Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berdoa.  Tapi apakah ini doa yang membebaskan? Kadang-kadang seseorang atau anggota keluarga meminta untuk mendoakan sesuatu. Dalam hubungan dengan meditasi tanpa objek ini, kita mengamati si aku dan membawa dampak melemahnya si aku. Apakah kita tidak perlu lagi berdoa, karena doa justru memperkuat si aku?

Ada bermacam-macam bentuk doa. Ada doa permohonan, doa syukur, doa vokal dengan melafal rumus doa tertentu, doa mental dengan menggunakan pikiran untuk merenung-renung atau menggunakan imaginasi untuk merenungkan misteri tertentu, doa devotif yang ditujukan kepada pribadi Allah atau kepada orang kudus, dan ada doa hening.

Doa hening berbeda dengan semua bentuk doa yang disebutkan sebelumnya. Yang dimaksud dengan doa hening di sini adalah menyadari gerak batin dan tubuh dengan batin yang hening. Kata, permohonan, ucapan syukur, perenungan, imaginasi, dan daya-daya mental yang lain tidak dipakai.

Meditasi tanpa objek adalah sebuah bentuk doa hening. Yang dilakukan pemeditasi adalah menyadari gerak batin dan tubuh dari saat ke saat. Dengan menyadarinya, batin melampaui keterbatasan dirinya. Ketika diri atau si aku berhenti, muncul sesuatu yang lain.

Para pendoa pada umumnya memiliki intensi atau tujuan tertentu dalam berdoa. Intensi ini bisa disadari atau tidak disadari. Misalnya, orang berdoa untuk memohon kecukupan sandang-pangan-papan, keberhasilan dalam pekerjaan atau pendidikan, kesembuhan, ketenangan, pemurnian hati, pencerahan, pembebasan, penyatuan dengan Tuhan, dan seterusnya.

Dalam doa hening, “sesuatu yang lain” itu tidak dikejar secara sadar, tidak dicapai dengan daya-upaya, tidak diraih dengan teknik atau metode tertentu. Datangnya “sesuatu yang lain” itu sepenuhnya merupakan rahmat yang datang tanpa diantisipasi, tanpa diduga, tanpa diinginkan sebelumnya. Rahmat tersebut datang ketika diri atau si aku lenyap.

Dalam doa kebanyakan, diri atau si aku yang halus masih aktif bergerak dan doa kebanyakan bisa makin memperkuat si aku yang halus kalau tidak disadari. Misalnya, orang rajin berdoa, berdevosi, atau bermatiraga supaya mendapatkan apa yang diinginkan. Kalau permohonannya terkabul, rasa syukur akan dipanjatkan. Kalau permohonannya tidak terkabul, orang kecewa, marah, atau frustrasi. Doa yang membuat si aku bersyukur hanya ketika mendapatkan apa yang diinginkan atau doa yang membuat si aku kecewa ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan merupakan bentuk doa yang tidak membebaskan.

Inilah yang membedakan doa hening dengan doa kebanyakan yang lain. Dalam doa kebanyakan si aku atau diri atau pikiran masih aktif. Dalam doa hening, si aku atau diri atau pikiran diam. Ketika si aku diam, ada “sesuatu yang lain”.

Kalau Anda berminat untuk mengembangkan doa yang membebaskan, doa hening yang dibicarakan di sini merupakan sarana yang tepat. Tentu tidak ada satu bentuk doa yang cocok bagi setiap orang.

Doa yang dalam pada hakekatnya adalah bersentuhan dengan “sesuatu yang lain”. Oleh karena itu, yang terpenting dalam doa yang dalam adalah pertama-tama bukan mencari apa yang kita inginkan, tetapi menyadari gerak keinginan dan gerak batin itu sendiri hingga berhenti seluruhnya. Ketika batin sepenuhnya diam atau hening, “sesuatu yang lain” itu akan muncul.

*Dikutip dari : Titik Hening: Meditasi Tanpa Objek karya Romo J. Sudrijanta, S.J.