Aku tidak tahu apakah kehadiranku di dunia nanti akan membuatmu bahagia. Setelah semua penderitaan yang kau lalui bertahun-tahun itu. Aku takut. Takut keberadaanku nanti hanya membebanimu.  Bagi banyak orang, aku adalah harapan. Tapi, yang lain bilang, aku adalah petaka. Sebenarnya aku ini siapa, Bunda?

Aku merasakan kau mengusapku perlahan. Tanganmu gemetar. Jantungmu berdetak sangat kencang, tak seperti biasanya. Aku tahu, kau pun sangat ketakutan. Takut yang bahkan tak pernah hadir dalam hidupmu. Nafasmu sesak. Berat. Kerongkonganmu kering. Tiap kali kau bicara, suaramu tercekik. Ada sesuatu yang membebanimu, Bunda.

Ruangan ini suram sekali, Bunda. Aku takut. Rumah ini sepertinya sudah sangat tua. Aku tahu dari jendela-jendela besar dan pintu kayu yang lapuk. Tapi bersih terawat. Ada kipas angin yang sekarat melawan pengap di ujung ruangan.

Rumah sakit yang sangat terkenal di jalan bernama pahlawan: Raden Saleh. Tapi ini kan bukan rumah sakit, Bunda. Ini rumah mati. Bau obat sesekali tercium.Tapi, ada bau lain yang aku hafal sekali. Bau kematian.

Suster lalu lalang dengan langkah tergesa. Satu diantaranya, masih muda, menghampirimu. Dia menanyakan namamu, umurmu, dan nama ayahku. Tunggu…  Ayah? Apakah Ayah itu, Bunda? Siapa itu, Bunda? Kau tidak pernah mengenalkan padaku. Sayup-sayup aku mendengar suara seorang laki-laki. “Suaminya tidak ada. Saya kakaknya. Ini surat-suratnya. Ini visumnya. Lengkap semua. Sudah jangan tanya lagi.” Suara laki-laki itu terdengar marah, Bunda. Siapa dia?.

Aku merasakan tanganmu mengusapku lagi. Lalu, aku mendengar isakmu. Kau menangis. Pertanyaan demi pertanyaan dari suster itu harus kau jawab satu demi satu. “Ini untuk kelengkapan administrasi,” katanya. Sebisa mungkin kau jawab. Sisanya, laki-laki itu –paman—katamu.

Deritamu sungguh luar biasa, Bunda. Sejak kejadian itu, kau selalu ketakutan. Aku tahu kau enggan hidup lagi. Kau berkali-kali mencoba mati. Tapi tak pernah berhasil. Luka di tangan dan kakimu bahkan belum kering benar. Lebam di kepalamu masih menyisakan nyeri luar biasa.

Kau diminta menunggu di ruangan yang lain. Aku mendengar orang bercakap-cakap. Dua perempuan.  Mereka bicara soal usia kandungan, dokter yang tampan, dan obat-obatan yang semakin mahal harganya. Kau diam saja di sudut bangku kayu itu. Enggan berbincang dengan mereka bahkan hanya sekedar basa-basi. Aku tahu, kau ingin hari ini lekas berakhir.

Kau hebat, Bunda. Aku memang baru mengenalmu tujuh minggu. Tapi aku tahu dari cerita orang-orang tentangmu. Mereka berkali-kali mengatakan kau perempuan kuat. Kau perempuan tangguh. Kau perempuan pemberani. Tapi mereka tidak tahu sebenarnya. Sebenarnya, kau rapuh sekali. Aku yang tahu. Aku bisa merasakanmu. Kamu adalah aku. Kita adalah satu, Bunda.

Namamu dipanggil. Kau terhenyak dari lamunanmu. Lalu kau berjalan pincang memasuki ruang periksa. Sendirian. Tanganmu merayap mencari pegangan sebisanya. Kau limbung. “Mungkin ini saatnya,” kau berbisik lirih. Aku disini, Bunda.

Tapi tidak. Ini bukan ruangan itu. Hanya ada meja dan rak-rak buku. Ada dua suster yang menunggumu. “Bu, pembayarannya terpisah. Bayar tindakan nanti di kasir saja. Kami kasih diskon. Tapi sekarang, ibu bayar obat-obatannya saja,” kata suster yang senior. Tanganmu gemetar mengambil dompet. Delapan lembar uang seratus ribu kau keluarkan perlahan. Aku tahu, itu sisa tabunganmu bulan ini. Enam lembar lainnya masih tersimpan rapi untuk pelunasan di kasir nanti. Kau diminta menunggu sekali lagi. “Sedang disiapkan,” kata suster yang lain.

Sekali lagi namamu dipanggil. Kali ini, kau tidak lagi gemetar. Kau berdiri, berjalan sendirian menyusuri lorong yang letaknya jauh di belakang rumah sakit. Matamu menatap kamar-kamar tanpa pintu, hanya dibatasi gorden kain berwarna hijau. Satu dua perempuan berbaring sambil meringis kesakitan di atas velbed yang catnya sudah terkelupas.

Kau diajak masuk ke satu kamar di ujung lorong. Dindingnya berwarna hijau kusam. Ada seorang perempuan sedang berganti pakaian. Mata kalian bersiborok. Kau tercekat melihat betapa muda usianya. Tapi  tak tampak cemas di wajahnya. “Sudah, hadapi saja,” kata dia sambil melenggang pergi. Santai.

Selama ini, aku berdiam saja dalam garba yang hangat ini. Seperti yang lain, aku juga menunggu. Aku mengikuti prosesnya perlahan ketika darahmu masuk ke dalam tubuhku, membentuk diriku, menyempurnakan aku. Bila saatnya tepat nanti, aku akan berjumpa denganmu. Melihat wajahmu. Memandang senyummu. Mungkin, aku akan berteriak lantang atau menangis keras. Sangat keras. Karena aku ingin kau tahu, aku tangguh sepertimu.

Tapi, hidup dan mati seperti sekeping mata uang, Bunda. Kalau keping itu dijentikan oleh nasib, kau tidak lagi bisa memilih. Tak ada lagi yang perlu ditangisi. Ini adalah pelajaran hidup yang belum tentu orang lain alami. Jika kau masih bertahan setelah peristiwa itu, tentu karena kemauanmu sangat keras.

Aku sadar ruda paksa adalah kejahatan kemanusiaan. Harga dirimu direnggut hingga titik nihil. Logika yang mereka pakai adalah logika penis, Bunda. Siapapun tidak akan sanggup menerima perlakuan ini. Aku menyadari itu. Aku menerima itu.

Kau diberi segelas teh hangat dan sebutir obat. Entah obat apa. Kau minum perlahan. Air masuk ke dalam kerongkonganmu. Menghangatkanmu. Kau menarik nafas panjang. Sekali. Dua kali. Tapi sesak di di dadamu tak kunjung pergi. Tenang, Bunda. Sebentar lagi deritamu usai.

Akhirnya, saat itu tiba. Tiga suster mengajakmu masuk ke ruang steril. Kali ini, aku yang ketakutan. Cahaya lampu operasi itu silau sekali, Bunda. Mataku sakit. Bisakah kau minta mereka redupkan sedikit saja. Aku ingin kepergianku syahdu saja. Dalam gelap yang damai.

Aku berteriak-teriak meminta mereka mematikan lampu. Tentu saja mereka tak bisa mendengarku. Hanya kamu yang bisa mendengarku, Bunda. Tapi, sepertinya kau mulai mengabaikan suaraku. Kau mengacuhkanku.

Kau sudah duduk di atas kursi. Kursi kematian. Bukan seperti kursi listrik yang kau lihat di film-film itu. Tapi tak ada bedanya. Sebab disinilah ratusan janin mati dibantu tangan dokter yang menyentuhnya pun enggan. Entah, sudah berapa ribu malaikat kematian hadir disini.

Kau mengejan berkali-kali. Gemetar hebat. Sekuat tenaga tubuhmu mencoba mengeluarkan aku. Ketika alat itu memasuki rumahku –garbamu–kau diminta menyanyi. Aku mendengar suaramu lirih, mendendangkan lagu tidur kesukaanku.

Tak lelo lelo lelo ledung

Cup menenga aja pijer nangis

Anakku sing ayu rupane

Nek nangis ndak ilang ayune ..

Seandainya kau tahu, ini sakit sekali rasanya, Bunda!  Sakit. Sakit. Sakit.

Gelap. Hening. Damai. Aku pergi, Bunda.