Pernyataan dari seorang teman laki-laki ketika kami menghabiskan sore di Kafe Semesta, Yogyakarta beberapa minggu lalu mengejutkan saya. “Kamu posmo sekali,” katanya. Saya hanya tertawa. Selama ini tak pernah terpikir dalam benak, saya masuk kotak pemikiran feminisme yang mana. Bagi saya, membangun kesadaran jauh lebih penting daripada sekedar meributkan aliran. Perdebatan soal teori pemikiran feminisme sudah saya rampungkan jauh-jauh hari ketika duduk di bangku kuliah, 10 tahun lalu.

Tapi pernyataan itu mungkin ada benarnya. Saya baru sadar, sudah sejak lama sekali saya berhenti fanatik dengan kata “patriarki”. Melihat permasalahan perempuan dengan menyalahkan segala sesuatu pada “kultur patriarki” kok sepertinya sudah sangat usang. Kalau sudah patriarki, terus kenapa? Mungkin, argumen itu keren ketika dipakai oleh nenek saya pada tahun 1960-an. Tapi saya adalah generasi milenium yang sudah menikmati buah dari perjuangan mereka.

Pada gerakan gelombang kedua, para feminis garis keras seringkali melandaskan segala sesuatu “karena budaya patriarki.” Sehingga argumen yang dibangun juga berdasarkan alasan patriarkhal, perempuan adalah korban dominasi laki-laki. Dalam sudut pandang mereka, perempuan dianggap adalah korban dalam sistem yang dikuasai laki-laki. Bahasa sederhananya: semua salah laki-laki.

Bukankah gerakan feminis ini justru menciptakan kotak-kotak baru. Alienasi baru. Gaya otoriter ini pada akhirnya memunculkan “kekerasan baru” bagi perempuan itu sendiri. Tidak heran, sebagian teman perempuan yang memiliki kesadaran gender yang cukup baik, enggan menyebut diri sebagai feminis. Mereka terlalu “ngeri”.

Julia Kristeva –seorang feminis yang menolak label tersebut—bahkan sejak awal menyebut pergerakan feminisme adalah pergerakan kaum histeris. Tapi seringkali, pemikiran ini dianggap tidak feminis atau bahkan antifeminis. Lantas bagaimana saya bisa berpijak pada pemikiran: perempuan selalu mengalami ketidakadilan karena hidup di dunia laki-laki?.

Bagaimana dengan generasi 2.0 yang menghamba pada teknologi, gadget terbaru, dan media sosial? Retorika antipatriarki itu seringkali membuat generasi seperti saya jenuh. Harus diakui, banyak yang memilih apatis. Kami adalah generasi dimana komunikasi antarindividu saja dilakukan lewat dunia maya. Tanpa batas. Generasi kami bukan generasi yang akan berteriak-teriak di jalan membawa spanduk “tolak dominasi laki-laki” seperti era keemasan gerakan feminisme.

Yang diinginkan generasi ini adalah cara pandang baru. Kami membutuhkan rumusan identitas seksual dengan cara yang berbeda. Kalau boleh saya berkelakar: menjadi feminis hispter, antimainstream. Sebab gambaran ketidakberdayaan perempuan seperti yang diteriakkan feminis radikal tidak lagi kami lihat saat ini. Kalau sudah begitu, masihkah feminisme relevan?

Coba kita lihat. Feminis posmodern seperti Helene Cixous, Luce Irigaray, dan Julia Kristeva mengembangkan gagasan intelektualnya dari filsuf eksistensialis Simone de Beauvoir, dekonstruksionis Jacques Derrida dan psikoanalis Jacques Lacan. Rosmarie Tong, dalam Feminist Thought (1998), menyebutkan ketiga feminis itu berpijak pada konsep “ke-Liyanan” perempuan. Ketiganya gemar menyerang gagasan tentang identitas, Diri, dan menafsirkan kembali pemikiran Freud untuk kemudian merubuhkan tafsir-tafsir baku.

Adalah Psych et Po (Psychanalyse et politique) yang menjadi garda depan feminisme posmodern. Alih-alih menuntut persamaan, kelompok ini merayakan keberbedaan (difference). Mereka memberi nafas baru dalam feminisme. Perdebatan seputar kesetaraan beralih ke perdebatan seputar perbedaan.

Dengan mengadopsi psikoanalisis, Psych et Po menggali libido perempuan dan kenikmatannya serta membongkar fantasi perempuan dan teks-teks perempuan. Gadis Arivia, dalam esainya “Feminisme Telah Mati?” menyebut, kelompok ini jelas memilih metode dekonstruksi untuk melihat teks-teks ketertindasan perempuan.

Saya sendiri sejak lama terpengaruh dengan tulisan-tulisan Simone de Beauvoir yang terkenal dengan kutipannya, “One is not born, rather becomes a women.” Beauvoir menekankan pada pertanyaan, “mengapa perempuan menjadi Liyan?.” Sebagai Liyan, perempuan tidak akan pernah mencapai zona kebebasan, transendensi.

Feminis posmodern juga mengambil pemikiran Beauvoir ini. Tapi tidak lagi menganggap Liyan sebagai penghambat, melainkan kelebihan. Sebagai Liyan, perempuan bisa mengambil jarak dengan norma dan mengkritisinya. Tong mengatakan, ke-Liyanan juga merupakan cara ber-Ada. Berpikir dan bertutur dengan keterbukaan, pluralitas, keragaman dan perbedaan.

Bukan berarti tanpa kritik. Penganut aliran ini seringkali disebut feminis priyayi yang tidak mau memperjuangkan hak perempuan dalam tataran praksis. Kritikus menyebut feminis posmodern hanya kumpulan perempuan intelektual yang sibuk beronani dalam wacana. Tanpa mau turun ke jalan dan melakukan advokasi atau berjuang lewat kanal politik. Tapi harus diakui, feminisme gelombang ketiga yang tumbuh pada era 1990-an berpijak juga pada posmodernisme.

Saya pribadi menolak mendefinisikan diri sebagai penganut posmodernisme. Itu seperti masuk ke dalam pintu kamar yang lain. Dan saya tidak mau terkunci di dalamnya. Tapi intinya, saya sadar, menuntut persamaan antara perempuan dan laki-laki itu sangat utopis. Tuntutan itu hanya melanggengkan konstruksi sosial dan budaya yang sudah terlanjur melenyapkan identitas perempuan.

Pada titik ini saya sepaham dengan Luce Irigaray dalam bukunya “Je, Tu, Nous: Pour une culture de la difference” atau Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda. Menuntut kesetaraan sudah ketinggalan jaman. Perjuangan perempuan sekarang bukanlah menuntut kesetaraan tapi menerima perbedaan. Berbeda bukan berarti lemah. Kesadaran akan keberbedaan itu pada akhirnya akan membangkitkan pembebasan perempuan.

Ia menyatakan untuk mencapai pembebasan, “perlu dibangun teori tentang gender yang berlandaskan jenis kelamin dan penulisan kembali hak setiap kelamin sebagai dua unsur yang berbeda dari sudut pandang hak sosial.” Singkat kata, inilah saatnya membangun budaya yang menghargai perbedaan keduanya.

Ini tentu pekerjaan rumah bersama, tidak hanya bagi perempuan tetapi juga laki-laki untuk membentuk budaya atas dasar perbedaan. Bukankah hak untuk berbeda adalah hak setiap individu? Meskipun resikonya perempuan juga dapat merugi dalam penerimaan mereka akan keragaman ras, kelas, orientasi seksual, umur, agama, etnis dan lain sebagainya.

Tetapi pijakan dasarnya adalah: kita sadar bahwa kita perempuan!.