Ini adalah hari keempat setelah saya mengalami pengalaman yang Romo bilang “pikiran yang padam” itu.  Momen itu memang terjadi cukup lama. Bahkan, setelah meditasi selesai, saya tidak lagi ingat apa yang saya lakukan di dalam ruangan itu. Saya lupa nama-nama, saya tidak ingat apa yang dikatakan para Yogi dan Yogini disana.

Saya hanya merasakan tangan berdenyut, organ-organ di dalam tubuh saya berdenyut. Saya merasakan kepala saya berdenyut. Iramanya terkadang sama, kadang berbeda. Kadang keras, kadang perlahan. Tapi yang jelas, saya merasakan tubuh saya HIDUP. Saya merasa darah saya mengalir ke seluruh tubuh dari ujung kepala ke ujung kaki.

Malam terakhir di Mendut, saya butuh ekstra tenaga bahkan untuk melakukan hal-hal sederhana seperti mandi. Saya tak bisa tidur karena tubuh saya tak berhenti berdenyut. Sehari setelahnya, di Jogja, saya juga sulit mengembalikan keadaan seperti semula.

Sekarang, rasanya masih tetap sama. Denyut dalam tubuh yang saya rasakan memang sedikit berkurang kalau saya beraktivitas sangat sibuk. Tapi kalau saya diam, denyut itu  kembali lagi.

Saya berusaha melawannya dengan semakin sering beraktivitas. Tapi saya malah merasakan sakit di kepala. Sakit itu hilang kalau saya bergerak, tapi rasanya seperti mesin saja.

Kalau sebelumnya saya butuh meditasi bermenit-menit sebelum merasakan sensasi fisik, tapi kali ini tidak. Bahkan saat di kantor, di jalan, makan, mau tidur atau apapun aktivitas yang saya lakukan, saya bisa merasakannya. Asal saya mau diam sebentar saja, sensasi itu  terus berulang.

Tapi saya takut karena saya harus kembali ke kehidupan sebelum retreat. Jadwal yang padat dan deadline  di kantor. Saya jadi enggan berpikir, hanya ingin berada dalam keheningan meditasi. Bahkan, saya enggan melakukan apapun. Saya benar-benar cuma ingin berada dalam keheningan. Ya, hening.

Kemarin Romo bilang agar saya pelan-pelan beraktivitas dan tetap menjaga kesadaran. Saya coba melakukan itu. Tapi rasanya sulit. Sulit sekali. Saya kok rasanya bergerak seperti robot. ”Otomatis”.  Makan ya makan, minum ya minum, mandi ya hanya mandi. Saya tidak berpikir. Saya hanya melakukan.

Saya sedang duduk di sebuah kedai kopi di Jalan Sarinah yang ramai. Sangat ramai. Orang-orang di sekeliling saya bercakap-cakap riuh, tapi saya merasa melesap.  Hilang. Saya sulit merangkai pikiran saya. Berbicara pun hanya bisa pelan-pelan karena saya kesulitan merangkai kata. Sulit mencari kata yang yang tepat untuk mendefiniskan hal yang saya maksud.

Pertanyaan ini terus berulang ketika saya perlahan mulai “kembali”. Pengalaman apakah ini?  Apakah setiap meditator  –terutama yang baru seperti saya— akan mengalami pengalaman seperti ini? Apakah ini akan berulang? Apakah saya akan merasakan lebih dari ini? Saya akan sampai pada apa?

Sebetulnya, tidak bisa membayangkan ada apa di depan sana.  Tapi seharusnya saya tak perlu khawatir. Romo bilang, saya hanya cukup sadar saja.