Semua bermula ketika sore tadi saya pulang kerja dalam keadaan lelah dan kurang enak badan. Apalagi saya lapar dan ingin lekas pulang. Saya mampir sejenak membeli sate ayam. Gerobak penjualnya mangkal di ujung jalan. Antri. Saya harus menunggu 20 menit sampai bungkusan berisi 10 tusuk sate dan lontong itu bisa dibawa pulang.

Biasanya, karena badan lelah dan ingin lekas leyeh-leyeh, saya makan secepatnya. Buru-buru. Terkadang ‘disambi’ pekerjaan lain. Makan sambil ngobrol, makan sambil main gadget, makan sambil baca buku, makan sambil buka laptop, bahkan makan sambil ganti baju! Sehingga, yang seringkali terjadi adalah, saya lupa. Tadi saya makan apa?.

Tiba-tiba, sebelum membuka bungkusan — kali ini sambil menghidupkan blackberry — saya ingat kutipan dari sebuah buku. Buku yang baru selesai dibaca semalam.

Jangan lakukan sebuah tugas dengan tujuan agar tugas itu cepat selesai. Berupayalah melakukan semua kegiatan dengan relaks, dengan penuh perhatian. Nikmatilah dan menyatulah dengan pekerjaan.

Alih-alih melakukan kebiasaan yang dilakukan bertahun-tahun itu, saya memutuskan meletakkan gadget. Saya mandi dulu, berganti pakaian nyaman, mengambil peralatan makan dan duduk di depan meja. Semuanya saya lakukan perlahan dan selesaikan satu persatu. Pokoknya, malam ini saya mau makan sate ayam.

Ketika bungkusan dibuka, saya teringat dua penjual sate ayam gerobak asal Madura yang ramah itu. Dua pemuda usia 20-an yang setiap hari selalu melayani pembeli dengan ceria. Sesekali diselingi musik dangdut dari telepon seluler murahan di kantong mereka. Saya juga ingat betapa mereka tetap melayani pelanggan padahal hujan gerimis kemarin malam.

Perhatian penuh kesadaran merupakan keajaiban yang kita kuasai sendiri dan bisa kita gunakan kapan saja.

Malam ini, saya makan dengan perlahan. Ya, perlahan. Satu persatu potongan ayam yang masuk ke mulut saya sadari dan resapi rasanya. Saya sadari bahwa saya sedang makan potongan ayam. “Aku sedang makan ayam yang dibakar. Oh begini rasanya.” Saya sadari saya sedang makan lontongnya. “Aku sedang makan lontong dengan bumbu kacang. Oh begini rasanya”. Saya sadari saya sedang mencicipi bumbu kacangnya, potongan cabainya, bawangnya. “Oh begini rasanya.”

Saya tidak berpikir soal hal lain — pekerjaan yang menumpuk, kucing yang bertengkar di depan kamar, atau janji yang harus ditepati esok hari. Saya makan ya hanya makan.

Saya sadari satu persatu suapan yang masuk ke dalam mulut. Saya kunyah. Saya telan. Lalu, masuk ke kerongkongan, dan berdiam di lambung. Saya rampungkan dulu, baru setelah itu masuk suapan berikutnya. Anehnya, malam ini, saya menyadari dan merasakan seluruh indera perasa dalam mulut aktif bekerja.

Begitu seterusnya sampai sate habis. Tandas. Ketika suapan terakhir masuk ke dalam lambung, saya ambil segelas air. Saya minum perlahan sambil menyadari, “saya sedang minum”. Satu gelas. Habis.

Apa yang terjadi setelah itu sungguh luar biasa. Saya merasakan kehangatan menjalar dari mulut, kerongkongan, hingga lambung. Kehangatan ini diikuti perasaan bahagia yang tidak bisa diungkapkan. Rasa hangat dan bahagia ini berdiam cukup lama.

Pada waktu yang nyaris bersamaan, tiba-tiba terbersit di kepala –entahlah saya sukar mendefiniskan– orang-orang yang membuat sepiring sate terhidang di meja malam ini. Peternak ayam, penjual ayam, petani kacang, penjual kacang, petani cabai, penjual cabai, petani bawang, penjual bawang. Banyak sekali. Sampai pada dua pemuda penjual sate gerobak di ujung jalan itu.

Malam ini saya merasa terberkati. Saya bersyukur. Saya merasa makanan saya — dan hidup malam ini– karena jasa orang-orang tersebut. Malam ini, saya baru sadar rasanya sate ayam. Setelah 30 tahun!.

Teringat lagi kutipan dari buku yang sama: “Keajaiban Hidup Sadar”. Si penulis, Thich Nhat Hanh, seorang biksu Zen dari Vietnam mengatakan,

Kita memang tidak betul-betul hidup sepanjang momen. Sesungguhnya, kita bahkan tidak mampu untuk menyadari keajaiban hidup bahkan ketika kita sedang makan, minum atau mencuci perabotan. Ketika kita makan, kita hanya akan memikirkan hal-hal lain sehingga membuat juga sangat tidak menyadari suapan yang ada di tangan.

Kita hanya akan terseret ke masa depan, atau masa lalu. Ini membuat kita sesungguhnya tidak mampu untuk benar-benar hidup satu menit pun dalam kehidupan.

Jadi, selamat makan sate ayam!