Mural bergerak di gerobak pemulung menyiasati keterbatasan. Bukan ekspresi ketidakberdayaan, tapi kekuatan beradaptasi dan bertahan hidup di kota besar.

“Mereka adalah kelompok manusia yang cerdas bersiasat mengatasi masalah hidup di tengah kota.” Abdulrahman Saleh, 39, seniman yang terlibat di Jakarta Biennale 2013 tidak ingin menampilkan manusia gerobak sebagai kelompok tak berdaya. Bagi Abdulrahman, manusia gerobak sangat pintar mengakali keterbatasan. Mereka tak ingin kalah dengan kota yang tak ramah.

Dia menyimpulkan ini setelah berhari-hari berinteraksi dengan manusia gerobak saat mengerjakan proyek Jakarta Biennale 2013. Maman, panggilan akrabnya, terkejut. Selama ini dia beranggapan manusia gerobak miskin dan tak berdaya. Nyatanya, mereka juga berduit. Uang hasil kerja seminggu mereka kumpulkan lalu disimpan di kampung halaman. Di kampung, mereka punya rumah dan hidup berkecukupan. “Balik ke Jakarta, mereka kembali hidup di gerobak,” kata dia.

Proyek bersama manusia dan juragan gerobak ini tercetus setelah Ade Darmawan memintanya terlibat dalam Jakarta Biennale. Kebetulan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo baru mengeluarkan pernyataan ingin menghapus mural di dinding dan tiang beton Jakarta.

Singkat kata, Maman ingin menyentil Jokowi. Sebagai seniman yang tumbuh di Yogyakarta, Maman ingin menyampaikan pesannya lewat guyonan. “Ya gak papa mural dilarang. Toh saya bisa bersiasat. Muralnya yang kita bikin jalan-jalan,” katanya.

Toh, selama ini gerobak pemulung kusam dan tidak enak dilihat. Penampang alat pengangkut beroda dua itu dibiarkan polos tak terurus oleh penariknya. Dia mengajak mereka mendandani gerobak dengan cat warna-warni, gambar, dan tulisan mereka sendiri. Dia membiarkan para pemulung ini berekspresi sepuasnya.

Jadilah, mural yang dilukis di 6 gerobak milik pemulung dan manusia gerobak. Isinya cukup menggelitik sebagai kritik. Ada yang menulis “Tukang gerobak juga mau naik Haji”. Ada lagi, “Gerobak ini bukan hasil korupsi, Nak!!!”. “Sampahmu berkahmu”, “Terima sampah masyarakat” dan “Daripada pengangguran lebih baik mulung”.

Proses lokakarya para pemulung ini dia dokumentasikan lewat video. Dia membuat, bolehlah disebut, televisi khusus pemulung dengan nama NGEPOTV. Maman menciptakan tokoh, presenter, aktor, bernama Mr. Gro (dari kata gerobak). Mr. Gro menarasikan bagaimana manusia gerobak bersiasat dengan guyonan dan sindiran. “Mr. Gro story teller yang bercerita soal masalah sosial,” kata pengajar komik dan animasi sederhana di komunitas Rumah Tanpa Jendela, Depok.

Bukan kali ini saja Maman memberi kesempatan kelompok marjinal beropini lewat seni. Tahun 2006, dia mengajak anak-anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tangerang menuangkan kegelisahan mereka dalam serial “komik curhat”. Karya mereka dipapemrkan di Jakarta Biennale 2009 bertema Arena.

Saat negara abai dan tidak pernah memberi solusi, orang-orang seperti manusia gerobak ini bersiasat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan kemampuan. Mereka mensiasati biaya hidup di Jakarta yang sangat mahal. Tinggal di gerobak toh tak perlu membayar kontrakan. “Terbukti, mereka individu yang sangat adaptif,” kata Maman.