Saya mulai belajar lebih dalam soal feminisme ketika masuk bangku kuliah tahun 2000. Meski saya kuliah di jurusan Kriminologi, tapi sebagian besar mata kuliah yang saya ambil, butuh sudut pandang feminis. Meskipun tidak terlalu sulit mencari buku referensi, tapi saya harus berburu. Favorit saya, lapak Cak Tarno di Gang Sawo Depok. Pilihan lain, hunting ke pasar buku bekas di Senen atau Blok M. Saya gak punya akses dan uang beli dari Amazon. Paling apek, fotokopi punya Lab Krim atau senior.

Sekarang? Wow! Banyak sekali buku bahkan e-book bertebaran. Coba search kata kunci feminist book di Google. Ada banyak .pdf, blog, video, online class, apapun itu yang bahas soal ini. Gratis. Bahkan kata “feminis” bukan lagi hal tabu diucapkan dari mulut anak-anak muda. Seorang anak magang yang duduk di depan saya di kantor, bisa dengan fasih menganalisa fenomena sosial dengan satu atau beberapa teori feminis. Dia laki-laki.

Ada hal yang membuat saya tertarik. Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah sweater hitam di retail yang target pasarnya adalah anak-anak milenial. Begini tulisan yang tertera di sweater tersebut.

Feminism. Noun. [n]  | fem.i.ni.zem | the radical notion that women are people.

Radical notion. #feminism

A post shared by nagaketjil (@nagaketjil) on

Ternyata saya menemukan pakaian serupa di beberapa retail populer lain. Seorang teman juga sempat memakai kaos dengan tulisan feminist beberapa waktu lalu. Gara-gara kaos itu, kami sempat ngobrol soal peran gender di ruang merokok di kantor.

Saya ingat. Ketika saya kuliah, saya pernah pakai kaos bertuliskan feminist. Apa yang terjadi? Saya harus meladeni perdebatan gak penting juga cemooh dari beberapa teman laki-laki. Saya sempat layani argumennya. Sampai akhirnya kami sama-sama bosan. Sebab tahu, perdebatan itu jelas percuma. Tapi cap feminis – ditambahi kata radikal – sudah nempel di jidat sejak hari itu.

Kata feminis tidak lagi terlalu tabu disebutkan sekarang. Selebriti Hollywood jadi bagian dari gerakan penyadaran ini. Rihanna, Emma Watson, Angelina Jolie, Ariana Grande, Jennifer Lawrence, Kristern Stewart percaya diri berkata, “saya seorang feminis.” Terimakasih juga Gal Gadot!

Feminisme tidak pernah lebih populer dari sekarang. 2016, setidaknya ada 1,5 juta post di Instagram yang memakai #feminist. Milenial adalah yang terbanyak pakai hashtag ini. Di Twitter, kampanye feminis paling banyak dapat ruang. Tahun 2015 sampai 2016 boleh jadi tahun kampanye gerakan feminis paling masif di media sosial.

Ide feminisme juga akhirnya diadopsi oleh agensi dan divisi marketing produk sebagai bagian dari kampanye. Meski tidak terang-terangan menyebut kata feminis, tapi semangat kampanye mereka tampaknya pemberdayaan perempuan. Feminisme tidak cuma nge-pop, tapi juga dikomersialisasi. Ujungnya ya jualan.

Gak heran. Perempuan adalah target pasar paling potensial. Sama halnya dengan kampanye dukungan LGBT oleh brand-brand besar. Mereka pasti berharap kampanye pemberdayaan ini akan melekat pada benak konsumen. Sehingga mereka akan ingat produknya lalu beli. Soal ini, Clara Zetkin bisa bangkit dari kubur.

Slactivisme memang jadi sangat populer sejak media sosial jadi bagian hidup. Kampanye dengan hashtag, ajakan petisi, pasang profile picture kampanye, menyebarkan image sudah dipakai aktivis zaman sekarang. Tidak lagi hanya turun ke jalan panas-panasan. Apalagi, bila brand sudah ikut menyebarkan gagasan pemberdayaan.

Gak ada yang salah dengan kampanye seperti ini. Bukankah sebanyak-banyaknya memasukkan ide feminisme dalam setiap ruang justru lebih baik? Setidaknya, membuat banyak orang sadar bahwa masih banyak persoalan pada pada perempuan. Toh, kampanye ngepop ala selebgram justru lebih menarik perhatian milenial. Daripada harus pasang spanduk warna ungu terang di pinggir jalan.

Tapi saya agak was-was dengan slacktivisme dan campaign marketing milik brand seperti ini. Apakah kampanye masif ini benar-benar menyelesaikan persoalan yang dialami perempuan? Atau jangan-jangan ini kulitnya saja?

Ketika feminisme jadi budaya popular, memang tidak lagi asing di telinga kita. Tapi apakah kita benar-benar menerima ide feminisme? Belum tentu.

Jebakan feminis ngepop ini yang sepertinya harus disadari. Jangan sampai kampanye pemberdayaan perempuan hanya berhenti pada hashtag atau video viral kampanye digital yang dikemas agency atau brand produk kecantikan.

Ada istilah Feminism Lite. Misalnya begini. Ada banyak perempuan yang tahu bahwa ide feminisme adalah tentang membebaskan perempuan dari hegemoni patriarki. Tapi tidak cukup punya keberanian untuk mendobrak akar paling dasar. Sesederhana mengatakan, “Saya setuju sama feminisme sih, tapi…” atau “saya bukan feminis tapi saya mendukung…”

Slactivisme menciptakan feminism lite, bisa jadi. Chimamanda Ngozi Adichie, seorang feminis dari Afrika, pernah menulis Beware of Feminism Lite.

Beware the danger of what I call Feminism Lite. It is the idea of conditional female equality. Please reject this entirely. It is a hollow, appeasing and bankrupt idea. Being a feminist is like being pregnant. You either are or you are not. You either believe in the full equality of men and women, or you do not.

Saya mulai ngeh soal ini ketika saya bertemu satu dua korban kekerasan seksual. Nyatanya, mereka masih menghadapi masalah dalam pergaulannya. Stigma terbanyak datang dari perempuan. Padahal, mereka sudah sadar soal iklan “real beauty” atau Beyonce yang menyanyikan lagu feminis di panggung Grammy.  Juga ketika seorang korban KDRT mengeluh karena sesama perempuan justru menyalahkan dia atas kekerasan yang dia alami. 

Feminis ya feminis. Tidak ada feminis setengah-setengah. Juga tidak ada feminis gaya-gayaan. Ah, maafkan kalimat sarkas ini. Tapi jadi feminis itu gak ribet kok. Gak menakutkan juga. Feminis sama-sama makan nasi, bukan makan gerbong kereta.

Ah, jangan-jangan saya ini juga cuma feminis gaya-gayaan. Lha wong brand yang saya beli itu juga sudah terkenal mengeskploitasi buruh perempuan.