina itu merasa ketakutan sekali, tetapi untung si ibu itu membelanya dengan berkata,”Ia keponakan saya, jangan diperkosa.” Akhirnya gadis Cina itu lolos dari perkosaan karena dibawa pergi si ibu tadi.

Data Tim Relawan Kemanusiaan Divisi Perempuan menunjukkan bahwa sebagian besar korban pelecehan dan perkosaan adalah perempuan etnis Cina berusia muda. Sebagian besar kasus terjadi di kawasan Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Tangerang. “Kami juga menemukan satu kasus perkosaan pada anak berusia 12 tahun,” kata Ita. Ditemukan pula data bahwa sebagian besar perkosaan dilakukan berkelompok yang bisa mencapai lebih dari lima orang. Ditemukan pula korban yang dilukai setelah diperkosa.

Tapi mengapa hanya etnis Cina yang jadi sasaran? Psikolog dari UGM Yogyakarta, Dr. Djamaludin Ancok menjelaskan bahwa ada kesalahan dalam kebijakan pribumi-non pribumi. Dari dulu, orang Cina selalu menjadi obyek kemarahan. Itu akibat strategi Belanda di dalam memecah belah Indonesia dulu. Mereka menempatkan warga keturunan Cina lebih tinggi dari pribumi. Itu menimbulkan sikap antipati. Sehingga orang yang terkena hasil pendidikan Belanda ini membuat garis “kamu” dan “kita” atau “in group” atau “out group”. Jadilah warga keturunan Cina menjadi target terus.

Dan pemerintah memupuk semangat itu dengan cara membuat perbedaan antara warga keturunan Cina dan non-Cina. Ada istilah pribumi-non pribumi. KTP mereka diberi tanda tertentu. Dan kemudian kalau ada urusan, mereka harus menunjukkan surat bukti kewarganegaraan. Itu adalah mekanisme melanjutkan model pembedaan Belanda itu. Jadi kaum pribumi tidak melihat warga keturunan Cina itu sebagai bagian dari sukses kehidupannya. Dengan orang Cina yang berdagang, orang bisa membeli barang dengan gampang. “Kita tidak melihat itu sama sekali. Kita hanya melihat kesenjangan. Mereka kaya, kita miskin. Padahal banyak juga warga keturunan Cina yang miskin,” ujar Ancok. Celakanya lagi, kemarahan terjadi karena banyaknya Cina-Cina yang berkolusi dengan rezim Soeharto sejak dulu.

Ancok menduga masyarakat akan segera sadar bahwa warga keturunan Cina itu hanyalah target yang dialihkan. Orang semakin sadar setelah mereka membaca koran, misalnya. Sehingga, jika terjadi kerusuhan lagi, kata Ancok,”Targetnya sudah bukan warga keturunan Cina lagi, tetapi sudah semua orang.” Mungkin maksudnya semua orang yang dianggap “berpunya” (lihat: “Kelak Targetnya Bukan Keturunan Cina, Tapi Semuanya“).

Maka, mendiamkan saja soal keturunan Cina ini “jadi sasaran amuk” agaknya hanyalah menunda meledaknya sebuah bom. Jika ia kelak meledak, semua akan merasakan akibatnya — juga si pemicu meledaknya bom tadi, jika ia benar-benar ada. (TH, PDP, IS, Wens)

*Artikel ini diambil dari investigasi Majalah Tempo Edisi 16/03 – 20/Juni/1998 tentang tragedi Mei 1998. Saya memuatnya di blog ini karena kita harus #MenolakLupa di negeri ini pernah ada pembantaian rasial.