Chester Bennington, vokalis Linkin Park, tidak berhasil mengalahkan hantu dalam dirinya selama belasan tahun. Chester yang juga pentolan Dead by Sunrise dan Stone Temple Pilots ini bunuh diri di rumah. Umurnya 41 tahun.

Bisa dipahami. Dia adalah korban kekerasan seksual dan jadi korban bullying ketika remaja. Chester harus berdamai dengan pengalaman traumatis itu bertahun-tahun. Tapi dia dihantui kecewa, marah, depresi sampai akhirnya memilih mati. 

Satu hal yang menggelitik benak saya. Dari jutaan orang di seluruh dunia yang memutuskan bunuh diri, mengapa jumlah terbanyak justru laki-laki? Laporan Kesehatan Mental WHO tahun 2015 menyebutkan, jumlah laki-laki yang memutuskan bunuh diri 1,7 kali lebih banyak dari perempuan. American Foundation for Suicide Prevention menyatakan pria 3,5 kali lebih mungkin untuk bunuh diri daripada perempuan.

Perempuan memang punya kecenderungan untuk bunuh diri. Jumlah percobaan bunuh diri perempuan juga sama tingginya. Tapi angka itu menurun drastis ketika percobaan itu menjadi sebuah aksi.

Kenapa? Bukankah, katanya, laki-laki ditakdirkan untuk menjadi makhluk yang kuat dan mampu mengatasi banyak hal? Atau jangan-jangan gara-gara stereotipe itulah laki-laki justru memutuskan mengakhiri hidupnya?

Orang-orang bilang laki-laki tidak boleh cengeng. Laki-laki tidak boleh curhat. Laki-laki harus kuat. Laki-laki harus jadi kepala rumah tangga. Laki-laki harus sukses dalam pekerjaan. Laki-laki harus jadi imam. Laki-laki harus menjadi laki-laki.

Lalu, ketika laki-laki seperti Chester menjadi korban kekerasan seksual dan bullying, dia bukan laki-laki? Ketika seorang Chester dan ratusan ribu Chester lain depresi, mereka bukan laki-laki?

Memahami soal keputusan bunuh diri memang rumit. Saya percaya ada banyak sekali ahli psikologi dan psikiatri yang mampu menjelaskan itu. Tapi, buat saya, fenomena bunuh diri juga menjadi isu feminis

Ini adalah tentang menggugat sistem patriarki yang pada akhirnya merenggut korban laki-laki sendiri. Konstruksi sosial, hegemoni misoginis, ide maskulinitas dan feminitas, peran gender tradisional jadi faktor penting untuk menjelaskan kenapa secara statistik jumlah pelaku bunuh diri laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

Tuntutan agar laki-laki menjadi orang punya mental kuat, tidak boleh cengeng, tidak boleh depresi, tidak boleh merengek bukanlah sesuatu yang datang dari DNA-nya. Tapi tuntutan yang dibentuk oleh sistem selama ribuan tahun. Peran gender inilah yang kemudian seringkali menghalangi laki-laki mencari jalan keluar buat mengatasi keinginan bunuh diri dan depresi.

Perempuan pada titik ini diuntungkan. Saya tidak menyederhanakan persoalan. Tapi ketika mengalami stres dan depresi, perempuan punya sistem pendukung. Bisa teman pergaulan atau keluarga. Setidaknya dia tidak akan dihakimi ketika menangis berhari-hari. Perempuan, karena konstruksi gendernya, juga lebih mudah mengungkapkan perasaan daripada laki-laki. Tidak terlalu menyulitkan bagi perempuan mencari pertolongan dari orang terdekat. Perempuan curhat berjam-jam dianggap sudah biasa.

Sementara, laki-laki menjadi lebih rentan dalam urusan mengatasi masalah kesehatan mental. Apalagi di negara-negara yang tingkat individualismenya sangat tinggi. Ditambah lagi dengan budaya yang punya standar kesukseksan pada materi dan status. Pada siapa beban ini ditanggungkan? Laki-laki. Jepang yang masuk dalam 10 besar negara terbanyak tindakan bunuh diri, lebih dari 50 persennya laki-laki. Bunuh diri adalah jalan keluar untuk mengembalikan kehormatan keluarga. Laki-laki yang kemudian harus memikul bebannya. 

Stereotip bahwa laki-laki seharusnya mandiri, agresif, dan percaya diri juga menjebak. Coba lihat bagaimana iklan, majalah, televisi membentuk sosok laki-laki ideal. Kalau tidak tampan, setidaknya punya banyak uang. Punya pekerjaan dengan gaji besar atau jadi pemimpin. Sekaligus jadi kepala rumah tangga pencari nafkah utama keluarga. Sungguh gak masuk akal. Sama seperti perempuan, mereka juga “dibuatkan” karakter yang tidak realistis oleh hegemoni sistem patriarki. Konyol.

Coba bayangkan seorang Chester dihadapkan pada tuntutan itu. Juga Chester-Chester yang lain.

Linkin Park menulis surat perpisahan untuk Chester Bennington di hari pemakamannya. “We’re trying to remind ourselves that the demons who took you away from us were always part of the deal.”

Jangan-jangan demons itu tidak hanya ada dalam diri Chester. Tapi ada dalam diri kita masing-masing. Yang terlambat atau bahkan abai saat seseorang mencari pertolongan ketika menghadapi depresi. Entah itu laki-laki atau perempuan.