Lihat! Bukankah anak-anak sungai serupa guratan pada wajah yang menua lelah. Bahkan mata air tidak lagi menggairahkan untuk direguk. Sepat dan masam rasanya. Sebab di tanah ini, air mata anakmu menguap menjadi udara dan darah ibumu mengeras menjadi batu. Disini, rintihan menghilang di balik belantara dan jerit tangis tenggelam di antara desing peluru.

Adalah coltan – columbite tantalite – mineral yang menyebabkan darah anak-anak Kongo tumpah dengan mudah. Kebanyakan konsumen gadget memang tak pernah mendengar mineral ini. Tapi tanpa coltan, bisa dipastikan, gadgetmu tak akan secanggih sekarang. Tanpa coltan, telepon selulermu mungkin masih sebesar bongkahan bata. Sebab coltan adalah mineral yang membuat kapasitor mampu menahan voltase tinggi pada temperatur maksimal. Sehingga, gadget menjadi semakin tipis dari waktu ke waktu dan semakin ramah lingkungan. Ironisnya, demi teknologi itu, anak-anak Kongo harus berhadapan dengan moncong senapan AK47.

Mungkin cerita ini tak sedramatis Blood Diamond – berlian berdarah. Apalah harga sebuah gadget bila dibandingkan sebutir berlian super mahal yang dipajang pada etalase butik di Milan? Toh, tak semua orang sanggup membeli berlian. Tapi hampir semua orang di negeri ini mempunyai telepon seluler. Sebagian besar mengganti gadgetnya setidaknya dua kali dalam setahun. Terkadang hanya karena bosan, sisanya –akui saja— karena gengsi, bukan?

Tapi, tahukah kau, di dalam setiap gadget paling mutakhir yang ada di tanganmu sekarang ada darah putra-putra Kongo? Tahukah kau, setiap kali kau bosan dengan selulermu dan menggantinya dengan seri paling mutakhir, ada perempuan Kongo yang menyabung nyawa? Tahukah kau, dalam setiap gengsi yang kau bayarkan dengan murah lewat sebuah tablet paling canggih, ada kepala gorila yang ikut dipenggal?

Ini sebuah film dokumenter soal konflik coltan di Kongo. Silakan resapi lalu jadilah konsumen yang cerdas.