Empat perempuan muda duduk di teras sebuah kedai kopi. Aku duduk di sebelah meja mereka. Katakan saja aku sok tahu. Tapi sepertinya mereka teman akrab. Mereka bercakap dan tertawa-tawa. Menghiraukan lirikan lelaki-lelaki di sekitar mereka. Aku penasaran. Apa yang mereka perbincangkan? Kugeser kursiku sedikit, sambil pura-pura mengambil korek api yang sengaja kujatuhkan. Aku benar-benar ingin mencuri dengar obrolan mereka berempat.

Satu perempuan berbaju biru langit. Tubuhnya langsing semampai. Wajahnya khas oriental. Rambut panjang, dicat pirang. Mirip bintang film Korea. Kaosnya terbuka, menyembulkan separuh payudara yang bulat putih. Dia duduk berhadapan dengan perempuan berbadan atletis. Kulit sedikit coklat terbakar matahari. Aku bertaruh, kulit asli perempuan itu kuning langsat. Tapi dia lebih senang berjemur. Aku agak familliar dengan wajah itu. Mungkin, dia presenter atau pembaca berita di televisi.

Di sudut lain, duduk perempuan  mungil berbibir tipis. Rambutnya hitam lurus dipotong sebahu mengikuti gaya paling mutakhir musim ini. Dia memakai kacamata berlensa lembayung. Dia duduk menantang matahari sore yang bersinar lembut. Aku suka kacamata itu. Sempat aku melirik, kulihat dua huruf C bertautan. Channel. Satu perempuan lagi berkawat gigi. Dia manis sekali. Ada lesung di kedua pipinya. Mungkin karena kawat itu sudah memenjara giginya bertahun-tahun. Dia memakai baju sutra hitam tembus pandang. Agak salah kostum. Karena dia beberapa kali harus menyeka keringat di leher yang jenjang. Kulitnya kuning. Hidungnya bangir. Mungkin dia keturunan Pakistan, atau satu negara di Timur Tengah.

“Kau tahu, negara ini diatur oleh kutang.” Perempuan pertama yang belahan dadanya menyembul itu bicara sambil sedikit berbisik. Aku mencondongkan badan, menajamkan pendengaran.

Si hidung bangir tergelak. “Bagaimana bisa?”

“Aku sepakat. Ini memang negeri kutang,” kata si perempuan petualang. Dia menyalakan sebatang rokok putih, menghisap asap perlahan. “Kutang itu alat politik,” kata dia lagi.

Perempuan berkacamata acuh. Dia mengambil tisu dari tas berwarna ungu. Tas mahal. Aku pernah melihat di televisi. Artis Syahranti memamerkan tas dan seluruh isinya dalam satu program yang tidak penting. Harga satu tas itu dikabarkan bisa membeli sebuah mobil.

“Segala sesuatu di negara ini entah itu politik, korupsi, negara, dikuasai oleh penyangga payudara ini,” kata si perempuan petualang sambil menunjuk dada.

“Coba kau bicaralah Mahasanti. Kau kan mahasiswi semester akhir. Darimana kau beli barang-barang mahal itu.”

“Dari BH. Buste Houder. Penyangga payudara alias kutang.”

“Ha!” Ups, mulutku kelepasan bicara. Keempat perempuan itu sontak melirikku tajam. Aku pura-pura batuk.

Perempuan bertas mahal yang ternyata bernama Mahasanti itu melanjutkan bicara. “Setahun lalu, aku bertemu seorang pria. Tambun dia. Berjenggot pula. Bukan seleraku. Tapi aku tahu, duitnya tidak berseri. Dia politisi. Kami berkencan kemudian. Aku tidur dengannya.”

“Ah, kau tidak pernah berubah,” kata si hidung bangir tergelak.

“Dengar dulu!” Mahasanti jengkel ceritanya dipotong. “Aku tidak minta apa-apa. Aku cuma minta dibelikan kutang. Ini salah satunya,” kata dia sambil menyingkap kaos ketat yang ia pakai. “Kutang ini harganya Rp 25 juta. Hanya segelintir di dunia.”

Laki-laki itu tergila-gila kutang rupanya. Tiap kali dia pergi ke luar negeri untuk studi banding, Mahasanti selalu diberi oleh-oleh kutang. Sesekali dia belikan Mahasanti tas atau kacamata dari butik ternama. Tak lupa Mahasanti meminta kutang. Dia juga membelikan mobil baru. Dan kalian tahu, di dalam mobil itu ada beratus-ratus kutang. Dia suka melihat Mahasanti memakai kutang pemberiannya di tempat tidur. Kadang, sekali bermain, Mahasanti harus ganti kutang tiga kali. Dia benar-benar terobsesi pada kutang!. Belakangan Mahasanti tahu, gara-gara kutang-kutang mahal itu dia tersangkut kasus korupsi. Ratusan kutang itu dia beli memakai uang negara.

“Kalian tahu tidak, Aku baru saja menang tender proyek pengadaan kutang,” kata si perempuan berdada menyembul. “Dua juta buah kutang.”

Aku tersedak kopi mendengar informasi itu.

“Aku tahu proyek itu, Lila. Aku pernah meliputnya.” Ternyata benar dugaanku. Dia seorang wartawan.

Perempuan berdada menyembul itu mendelik. Jadi begini, kata Lila melanjutkan. Selain seragam cokelat, semua pegawai perempuan di negeri ini harus memakai kutang yang sama. Maka, pihak Istana meminta Kementrian Aparatur Negara menganggarkan pengadaan dua juta kutang untuk seluruh negeri. Kutang itu katanya wajib dipakai saat upacara.

“Bagaimana kau bisa menang tender?” kata perempuan petualang yang wartawan itu.

“Mudah saja. Aku ajak tidur kepala proyeknya. Seperti kau bilang, Gina. Kutang itu alat politik. Alat meraih kekuasaan. Kekuasaan tidak jauh dengan uang. Kutang. Uang.” katanya pada si wartawan. Gina namanya. “Kalau pengadaan kutang ini berhasil, kepala proyek naik jabatan.”

Aku terdiam. Dia benar. Memang, di negeri ini, apapun bisa menjadi alat politik. Termasuk sepasang penyangga payudara. Entah itu kutang berenda, kutang olahraga, atau kutang tidur, fungsinya sama saja. Melanggengkan kuasa.

“Aku juga punya cerita tentang kutang,” Gina menimpali. Suatu hari, Gina berkunjung ke daerah di ujung paling barat pulau Sumatera. Disana, Gina harus memakai penutup kepala. Tapi, pada suatu siang, lima orang laki-laki mendatangiku saat Gina duduk di kedai kopi. Mereka dengan paksa menarik Gina ke atas mobil bak terbuka. Ada tiga perempuan lain. Satu perempuan memakai celana jeans ketat. Perempuan lain memakai baju lengan pendek. Perempuan satu lagi tidak memakai penutup kepala.

Perempuan-perempuan itu dibawa ke sebuah lapangan di tengah kota. Dijejerkan dekat tiang bendera. Di pinggir lapangan, ratusan pasang mata memandangi mereka dengan tatapan mata sinis. Gina protes. “Apa salahku?” tanyanya heran. Gina memakai kaos lengan panjang dan celana longgar. Gina juga memakai selendang. Protesnya dihiraukan oleh petugas. Sampai akhirnya, pimpinan mereka membawa secarik kertas. Gina dimintai tandatangan. Katanya itu surat pengakuan dan permintaan maaf. Gina bertanya lagi apa salahnya. “Karena kau tidak memakai kutang,” jawab laki-laki itu ketus.

“Kau tidak memakai kutang?” tiga perempuan lain kompak bertanya.

“Aku tidak pernah memakai kutang. Buat apa? Gerah sekali. Aku tidak merasa perlu memakai kutang.”

“Kau memang gila.” kata si hidung bangir tersenyum simpul.

“Masa kau tidak punya cerita tentang kutang, Aisha?” gantian Gina menyelidik perempuan berhidung bangir.

“Jelas saja Aku punya. Ini baru kemarin. Mungkin kalian belum mendengar kabar ini. Kemarin malam, ada pengajian di komunitas kami. Tidak seperti biasa, malam itu berceramah tentang kutang.”

Dia datang membawa surat edaran. Surat dari Majelis Urusan-kutang Indonesia. Pak Uztadz, mereka menyebutnya, sempat membacakan isi suratnya di depan jamaah. “Aku sempat minta kopiannya.” Dia mengambil kertas dari tas.

Aisha membaca isi surat itu dengan lantang. “Kepada seluruh pengguna kutang di seluruh pelosok negeri. Tertanggal hari ini, kami mengeluarkan fatwa. Tidak diperbolehkan perempuan memakai pakaian yang menonjolkan bentuk kutang ataupun isi di dalam kutang. Adalah juga haram mempertontonkan kutang dan juga isi di dalam kutang di tempat umum. Barangsiapa melanggar fatwa kutang ini maka dia akan masuk neraka.”

Sontak keempat perempuan itu terdiam. Melirik kutang dan isi kutang masing-masing. Lila menarik kerah  berusaha menutupi belahan payudara yang menyembul. Gina merapatkan jaket menutupi dada. Dia hanya memakai tank top di hari yang gerah itu. Tentu saja tanpa kutang karena dia benci kutang. Mahasanti mengambil cardigan berwarna hitam dan bergegas memakainya. Aisha, si gadis Timur Tengah, menarik pashmina lebar dan menutupi tubuhnya dari ujung kepala hingga dada.

Aku yakin, mereka semua takut masuk neraka. Gara-gara kutang.