Kenapa saya suka sekali memotret manusia dalam setiap perjalanan saya? Sebab saya hidup bersama mereka. Hidup bersama kalian.

Kamera analog tahun 1978 ini membawa memori saya pada perjalanan hidup di Jakarta. Bercanda bareng anak punk di seberang stasiun Lenteng Agung, berkawan dengan ODHA, berteman dengan narapidana di Lapas Anak Tangerang, bersahabat dengan komunitas lesbian Paseban, berinteraksi dengan napi Cipinang dan Nusakambangan, mengajar di sekolah anak jalanan di Terminal Depok, hadir di antara para buruh yang memperjuangkan haknya, bergaul dengan pelacur-pelacur Blok M.

Bersama mereka saya ingat, kita tidak sendirian. Perjuangan dan perlawanan mereka membuat saya sadar. Apa yang saya punya dan saya nikmati sekarang, tidak ada apa-apanya.

Turun kembali ke jalan, kali ini dengan mata kamera, mengingatkan saya. Manusia adalah makhluk paling kejam di muka bumi ini. Saling memangsa satu sama lain. Lupa diri.

Yang saya tangkap dengan lensa bukan hanya tentang fisik mereka. Tapi dibalik kepolosan atau kerutan di gurat wajah mereka, ada cerita. Itulah yang membuat saya harus berinteraksi. Ada senyum, ada sapa. Seringkali berujung pada menjadi kawan.

Kita ini hidup di Bumi Manusia. Hidup bersama manusia-manusia dengan perlawanan mereka masing-masing. Saya bukan Pram yang bisa menerjemahkan perlawanan dalam novel tetralogi yang begitu fenomenal. Tapi saya berusaha sebisa mungkin, tidak lupa pada mereka yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah gempuran sistem dan zaman.

Untuk saat ini, saya hanya sanggup memperjuangkan keberpihakan saya lewat lensa. Sebab saya bukan siapa-siapa. Saya hanya satu dari sekian miliar manusia, juga hanya satu partikel kecil dalam semesta.

Saya sengaja tidak pilih kamera mirrorless trendy. Meski bisa saja saya kuras tabungan demi sebuah kemudahan. Saya pilih kamera bekas dengan lensa apa adanya yang saya beli di loakan. Cukup dengan film 35 mm yang harganya sama dengan secangkir kopi Starbuck. Saya harus belajar menerima ketidaksempurnaannya, kesalahannya, ketidakakuratannya menangkap cahaya. Supaya saya belajar pada proses. Proses menjadi manusia yang tidak sempurna.

Ketidaksempurnaan itu yang harus kita perjuangkan.