Indonesia jangan pernah lupa. Di negeri ini, pernah hidup seorang Munir Said Thalib. Nama yang membuat ciut nyali aparat berseragam dan pelanggar HAM.

Apa yang lebih menyesakkan dari kehilangan seorang suami, sahabat, kekasih, teman hidup yang tewas dibunuh? Hingga 9 tahun kematiannya, tidak ada titik terang. Tapi Suciwati Munir, istri mendiang, tidak berhenti berjuang.

Kamis (21/11) malam, Suciwati menggalang dana pendirian Omah Munir. Bagi Suciwati, Munir bukan miliknya seorang. Munir adalah sosok yang harus terus hidup dalam jiwa siapa saja.

Omah Munir adalah media untuk menghidupkan semangat dan sekaligus mendokumentasikan problem kemanusiaan di Indonesia. “Omah Munir sebagai penanda untuk merawat ingatan kita tentang perjuangan Munir dan kemanusiaan,” katanya.

Padi menguning tinggal di panen
Bening air dari gunung
Ada juga yang kekeringan karena kemarau

Semilir angin perubahan
Langit mendung kemerahan
Pulanglah kitari lembah persawahan

Suciwati menyimpan memorabilia Munir di kediaman almarhum di Batu, Malang. Di rumah ini juga dia dan kedua putranya, Alif Allende dan Diva Suukyi tinggal. Mulai Desember 2013, Suciwati membuka pintu rumahnya lebar-lebar bagi aktivis dan masyarakat. Siapa saja boleh bertemu, berdiskusi, dan belajar HAM.

Di dalam rumah itu akan dipajang beragam barang pribadi Munir. Rumah juga dilengkapi ruang audio visual, ruang pameran, ruang seni, dan perpustakaan. Pengunjung juga bisa membaca buku koleksi milik Munir.

Malam itu, lukisan karya Djoko Pekik dan Ayu Utami dilelang. Sudah Rp 400 juta terkumpul dari penggalangan dana. Namun Suciwati tak ingin sembarang menerima uang. Yang jelas, kata dia, Omah Munir tidak menerima dana dari pelanggar hak asasi.

Selamat jalan pahlawanku
Pejuang yang dermawan
Kau pergi saat dibutuhkan saat dibutuhkan

Keberanianmu mengilhami jutaan hati
Kecerdasan dan kesederhanaanmu
Jadi impian

Munir Said Thalib mengawali karir sebagai aktivis saat menjadi pengacara di LBH pada tahun 1990-an. Dia bertemu Suciwati yang saat itu menjadi ketua serikat buruh. Dia tewas 7 September 2004 diatas pesawat GA 974 tujuan Amsterdam. Tubuhnya terpapar arsenik diluar batas kewajaran.

Kematian Munir adalah bencana politik. Noda bagi penegakan HAM. Dua videojurnalis David O’Shea (videojurnalis dari Program Televisi DATELINE – SBS TV, Australia) dan Lexy Junior Rambadeta (Offstream Production, Komunitas Media dan Dokumenter) membuat sebuah film dokumenter investigatif Garuda’s Deadly Upgrade. Mereka menelisik kejanggalan dibalik kematian aktivis Kontras tersebut.

Pergilah, pergi dengan ceria
Sebab kau tak sia sia
Tak sia sia
Tak sia sia
Pergilah kawan
Pendekar

Beberapa waktu lalu, Mahkamah Agung (MA) baru saja mengabulkan peninjauan kembali (PK) terhadap terdakwa pembunuh Munir, Pollycarpus Budihari Priyanto. Menyedihkan, Muchdi Purwoprandjono, orang yang diduga sebagai otak pembunuhan, masih melenggang bebas. Komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyelesaikan kasus ini — bahkan hingga akhir masa jabatannya– tetap tidak jelas.

Memang, tidak mudah merawat ingatan tentang seorang pejuang. Hebatnya, Suciwati dan sahabat Munir masih setia dalam aksi Kamisan di depan Istana. Hashtag #MenolakLupa terus digaungkan di dunia maya.

Satu hilang seribu terbilang
Patah tumbuh hilang berganti
Terimalah sekedar kembang
Dan doa doa

Jelas! Indonesia tidak boleh lupa. Bila seorang Munir nanti lenyap dari ingatan, bagaimana dengan kita?

Suci sejati
Suci sejati …

*Lirik lagu Pulanglah (dalam quotation) digubah Iwan Fals tak lama setelah dia mendengar kabar kematian pejuang HAM Munir Said Thalib lewat berita, 2004.