Acara santai di atas kapal Mavi Marmara, dengan alunan musik Turki dan hidangan barbeque, berubah jadi tegang setelah kapten kapal mengumumkan pembubaran mendadak. Relawan perempuan diminta segera mengenakan jaket pengaman. ”Kami diminta tenang,” kata Fitri Moeslim Taher, Ketua Tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).

Fitri mengikuti misi menembus blokade Gaza bersama sebelas relawan Indonesia lain yang berasal dari tiga lembaga swadaya masyarakat: Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa), MER-C, dan Sahabat Al-Aqsha. Bersama mereka juga ada lima wartawan, dari Al-Jazeera Indonesia, TV One, Hidayatullah.com, majalah Alia, dan Sahabat Al-Aqsha.

Persiapan ke Gaza sudah dilakukan MER-C sejak awal Maret lalu, setelah wakil dari Free Gaza Movement datang ke Jakarta akhir Februari. MER-C ingin mendirikan rumah sakit di Gaza. Kesiapan mental para relawan telah dimatangkan. ”Bahkan kita sudah menandatangani surat wasiat, karena mati bisa di mana saja,” ujar Fitri.

Kapten meminta penumpang bersiaga karena terjadi pengepungan oleh kapal parakomando Israel. Di masa pengepungan itu, Arif Rahman dari MER-C mengumpulkan relawan asal Indonesia dan memberikan pengarahan. ”Kami diberi tahu, kalau menjadi relawan di daerah perang, pasti ada situasi seperti ini,” kata Fitri. ”Teman relawan banyak yang nitip laptop dan telepon seluler ke saya, takut enggak selamat.”

Saat azan subuh, Ahad pukul 04.00, tiba-tiba kapal Israel meluncur mendekat. Ketua Kispa Ferry Nur menuturkan, saat itu, tiga perahu cepat berisi tentara Israel mulai mengapit Mavi Marmara. Dua helikopter tempur terbang di atas kapal. Selanjutnya, pecah bentrokan antara relawan bersenjata pentungan dan tentara Israel dengan senapan yang menggunakan sinar inframerah.

Sekitar pukul 06.30, perlawanan berakhir. Semua relawan dikumpulkan dengan tangan diikat borgol plastik. Ferry menuturkan tentara Israel memukuli dan menendang mereka. Pada pukul 09.00, semua relawan dibawa ke dek paling atas, dengan tangan masih diborgol, dan dijemur sampai tengah hari.

Malam harinya, Mavi Marmara berlabuh di Ashdod, selatan Israel. Semua relawan diperiksa kesehatannya, dimintai paspor, difoto, dan pakaiannya digeledah. Mereka diminta menandatangani surat deportasi, tapi menolak. ”Kalau kita menerima deportasi, berarti kita mengakui bahwa kita telah berbuat kesalahan dengan memasuki Israel tanpa izin,” kata Fitri.

Ketika diinterogasi dan dimintai tanda tangan, Fitri minta didampingi pengacara. ”Mereka malah tertawa, dan bilang, ’Kamu kira ini di Indonesia atau Malaysia? Indonesia tidak punya perwakilan di Israel’,” dia menirukan ucapan petugas Israel. Fitri minta didampingi pengacara dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, tapi tidak dikabulkan.

Mereka lalu dibawa ke penjara dengan bus khusus tahanan. Laki-laki dan perempuan ditempatkan di dalam gedung terpisah. Meski borgol sudah dilepas, saat dibawa masuk ke penjara, tiap relawan dikawal oleh dua orang tentara. ”Tangan kanan dan kiri saya dicengkeram,” Fitri menambahkan.

Fitri ditempatkan satu sel dengan empat relawan dari European Campaign to End the Siege of Gaza berkebangsaan Italia, Amerika, dan Prancis. Para relawan Flotilla ini menyaksikan peristiwa yang menimpa Mavi Marmara. Kapal lain hanya diserbu peluru karet, peluru cat, atau alat kejut listrik. Hanya penyerbuan Mavi yang memakai peluru tajam.

Ruang tahanan berukuran 3 x 4 meter itu berisi empat tempat tidur tunggal, bantal, kipas angin, toilet, dan jendela. ”Itu penjara Israel khusus untuk warga non-Palestina atau non-Israel,” ujar Fitri. Di penjara, dia menyantap makanan seadanya: roti gandum, paprika mentah, mentimun, dan tomat mentah. Saat ada kunjungan juru kamera televisi atau fotografer, makanan berubah menjadi nasi, ikan, dan sayur.

Keesokan harinya, Fitri diberi kesempatan berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia melalui telepon. Tapi pembicaraan harus dengan bahasa yang dimengerti Israel, yaitu Inggris atau Arab. ”Sebetulnya saya takut menelepon ke rumah, takut nanti nomor itu dicatat,” katanya. Dia berkabar kepada ibunya, ”Alhamdulillah, I am fine. I will be back soon.” Ayah tirinya menjawab, ”Oke.”

Di hari yang sama, pengacara Kedutaan Yordania membantu mengeluarkan semua relawan dari Indonesia dan negara-negara lain yang tidak memiliki perwakilan di Israel. ”Saya keluar sambil menangis. Semua orang saya peluk. Ketika saya berjalan keluar dari penjara, semua orang mengatakan ’free, free Palestine’,” katanya.

Fitri dan sembilan orang lain berhasil selamat sampai ke Yordania. Tapi Surya Fahrizal, 28 tahun, wartawan majalah Islam Hidayatullah, masih dirawat di Rumah Sakit Ramban, Haifa, Israel. Surya adalah salah satu korban tembak yang dirawat di Israel.

Seorang warga negara Indonesia lainnya, Okvianto Baharuddin, aktivis Kispa, dirawat di rumah sakit Bagcilar Devlet Hastanesi, Istanbul. ”Masih memerlukan empat sampai lima hari lagi untuk rawat inap,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Yordania, Zainulbahar Noor. Okvianto saat ini memakai gipsum di bawah siku.

Tulisan dimuat Majalah Tempo 13 Juni 2010