“Aku jatuh cinta pada seseorang.”

Kalimat itu benar-benar membuatku terjaga setelah kau membangunku lewat dering telepon menyebalkan pada sebuah malam yang lembab. Aku pikir aku sedang bermimpi. Tanganku meraba mencoba meraih jam tangan di tepi tempat tidur. 01.40. Sial. Kau memang kurang ajar. Setelah berhari-hari aku bergulat dengan jam tidurku sendiri, sekarang kau enak saja merebut lelap yang baru kucicip sesaat.

Kau mengoceh lagi, “tapi aku ditipunya.”

“Sebentar. Pada siapa?”

“Seorang perempuan yang tidak pernah kutemui.”

Hening. Aku mencoba melumat ucapanmu. Perlahan. Kepalaku mendadak sakit. Entah karena aspirin yang kutenggak sebelum tidur tak benar-benar bekerja atau karena celotehmu barusan. Sebetulnya, bukan kali ini saja kau menghubungiku tengah malam. Sudah bertahun-tahun kau selalu mencuri tidurku.

Aku membuka jendela kamar berharap udara segar menyelinap masuk. Jakarta gerah sekali. Padahal sore tadi kudengar di radio, hujan melanda selatan kota. Mendengar kabar itu hatiku sempat bersorak. Awan sudah menggantung berat. Tapi rupanya rinai batal mampir ke pusat kota. Mungkin karena sudah bosan bersetubuh dengan debu dan asap sisa knalpot kendaraan bermotor disini. Hujan yang sombong itu kini hanya menyisakan pengap di apartemenku.

“Kenapa kau diam?” Aku menyelidik.

Aku mendengar kau menyalakan pemantik sebelum melanjutkan ceritamu lagi. “Aku mengenalnya delapan bulan silam. Lewat media sosial. Kami bertukar nomor kontak, bercakap lewat telepon, dan saling mengirim pesan pendek,” katanya.

“Bagaimana kau bisa jatuh cinta padahal kau tidak pernah berjumpa dia?,” tanyaku. Ah, bodoh pertanyaanku. Aku lupa. Ini zaman milenial. Orang bisa saja jatuh cinta tanpa bersua muka. Toh, media sosial sudah membuat silaturahmi jadi mudah. Kau berjumpa sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak menyapa. Kau juga bertemu selingkuhan yang kau tipu habis-habisan padahal anakmu ribut minta susu di belakangmu. Apalagi cuma seorang kekasih gelap.

“Sebetulnya, aku tidak mengenal dia. Maksudku, ya, akhirnya aku mengenalnya. Tapi aku tidak pernah bertemu dia. Aku tidak tahu wajah aslinya. Tapi aku tahu suaranya. Dia mengaku bernama Genna.”

Aku tergelak. Semoga saja tetangga sebelah kamarku tidak gemetar ketakutan mendengar gelak di tengah malam buta. Dalam hati aku mengumpat. Baru kali ini tawaku segetir ini.

“Maaf… ”

“Aku memang layak kau tertawakan,” kau memotong kalimatku. “Seharusnya aku yang minta maaf karena selalu mengganggu hidupmu setiap kali aku kecewa.”

Aku tersenyum. Sinis. Sungguh bersyukur karena percakapan ini hanya terjadi lewat sambungan telepon. Kau tidak perlu melihat rautku. Tidak perlu melihat mataku yang panas menahan tangis. Tidak perlu melihat wajahku yang merah menahan marah. Kau beruntung tidak ada di hadapanku malam ini.

Kau memang seenaknya saja datang dan pergi. Kekasih-kekasihmu pasti marah besar kalau mereka tahu kau menyusu padaku. Entah karena kau sekedar butuh uang atau kau butuh tempat bersembunyi dari kejaran wartawan. Lain waktu kau butuh aku memberesi urusan tetek bengek kantormu atau sekedar hal remeh temeh seperti patah hati.

Aku ingat, bertahun-tahun lalu, kau pernah meneleponku di tengah demonstrasi yang mendadak jadi brutal. Saat itu, aku yang cemas mencari kabarmu dari televisi. Reporter yang bertugas, melaporkan kejadian terbata-bata, menyebut ada satu orang mati. Aku pikir itu kau. Aku tersentak mendengar telepon selulerku berdering. Nomor rahasia yang kuhafal luar kepala muncul di layar. Ternyata nyawa masih betah menghuni tubuhmu. “Aku sedang demonstrasi, tapi ingin sekali buang air besar. Kau tahu POM bensin terdekat di daerah sini?” Rasanya ingin kubanting telepon itu ke dinding kamar. Aku terlalu peduli.

Terakhir kali bertemu, sebulan lalu. Situasi politik sedang panas. Kau dan aku juga panas. Lalu kita bersetubuh. Persenggamaan liar yang benar-benar menguras tenaga. Untuk urusan ini, aku akui kau jagonya. Selalu, percumbuan diselingi perdebatan ideologi. Bicara politik di ranjang sudah jadi kebiasaan kita, bukan? Waktu itu, kau berbisik di telingaku soal calon presiden setengah gila yang membuat kau dan orang-orangmu kelimpungan. “Uangnya banyak sekali. Tentaranya banyak sekali. Birokratnya kuat sekali. Aku dan teman-teman tidak punya apa-apa kecuali nyali. Mujur, ada pengkhianat,” katamu lagi.

Lalu kau mengoceh panjang lebar soal taktik jenderal emosional yang sudah bocor kemana-mana. Aku mendengarkan takzim. Mendadak, bualan politikmu berhenti tiba-tiba. Mata kita bersiborok. Sejurus kemudian kau mencumbuku habis-habisan. Aku pikir kita akan saling melumat semalaman. Ternyata, selulermu berdering. Kau bilang harus berangkat ke Yogyakarta. “Ada info, mereka sedang bermain di sana. Aku harus berangkat malam ini juga.” Kau bergegas pergi meninggalkan sehelai kaos yang menyisakan bau tubuhmu. Aku pakai lalu terlelap. Sendiri.

Kuputuskan hari itu adalah kali terakhir aku berbicara denganmu. Sesungguhnya aku enggan menjalin hubungan dengan seorang politisi. Sahabatku pernah bilang, “buang-buang waktu saja. Dia terlalu licin. Kau tidak akan kuat.” Aku diam saja. “Aku mencintainya.” Sampai malam ini kau meneleponku untuk urusan Genna.

Lamunanku buyar. “Perempuan itu menolak bertemu. Sudah kudesak berkali-kali. Aku tahu belakangan semua fotonya palsu. Semua dicurinya dari internet. Dia meminjam foto seorang penyanyi Lebanon. Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya.”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu wajahnya, kan ada fotonya?”

“Semuanya palsu. Semua dicurinya dari internet. Dia meminjam foto seorang penyanyi Lebanon. Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya.”

Selamat. Aku membatin. Tentu yang keluar dari mulutku bukan itu. “Kau bisa datangi alamat rumahnya kan?”

“Aku tidak tahu rumahnya dimana.”

Mendengar ceritamu ini hatiku berdesir. Kau yang sesumbar bicara politik bisa ditipu dengan seorang perempuan yang kau yakin benar dia jelita. Kau sedang gandrung. Copot sudah logika dari otakmu. Itu tidak penting sebetulnya. Aku yakin obrolanmu sudah jauh lebih dalam dari sekedar urusan berkasih-kasihan. Dan aku berani bertaruh, informasi yang kau berikan sangat berharga. Kalau bukan soal data penting partaimu, kau tidak akan sepanik ini.

“Maya? Kenapa diam?”

Aku terpekur lama. Waktu rasanya beringsut di kaki. Aku pernah mendengar ada seorang perempuan kaukasia yang merasakan berhentinya waktu lewat meditasi bertahun-tahun. Nyatanya, membekukan waktu mudah sekali. Aku tidak butuh meditasi. Aku hanya cukup mendengar kisahmu yang tak masuk akal. Atau mungkin aku sudah gila? Katanya orang gila bisa menempohkan waktu. Jangan-jangan aku sudah gila. Lebih gila dari si jenderal setengah gila yang dipermalukan di muka umum karena kegilaannya itu? Tidak. Aku masih waras. Aku tidak gila. Aku hanya merasa sesak.

“May!” Sunyi porak-poranda. “Sepertinya aku kena karma. Karma darimu. Aku sudah bertahun-tahun melukaimu.” Kikuk. Ada rasa bersalah dari nada suaramu.

“Aku tidak percaya karma.” Tapi bohong. “Yang aku percaya, tidak semua orang bisa dipercaya. Apalagi perempuan yang mendadak hadir dalam hidup seorang politisi yang sedang naik daun sepertimu.” Sok bijak kamu, Maya.

“Aku harus bagaimana?”

“Mana aku tahu. Itu urusanmu.”

Entah darimana aku mendadak punya nyali. Biasanya, aku tidak pernah berani. Tapi kali ini aku merasa sudah cukup. Sekarang atau tidak sama sekali. Habis sudah kesabaranku.

“Maya, tolong aku membereskan ini. Kau kan paling pintar mengurusi masalah macam ini. Aku tahu kamu hebat, koneksimu banyak.”

“Kau mau tahu apa yang ingin kukatakan?”

“Tentu!”

Arrivederci.” Selamat tinggal. Aku menutup telepon. Puas. Kata perpisahan ini kudapat dari seorang sahabat di Bologna, Italia. Kata yang sudah kuhafal bertahun-tahun tapi tak pernah sanggup kuucapkan karena aku terlalu mencintai lelaki ini. Cinta memang tidak pernah punya cukup waktu. Tapi cinta bisa memiliki batas. Ego. Kali ini, aku memilih bersuara.

***

Aku Maya. Perempuan yang percaya cinta harus diperjuangkan. Demi cinta, ada yang harus dikorbankan meski itu adalah harga dirimu sendiri. Aku perempuan yang selalu kau sebut belahan jiwa. Malaikat tanpa sayap, katamu. Begitu lincahnya kau mengucap kata itu sehingga aku rela menelannya bulat-bulat. Aku memang mencintaimu. Tapi tidak cukup. Ada harga lain yang harus kau bayar.

Dulu, ketika kau dan aku masih sibuk mengurus organisasi, aku orang setia yang ada di belakangmu. Teman-teman selalu meledek kita berdua. Mereka bilang kita ibarat Ernesto “Che” Guevara dan Aleida March. Aku jelas menolak mentah-mentah menyandang nama itu. Che masih bisa setia. Setidaknya, dia menikahi Aleida setelah menceraikan istri pertamanya Hilda Gadea. Sementara, kau tidak. Egomu sebongkah batu. Kau jelas tidak bisa hidup dengan satu perempuan saja. Komitmen bagimu cuma retorika. Tentu kau lupa satu hal lagi, cinta tak pernah menyakiti.

Sudah tiga bulan aku tidak lagi mendengar kabarmu. Aku yakin kau tidak berani menghubungiku. Sesungguhnya, hanya aku satu-satunya perempuan yang paling sabar mendampingimu. Sembilan tahun. Cukup. Aku sudah tidak peduli lagi. Toh, sebentar lagi pelantikan presiden baru. Masih banyak hal yang harus aku urusi. Kau? Mungkin sedang menikmati kemenangan bersama teman-temanmu.

Aku membuang bosan sambil menyetel televisi. Kotak keparat itu jarang kunyalakan sebetulnya. Hari ini Jumat keramat. Hari yang selalu ditunggu puluhan wartawan yang merelakan hidupnya berjam-jam duduk di tangga gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Ada tersangka baru dengan bukti baru yang menguatkan, kata penyiar televisi yang riasannya menor itu mengabarkan. Dia bilang, nyanyian terpidana kasus sebelumnya sudah merembet kemana-mana. Petinggi sebuah partai, kata pewarta itu lagi. Berinisial RS. Namamu!

Aku tersenyum puas. Perempuan Timur Tengah yang misterius itu sesungguhnya aku. Maya dan Genna: dua perempuan di dalam diriku. Aku lihai. Aku mencari identitas baru demi membalas sakit hatiku. Mengubah suara toh mudah saja. Sahabatku di Bologna seorang pemain teater handal. Darinya aku belajar. Tak sulit bagiku bermain peran. Ingat, dulu kau yang memaksaku berlatih teater di kampus, bukan?

Kau memang benar. Aku hebat. Tapi Genna lebih hebat. Terlalu hebat hingga bisa memperdayamu. Membuatmu membocorkan informasi penting tanpa kau sadari. Darimana lagi kami dapat data akurat kalau bukan darimu, pemegang segala dokumen penting di partai itu. Bocoran itu kami berikan pada kolega di sebuah komisi. Kami terlalu hebat, kau terlalu mabuk. Tergila-gila asmara. Kami hanya tinggal menunggu waktu jatuhmu.

Rintik mengetuk jendela. Ah, musim baru sudah datang. Hujan tidak lagi angkuh pada kota yang pengap ini. Ada sedikit iba menyelinap. Tapi aku harus tega. Sebelum kau punya jabatan setinggi itu, kau sudah beribu kali kuingatkan. Soal moral. Soal etika. Soal integritas. Mulutku sampai kelu. Tapi kau tidak pernah peduli.

Kutenggak dua pil antidisosiasi yang baru kutebus sore tadi. Kunyalakan iPod. Suara Imany, penyanyi kulit hitam asal Prancis, membelai gendang telinga. Shape of the Broken Heart. Ini tak sesederhana patah hati. Ini tentang kepentingan. Dalam politik, tidak ada kawan yang abadi. *

*Cerpen ini dimuat di Majalah Femina Edisi 46 (22-28 November 2014)