Perpaduan konser drum dan ensambel boleh dibilang langka. Sebab perkusi bukanlah alat musik harmonik maupun melodik seperti halnya piano, flute, atau gitar. Tetapi, musisi Aksan Sjuman mampu mengawinkan dua jenis alat musik berbeda itu dengan apik. Dalam konser bertajuk Glimpse : Music for Drums and Mixed Ensembel pada konser pembukaan Festival Salihara, Aksan mengaduk musik klasik dan kontemporer menghasilkan suasana musikal yang unik.

Aksan membagi konser ini menjadi dua bagian. Keduanya dipentaskan dalam ruangan berbeda. Bagian pertama, “String Quintet & 3 Guitars” dimainkan di Galeri Salihara. Sebetulnya tidak banyak yang baru pada bagian ini karena kebanyakan adalah karyanya di sejumlah film nasional. Repertoir paling gres adalah “The Story of Us 1” (A tribute to Elliot Smith and Nick Drake). Aksan pun tidak ikut bermain disini.

Setelah delapan repertoir selesai dimainkan, penonton diajak ke Teater Salihara. Inilah menu utama malam itu, “Drums Concerto: Glimpse”. Konserto drum ini menampilkan empat karya. “Dua bagian itu sengaja dipisah agar mudah penataan alat musik saja,” kata Aksan, usai pementasan.

Aksan memulai repertoir pertama konserto drum dengan judul “Das Abenteuer”. Awalnya, tidak terlalu mulus karena masalah teknis. Tetapi, kecanggungan kolaborasi antara Aksan dengan pemain perkusi/marimba Yose Kristian hanya berlangsung sebentar. Keduanya segera saling berimprovisasi mengimbangi satu sama lain. Dua karya berikutnya, “Die Liebe” dan “Die Unvergessliche Zeit” mengalun dengan sempurna meskipun di tengah permainan Aksan sempat tanpa sengaja mematahkan stik drumnya.

Kejutan muncul pada repertoir terakhir berjudul “The Holy Ego”. Di tengah permainan, mantan penggebuk drum Dewa 19 ini menghilang dari panggung. Menjelang akhir, dia kembali ke tengah pentas sambil memainkan instrumen dari sebuah iPad. Hasilnya, dia memberikan sentuhan musikal yang lebih modern. “Saya memang senang bermain-main. Apapun bisa jadi alat musik termasuk sebuah iPad,” kata dia.

Sebetulnya, bukan kali ini saja Aksan menggabungkan drum dan ensambel. Awal tahun lalu, Aksan membuat karya yang hampir mirip saat menggubahmusic scoring untuk pementasan wayang. “Tapi saat itu alirannya cenderung rock dan tidak menggunakan piano,” kata dia. Sementara malam itu, dengan bantuan pengaba Indra Perkasa Lie, dia menampilkan komposisi yang lebih rumit. “Semuanya sulit. Ada beberapa musik yang tidak lazim karena belum pernah dimainkan, perpindahan tempo yang cepat dan beberapa hal teknis lain,” kata dia. Peran sequencer/programming Rifka Rahman juga terasa kental malam itu.

Aksan Sjuman adalah musisi yang belajar piano, sebelum akhirnya memilih drum sebagai keahlian utamanya. Sempat bergabung dengan band Dewa 19, Aksan kemudian membentuk grup Wong Acid dan Potret. Selain musik pop, ia juga tampil di pentas-pentas jazz, baik di dalam maupun luar negeri.

Aksan telah merilis album solo bersama musisi jazz internasional Joe Rosenberg, Peter Scheer, dan Masako Hamamura dalam kelompok Quartet East. Saat ini ia juga telah membuat rekaman untuk grup jazz eksperimental yang didirikannya, yaitu “Aksan Sjuman & the Committee of the Fest”. Ia juga mendirikan sekolah jazz Ponpin School of Music.

Apa yang membuat putra sutradara Sjuman Djaya keluar dari jalurnya? Ternyata jawaban Aksan sederhana. “Saya bosan mengeksplorasi harmoni,” kata dia. Aksan memang lama berkarier di film nasional sebagai komposer atau film scorer.

Beberapa musik film hasil polesan tangannya antara lain The Photograph, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, King, Minggu Pagi di Victoria Park, Tanah Air Beta, Mereka Bilang Saya Monyet, Sang Pemimpi, Rindu Purnama dan Sang Penari. “Sekarang yang saya buat ini sebetulnya simpel tetapi dengan komposisi yang kompleks. Namun unsur hiburannya tetap ada,” kata dia.

Malam itu dia menegaskan tidak ingin membatasi musiknya sendiri. Aksan ingin menghadirkan nuansa musikal yang lain dari seorang penggebuk drum. “Saya tidak pernah membatasi musik saya sendiri. Sebab, setiap orang punya bunyi-bunyi individu yang berbeda,” kata dia.