Seorang pengusaha kaya Italia memiliki ratusan topeng kuno dari tanah Jawa. Materi topeng itu adalah campuran keramik dan metal. Bentuknya aneh, mirip alien. Ukurannya sedikit lebih kecil daripada kepala manusia.

Hasil analisis menyimpulkan topeng berasal dari masa 1.000 tahun sebelum Masehi. Jauh lebih tua daripada kebudayaan perunggu Dong Son di Vietnam. Topeng-topeng itu, menurut dia, diangkat dari sebuah terowongan bawah tanah tua di Dusun Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, beberapa kilometer dari Trowulan. Temuan topeng ini membuat para arkeolog Indonesia bertanya-tanya.

Bagaimana sebuah topeng logam berusia ribuan tahun berada di bawah terowongan terakota, tidak jauh dari bekas ibu kota Majapahit? Apakah topeng itu bukan rekayasa sindikat pemalsu barang antik yang ingin menjual barang tipuannya dengan harga tinggi di Eropa?

***

Sebuah paket tiba di lantai 11, Gedung E, kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, pertengahan Februari lalu. Paket kiriman internasional itu terbungkus rapi dengan kertas berwarna coklat dan berlapis plastik. Tertera nama Tony Djubiantono, direktur tinggalan purbakala sebagai penerima. Tidak ada nama pengirimnya kecuali alamat Santomiele via Sarlita San Giuseppe, 84060 Prignano Cilento (SA).

Belum lagi dibuka, Tony sudah tahu isi paket berukuran satu kardus mie instan itu. Si pengirim adalah kolektor barang antik dari Bologna, Italia. “Ini kiriman Paolo Bertuzzi. Isinya topeng perunggu dan artefak,” kata Tony sambil menunjukkan paket itu kepada Tempo. Sudah sepekan paket itu tiba, tetapi Tony masih enggan membukanya. Ada apa?

Tony tahu isi kardus pasti berupa topeng-topeng yang menurutnya bermasalah. Ia berusaha tak sembarangan membuka paket itu. Inilah kontroversi terbaru dari jagad arkeologi kita. Seorang kolektor dari Italia memiliki ratusan topeng-topeng aneh yang menurutnya berasal dari Jombang,Jawa Timur dan berumur ribuan tahun.

Topeng-topeng itu ekspresinya sama sekali tak lazim. Sama sekali jauh dari umumnya topeng-topeng kuno Indonesia. Dilihat sepintas rautnya mirip wajah-wajah “alien”. Dua mata dan mulutnya bolong. Sudut mata luar naik ke atas. Beberapa topeng bervolume sepeti helm meski lehernya kecil. Paolo Bertuzzi – sang kolektor itu yakin bahwa topeng tersebut berasal dari zaman sebelum Hindu Budha masuk ke Jawa. Bertuzzi percaya ratusan tahun sebelum masehi ada peradaban yang berkembang di Jawa Timur.

Kisah topeng bermula dari sebelas tahun lalu. Paolo Bertuzzi bertemu seorang pemburu benda-benda kuno asal Bergamo, Italia bernama Anacleto Spazzapan di sebuah pameran barang antik di Milan, Italia. Spazzapan adalah pedagang barang antik yang malang melintang di Indonesia. Tahun 1990-an ia memiliki bengkel pembuatan mebel di desa Grobogan, Bali.

Anacleto Spazzapan
Anacleto Spazzapan

Spazzapan memiliki ratusan topeng logam yang didapat dari pedagang benda-benda kuno Jawa Timur. Topeng itu berasal dari situs Gua Made, Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur – tak jauh dari Trowulan. Spazzapan mengatakan telah melakukan uji laboratorium terhadap topeng di laboratorium Arcadia, Milan Italia. Dan usia topeng itu mengagetkan: hampir 3000 tahun. Bertuzzi kemudian membeli seluruh topeng itu.

Tahun 2008, Bertuzzi menggelar koleksi topeng-topeng Jombangnya di pameran benda antik di Pallazo Borromeo, Milan. Topeng-topeng Gua Made tersebut mendapat sorotan cukup besar majalah arkeologi bergengsi Italia seperti : Minerva, Il Giornale dell’Arte, dan Archeo.

Bertuzzi makin bergairah menggali asal usul topeng itu. Beberapa kali ia ke Indonesia dan mengunjungi situs Goa Made. Ia juga banyak bertemu dengan arkeolog Indonesia. Terakhir, pada 16 Januari 2012, Bertuzzi mendatangi kantor Tony didampingi tim pengacara dari Jakarta. Bertuzzi ingin mengembalikan 40 dari 293 topengnya ke tangan pemerintah Indonesia. “Dia minta legalisasi dari pemerintah bahwa koleksinya berasal dari Gua Made,” kata Tony. Tapi Tony memilih bersikap hati-hati. Ia tidak mau terjebak dalam kemungkinan permainan sindikat barang antik.

***

Made adalah sebuah dusun kecil di kaki Gunung Pucangan, 18 kilometer sebelah utara Trowulan. Tiga puluh tahun lalu, di tengah hutan jati milik Perhutani, penduduk dusun kerap menemukan perhiasan emas kuno. Hanya dengan mencungkil tanah ketika hujan, warga bisa menemukan anting, gelang, dan bongkahan emas sebesar kelereng dengan rajah huruf Jawa kuno. Penduduk lalu menyebut daerah itu Kemasan Kembang Sore.

Bakri, 86 tahun, sesepuh setempat misalnya pernah menemukan sebuah makam tua menghadap arah selatan, ke arah Gunung Pucangan. Makam itu berisi kerangka perempuan yang masih utuh. Dia memakai anting dan kalung emas. “Lutut, siku dan dagunya ditutup perunggu kehijauan,” kata dia kepada Tempo. Nah, para pencari emas inilah yang menemukan terowongan kuno Gua Made tidak jauh dari tempat itu.

Kepada Tempo, Anacleto Spazzapan bercerita sesungguhnya mulanya ia tak percaya tentang keaslian topeng “Ada tiga atau empat orang yang berbeda yang menjual topeng itu kepada saya di Bali,” kenangnya. Ia ingat di tahun 1997 ia awalnya memborong empat topeng dan dua buah patung perunggu. Setiap topeng dan patung dihargai Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta. Tahun berikutnya ia rajin membeli sampai terhimpun sekitar 300 topeng. Topeng-topeng itu dikirim ke Italia bersama mebel buatannya. “Karena murah, saya kira topeng itu juga hanya benda seni biasa, bukan benda arkeologis,” kata dia.

Spazzapan bahkan sempat menolak-nolak jualan para pedagang antik itu, lantaran topeng-topeng tersebut ternyata tidak terlalu laku di Italia. Tetapi salah seorang pedagang bernama Suebnu asal dusun Jatisumber, Trowulan mencoba meyakinkan Spazzapan bahwa topeng itu otentik. “Benar-benar benda bersejarah,” kata dia. Penasaran, Spazzapan di tahun 1999 meminta Suebnu mengantarkannya ke Gua Made. Setelah berjalan menembus hutan, mereka tiba di mulut gua. Situs ini sebuah terowongan tua yang disangga struktur terakota. Di sinilah topeng-topeng antik itu menurut Suebnu ditemukan. “Saya memungut sepotong batu bata dan sebuah fragmen logam lalu saya mengujinya di Italia,” kata Spazzapan.

Penggalian tahap pertama
Penggalian tahap pertama

Spazzapan mengirim sampel ke Laboratorium Arcadia, Milan, Italia. Claudia Zelaschi, si peneliti, menggunakan metode thermoluminescence oleh. Hasil tes mencengangkan. Fragmen terakota diduga berasal dari 2993 + 250 tahun lalu atau setara 995 + 250 tahun A.C (anti cristo). Artinya, usia situs itu sangat tua hampir 3000 tahun Masehi!.

Sadar temuannya bersejarah, Spazzapan mengirim surat ke Duta Besar Indonesia di Italia, Soendoro Rachmad. Dia meminta Gua Made dilindungi dari penjarah. Sebulan kemudian, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur memasang pagar pembatas darurat di mulut gua.

***

Setelah mendapat respon positif majalah-majalah ilmiah Italia, Paolo Bertuzzi makin antusias menyelidiki topeng. Ia bersedia mendanai proyek penelitian ke Gua Made. Dia yakin sekali situs ini masih menyimpan topeng misterius lain. “Saya tidak pernah menemukan topeng lain di dunia yang rautnya seindah ini,” kata Bertuzzi kepada Tempo. Dia mensponsori penelitian gabungan antara Indonesia dan Italia. Tim ini melibatkan arkeolog dari Pusat Ekskavasi Arkeologi Asia di Institut Italia untuk Studi Afrika dan Asia Timur (IsIAO).

Bertuzzi dan Spazzapan datang ke Jombang pada tahun 2006. Pada ekskavasi pertama, bulan Mei dan Agustus 2006, tim didampingi oleh Kepala BP3 Trowulan I Made Kusumajaya. “Kami membuka satu lubang baru untuk mencari akses ke terowongan,” kata Winston Sam Douglas Mambo , staf dinas purbakala Jawa Timur yang juga terlibat.

Agus Aris Munandar, Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia yang bergabung dalam penelitian 2006, mengatakan timnya berfokus pada kronologi situs dan artefak. “Situs itu diperkirakan dibangun pada masa Majapahit,” kata Agus. Dugaan bahwa lorong bawah tanah itu adalah sisa jejak persembunyian Raja Airlangga juga mencuat. Jejak Airlangga ditandai dengan Prasasti Pucangan—The Calcutta Stone—yang disimpan di Museum Calcutta, India. Pada tahun 928 Saka atau 1006 Masehi, Airlangga, 16 tahun, berlindung dari kejaran Raja Wurawari. Dia manyamar menjadi pertapa ditemani Mpu Narotama. Jejaknya di dusun Made adalah sebuah petilasan tua : Sendang Made. “Mungkin itu adalah bunker perlindungan karena masa itu banyak perang,” kata Agus.

Dalam ekskavasi itu, Spazzapan menemukan sebuah topeng logam lagi. Bahan topeng tidak dikenal. Asing. Warnanya abu-abu kehijauan dan berkarat. “Sayang, saya tidak lihat topengnya, saat ditemukan saya sudah pulang,” kata Winston saat dikonfirmasi.

Penelitian kembali dilanjutkan pada Agustus tahun 2007. Kali ini dipimpin oleh Fiorella Rispoli, Direktur penelitian Institut Italia untuk Studi Afrika dan Asia Timur (ISIAO)Dia menduga lorong itu bekas terowongan air bawah tanah. Dia menyebutnya serupa qanat, saluran air di Persia. Sayang, proyek ekskavasi harus berhenti. Tim penggali dari ISIAO salah prosedur. Pemerintah Indonesia melarang ekskavasi dilanjutkan. “Mereka menggali dengan alat berat. Ini merusak situs. Perhutani juga keberatan,” kata Junus Satria Atmaja, staf ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dari gabungan antara penggalian tahun 2006 dan 2007 , peneliti berhasil menemukan 6 topeng perunggu. Sebanyak 5 topeng bagian wajah berbeda ukuran dan 1 topeng kepala utuh hingga bagian leher. Selain itu juga ditemukan fragmen senjata perunggu; fragmen makara perunggu; clupak; kerak besi dan kerak perunggu; dan mata uang kepeng.

Temuan topeng ini makin meyakinkan Paolo Bertuzzi bahwa ada peradaban lain –entah peradaban apa—sebelum Hindu-Budha merebak di Jawa Timur. Tetapi arkeolog Indonesia umumnya masih belum yakin betul.

***

Kecurigaan topeng itu palsu muncul setelah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur melakukan analisis ilmiah. Peneliti menguji dengan larutan patina, uji nyala, dan uji mineral pada topeng dan fragmen (pecahan) topeng. “Kesimpulannya, topeng itu barang baru,” kata Tony.

Banyak kejanggalan yang ditemukan tim BP3. “Tidak pernah ada topeng yang digali dalam jumlah banyak dari situs atau lokasi di sekitar situs,” kata Aris Soviyani, Kepala BP3 Trowulan. Penduduk setempat, kata dia, tidak pernah menemukan topeng serupa di lokasi. “Kemungkinan situs itu direkayasa,”katanya. Tim penyidik pegawai negeri sipil BP3 mencurigai pemalsu benda antik Trowulan ada dibalik rekayasa temuan topeng-topeng itu.

Masalahnya, bagaimana merekayasa temuan topeng seolah-olah artefak in situ?. Insitu berarti artefak itu asli berasal dari situs atau tidak dipindahkan dari situs lain. Padahal, menurut Bakri, sesepuh setempat, tidak mungkin ada orang yang berani masuk ke dalam gua tanpa peralatan memadai. Gua itu pengap dan minim oksigen karena kotoran ribuan kelelawar. “Orang yang masuk harus membawa tabung kompresor dan oksigen,” kata dia.

Fiorella Rispoli direktur penelitian Institut Italia untuk Studi Afrika dan Asia Timur juga sependapat dengan Bakri. Rispoli mengaku awalnya ia sempat ragu-ragu dengan keaslian topeng. “Saya sempat skeptis,” katanya. Penilaiannya berubah saat dia berkunjung ke lokasi. Dia melihat banyak fragmen logam yang berserakan di permukaan tanah dalam radius dua hektar. “Saya pikir, sungguh kurang kerjaan bila pemalsu barang antik sengaja meletakkan fragmen di area seluas itu hanya untuk memberikan validasi otentik pada topeng,” kata dia.

Namun, Junus Satria Atmaja, berpendapat sebaliknya. “Penemuan topeng itu janggal,” kata dia setelah bersama Tempo melihat rekaman video pengangkatan topeng yang dibuat Bertucci . Topeng logam itu tertimbun di kedalaman 7 meter. Bila tertanamnya selama ribuan tahun, menurut Junus seharusnya saat diangkat topeng itu akan rapuh karena tekanan gravitasi. “Tapi lihat topeng-topeng itu masih sangat kokoh,” kata dia. “Tanah tempat topeng menempel juga masih gembur. Kalau terowongan air, mestinya tanahnya lebih liat dan padat,” tambahnya.

Lutfi Yondri, salah satu arkeolog yang masuk ke dalam terowongan, memberikan kesaksian. Saat dia masuk, dia menemukan artefak dan topeng in situ di dalam gua. Topeng itu memang berasal dari situs tersebut dan tidak dipindahkan dari situs lain. “Saya lihat topeng itu memang in situ,” kata dia. Tetapi apakah tidak ada kemungkinan topeng itu sebelumnya sengaja dibenamkan di situ untuk mengelabui para arkeolog –meski dengan cara membawa kompresor atau tabung oksigen? Dan apakah mungkin ratusan topeng milik Bertuzzi itu semuanya berasal dari situ ?.

capture-20141210-193409

Di Italia sendiri, untuk menangkis keraguan para arkeolog Indonesia, Bertuzzi terus mengumpulkan para arkeolog Italia untuk meneliti topeng-topeng Jombang . Claudio Giardino, ahli arkeometalurgi dari University of Arkansas (Rome Center) Amerika pernah menguji materi pembuatnya. Hasil analisis kimiawi Laboratorium Arkeologi Giuseppe Pulitani di Colonna, Roma menyebutkan topeng itu dibuat dengan mencampur perunggu, seng, pasir dan tanah liat. Teknik tertentu membuat topeng berwarna abu-abu kehijauan. “Temuan material ceramic metal ini satu-satunya di dunia. Sekarang, cermet dikembangkan untuk membuat cip komputer,” kata Giardino.

Fiorella Rispolli sepakat topeng itu terbuat dari bahan material aneh terdiri dari campuran keramik dan logam. Bobot topeng itu, menurut dia, sangat ringan dan rapuh. “Bahan itu tidak pernah saya temui selama saya berkutat selama 30 tahun di situs arkeologi Asia,” kata Rispolli.

Akan halnya ahli arkeometalurgi dari Universitas Haifa, Israel, Sariel Shalev, tidak ingin berspekulasi. Shalev kini sedang meneliti satu fragmen topeng dari koleksi milik Bertuzzi di Bologna. “Saya sedang menguji kandungan materialnya. Saya mencoba menelitinya secara independen dengan metode thermoluminescence (TL) dan optically stimulated luminescence (OSL) untuk membuktikan seberapa banyak kandungan Si Crystal didalamnya,” kata dia kepada Tempo. Metode OSL dipakai untuk mencari penanggalan sedimen sementara TL dipakai untuk menguji penanggalan artefak. Ia mengatakan penanggalan hasil uji Laboratorium Arcadia, Milano yang pernah dilakukan Claudia Zelaschi sebelumnya kurang tepat karena dilakukan pada secuil sampel terakota, bukan topeng perunggunya.

***

Akhirnya setelah sebulan dibiarkan begitu saja, Maret lalu, di kantornya, Tony Djubiantono membuka paket kiriman Paolo Bertuzzi. Tony didampingi tim internal direktorat tinggalan purbakala. Isi paket adalah dua topeng, sebuah arca gajah, dan sebuah arca berprofil wajah manusia. Topeng itu dalam kondisi pecah, dan lainnya utuh. “Kesimpulan kami tetap sama, topeng-topeng itu barang baru,” kata Sri Patmiarsi Retnaningtyas, ketua penyelamatan tinggalan purbakala.

Tony menolak memberi legalisasi. Meskipun 40 topeng akan diberikan oleh Bertuzzi ke Indonesia, ia menduga sekitar 253 topeng akan dijual Bertuzzi ke pasar barang antik atau dilelang. “Legalisasi pemerintah akan membuat nilainya melonjak tinggi,” kata Tony.

Harga satu topeng perunggu kuno terbilang fantastis. Tahun lalu, balai lelang Christie’s London menjual topi dan topeng perunggu peninggalan zaman Romawi. Topeng itu laku terjual 300 ribu Poundsterling atau sekitar Rp 3,9 miliar.

Pada 7 Maret 2012, Tony Djubiantono melayangkan surat konfirmasi kepada Bertuzzi melalui tim pengacaranya di Jakarta. “Hasil pengamatan fisik atas dasar bahan pembuatan dan ikonografi benda menunjukkan keempatnya adalah benda baru dan bukan benda cagar budaya,” kata Tony dalam suratnya.

Surat ini membuat Bertuzzi berang. Dia kecewa. Ia merasa telah bersusah payah membeayai penelitian tapi tak dihargai oleh dunia arkeologi Indonesia. Ia yakin topeng-topeng yang di tangannya berasal dari sebuah peradaban yang hilang di Jawa Timur . Temuan ini menurutnya penting sekali dan bisa mengubah sejarah Asia Tenggara dan Indonesia. Ia berencana akan mengadukan hal ini ke Susilo Bambang Yudhoyono. (Ninin Damayanti)

*Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo, 15 April 2012