Sesungguhnya inilah yang kubenci dari membaca cerita pendek. Memori. Aku akan terlempar ke masa-masa yang tak dapat kuingat jelas. Kenangan sederhana tentangmu akan berkelebat di kepalaku. Terkadang mengalir deras. Adakalanya patah-patah seperti sebuah DVD murahan yang nyaris rusak.

Aku sudah kembali. Setelah bertahun-tahun menghilang. Ya, menghilang. Tidak benar-benar menghilang  sebetulnya. Ragaku masih disini. Masih bercakap-cakap denganmu. Masih menanyakan kabarmu. Tapi, seperti kau bilang, aku bukanlah aku. “Mana kamu yang kukenal dulu?”, tanyamu sewot. Kau rindu aku yang berlari. Melesat. Terbang. Bukan aku yang meringkuk pasrah pada nasib yang harus kujalani.

Aku masih ingat percakapan kita di sebuah warung makan Banyumas di dekat kampus. Bertahun-tahun lalu. Kau datang dengan pakaian agak lusuh. Berkeringat karena harus menumpang bus keparat dan terjebak macet berjam-jam. Aku menunggumu sambil menyeruput segelas jus semangka tanpa gula. Kau datang, memesan segelas kopi, lalu duduk di depanku.

Lalu, mulutmu tak hentinya bicara. Apa saja. Kau marah dengan mahasiswa yang beraksi basa basi. Kau marah dengan rekan sejawatmu yang sudah duduk nyaman di kursi dewan. Kau benci dengan partai-partai yang menjual agama. Kau kecewa dengan perempuan-perempuan yang sudah meninggalkanmu. Aku hanya duduk diam, menikmatimu mengoceh berapi-api.

Kalau kau bosan, kau mulai menyanyi. Suaramu fals. Aku tak peduli. Lalu kau tanya soal kabar pekerjaanku. Ah, aku malas menjawabnya. Kau kan tahu, aku tidak suka bila kau bertanya soal itu. Aku bosan. Gajiku besar, dibayar dolar. Bendera lembaga internasional itu tak benar-benar membuatku jatuh cinta. Kau bilang dengan enteng sambil membuang puntung rokok, “resign”. Kau tahu?. Kata-katamu siang itu benar-benar membuatku mengetik surat pengunduran diri.

Biasanya, kita bercakap hingga larut malam. Hingga si pemilik warung menghampiri meja dan dengan sopan memberikan secarik kertas tagihan. Kau akan pura-pura mengeluarkan dompet. Padahal aku tahu, uangmu hanya tersisa dua ribu, hanya cukup untuk ongkos pulang ke kosmu. Kalau kuingat wajahmu detik itu, aku selalu tertawa.

Kita akan berjalan bersisian di gang bekas kuburan itu. Aku tahu, kau selalu mencoba menggenggam tanganku. Tapi tak cukup punya nyali. Terkadang, aku bisa merasakan gerak tanganmu di belakang punggungku. Ingin memelukku. Tak pernah terjadi. Lalu kau mengantarku hingga depan pintu kamarku. Mengucapkan terimakasih, sambil bertanya, bisa kita bertemu lagi?.

Ah.. Kenangan selalu datang tepat waktu. Sialan!

Kau selalu bilang, kedatanganmu di kota ini untuk bertempur. Berperang. Mengubah nasib. Katamu, kau sanggup melakukan apa saja demi mendapatkan uang. Apa saja. Bahkan, kau berani melakukan hal-hal yang tak pernah masuk nalarku. Kalau sudah begitu, aku akan mendebatmu habis-habisan. Lalu kita akan bertengkar panjang lebar soal moral. Kadang aku menyerah, kadang kau yang akhirnya memilih diam. Kita akan sama-sama menghisap rokok dengan kikuk, bergegas menandaskan kopi, lalu pergi.

Adakalanya kau menertawakan nasibku. Kamu tahu, aku mati kutu kalau kau mengungkit bagian hidupku itu. Keputusanku menikah dengan lelaki itu adalah sebuah keterpaksaan yang kau sendiri tahu alasannya. Ucapanku pada malam-malam perbincangan di warung makan itu rontok semua. Apalah itu. Segala ide dan konsep tentang kesetaraan yang terus berkecamuk di kepalaku selama bertahun-tahun mendadak lenyap. Aku memilih mengalah. Aku memilih mundur. Aku memilih menjalani hidup seperti orang kebanyakan. Menikah. Beranak.

Keputusan tolol katamu. “Seharusnya saat ini kita sudah berbincang sambil memandang lukisan di Museum Louvre,” katamu berkhayal. Kau selalu ingin kita belajar di negeri yang jauh. Katamu kau ingin belajar sejarah. Kau ingin datang ke museum, membaca manuskrip tua, atau berdebat dengan seorang profesor disana. Aku tahu, tempurung tengkorakmu terlalu sempit menampung kapasitas otakmu. Memorimu tajam. Kau bisa mengingat banyak hal meski hanya selintas kau dengar. Kau hebat.

Uh, kenangan selalu datang tiba-tiba. Seperti pencuri yang mengendap di waktu malam.

Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Tak banyak orang bisa menjalin hubungan seperti ini selama bertahun-tahun. “Band of Brothers,” katamu. Dalam rentang itu, kegagalan demi kegagalan dengan bermacam perempuan sudah kau alami. Tiap kali kau kecewa, kau selalu datang merengek padaku. Menangis. Marah. Kecewa. Aku hanya mendengarkan sambil diam. Sesekali meyakinkanmu, hidupmu akan baik-baik saja.

Padahal, aku sedang tidak baik-baik saja.

Kau pernah bilang, aku malaikat tanpa sayapmu. Entahlah. Kau utarakan itu demi basa-basi pun aku tak peduli. Memang, sebisa mungkin aku selalu menopangmu. Membantumu terbang lagi. Membuatmu berdiri. Membuatmu bisa mendongakkan kepala lagi. Tapi ternyata aku salah. Saat itu, sayapku pun sedang patah. Aku yang kehabisan daya upaya. Ternyata kau malah memilih pergi.

Aku masih ingat ciuman terakhirmu. Aku dan kamu duduk di teras kosku ketika senja menyelinap malu-malu. Angin mengusik rambutku perlahan. Syahdu. Dua ekor kucing yang tadinya sibuk bertengkar saja tetiba terdiam melihat kita. Sore itu, kau datang setelah aku meminta berkali-kali. Aku masih sempat mengusap peluh di kepalamu. Wajahmu tampak lelah. Kau datang seperti orang kalah perang.

Aku tidak pernah tahu kenapa kau menghindar setelah percintaan berjam-jam itu. Kau bilang, “aku takut”. Takut padaku. Aku luluh lantak. Bukan perpisahan dengan lelaki itu yang membuatku menangis. Aku justru takut kehilangan dirimu. Bukan kamu yang hilang sayapnya. Tapi aku.

Aku sepertinya mulai benci kejujuran. Tapi aku tak pandai berpura-pura.  Tidak mudah bagiku mencari kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya. Aku bisa saja membohongimu. Pura-pura tidak peduli. Acuh tak acuh. Peduli setan dengan hidupmu saat ini. Tapi nyatanya, aku tidak bisa. Itu bukan aku.

Kau sedang apa disana? Masih suka menyeruput secangkir cappuccino panas?

Aku sudah kembali. Seperti pintamu. Aku menemukan diriku yang hilang bertahun-tahun itu. Aku menulis lagi. Aku mendengarkan musik lagi. Aku datang mengunjungi pertunjukan teater. Aku melihat pameran lukisan. Aku membaca buku-buku lagi. Aku berdiskusi dan berdebat lagi dengan orang-orang soal banyak hal.  Aku punya mimpi lagi. Aku hidup kembali!.

Tapi, kau pergi.

Slipi, 30 April 2014.