Dia trauma karena beberapa tahun lalu ada seseorang coba membunuh karakternya. Fitnah untuk satu hal yang ia tak pernah lakukan. Hari ini, mereka berdua bersua tanpa sengaja. Pertemuan pertama sejak itu.

Hatinya gamang. Dia harus hadapi ketakutan yang sudah mengendap di kepalanya bertahun-tahun. Meskipun dia tahu, dirinya akan kembali berhadapan dengan amarah. Meskipun dia juga tahu, hatinya akan kembali luka.

Akhirnya dia putuskan menyapa. Dia abaikan sedikit perih yang sempat menyelinap. Sedikit sesak yang sempat membuat kerongkongannya memadat dan lidahnya kelu.

“Hai apa kabar?”
“Siapa ya? Aku lupa.”
“Aku”

Dia heran sekaligus takjub. Bagaimana bisa orang yang dulu menganggap dirinya musuh, kemudian dengan mudahnya lupa?

Dia putuskan tak ingin mencari tahu. Kehendaknya mengkonfrontir peristiwa itu lenyap seketika.

Toh tidak ada yang luar biasa dari pertemuan itu. Sebentar, lalu dia memutuskan pergi. Dia sadar orang itu memang benar-benar lupa ihwal dirinya. Orang itu hanya bersopan santun karena tidak bisa mengenali perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Tak perlu ada percakapan lagi.

Dia tinggalkan ruangan. Di ujung pintu ia berbalik.

“Terimakasih.”
“Untuk apa?”
“Engkau membuatku selesai.”

Pengalaman itu sudah menjadikannya utuh. Lupa itu ternyata membuatnya jadi lebih mudah memaafkan. Buat apa menyimpan marah pada orang — yang sebetulnya kehilangan dirinya sendiri.