Gejala yang seolah melawan individualisme dalam kehidupan modern ini seolah tersiasati dengan gerakan yang seragam. Tapi, keragaman menjadi sesuatu yang perlahan asing.

Di parkir bawah tanah Teater Jakarta yang pengap dan berbau bensin, belasan penonton takzim menyaksikan pertunjukan tari karya Melati Suryodarmo. Tiga puluh penari mengenakan kostum putih bergandengan tangan.

Kepala tertutup selendang dan kaki berbalut stoking putih transparan. Mereka saling berpasangan, berjalan, berbaring, dan duduk. Mereka mencelupkan kaki ke dalam ember kaleng berisi air berwarna biru. Cat menodai stoking putih mereka.

Gerakan konstan.
Ritme lambat.
Berulang-ulang.
Seragam.
Membosankan.

Inilah pesan yang ingin disampaikan seniman tari yang lahir di Solo, pada 1969 ini. Gerak penari merepresentasikan keseragaman. Energi pluralitas yang bebas nyaris tidak ada. Diredam sedemikian rupa dalam performan berjudul ‘sweet dream sweet’ ini.

“Ketika kemajemukan dipaksakan menjadi keseragaman,” kata Melati dalam pengantar pertunjukannya. Pada titik ini, pribadi-pribadi menjadi surut peran dan fungsinya. “Saya menganggap kemajemukan sosial di Indonesia seharusnya muncul di segala cara, politik dan budaya.”

Melati adalah seniman yang gemar memadukan gerak tubuh dengan video, fotografi dan instalasi benda-benda. Dia menimba ilmu seni rupa dan performans di Hochshule fuer Bildende Kuenste, Jerman. Dia matang dalam bimbingan Anzu Furukawa, Mara Mattuschka dan Marina Abramovic.

Bagi Melati, dunia yang memberi inspirasi dalam berkarya adalah dunia dalam dirinya. Dalam website pribadi, www.melatisuryodarmo.com, dia menuturkan tubuh menjadi rumah yang berfungsi sebagai wadah kenangan, organisme hidup. Sistem dalam tubuh psikologis yang berubah sepanjang waktu memperkaya idenya dalam mengembangkan struktur baru sikap dan pikiran.

“Saya mencoba untuk memahami bahasa yang tidak diucapkan dan membuka pintu persepsi. Saya menghormati kebebasan dalam pikiran kita untuk melihat hal-hal yang datang melalui sistem sensorik manusia,” katanya.

Cristina Sanchez-Kozyreva, editor majalah seni independen Pipeline, mengulas karya Melati yang paling penting dalam kaitan dengan konsep ‘kematian psikologis’ adalah ‘I am a Ghost in my Own House’, (2012). Dia memenuhi bagian bawah ruang seni Lawangwangi di Bandung dengan arang dan sebuah meja batu di tengah ruangan.

Sementara, dia memakai gaun putih bersih–pada awalnya, karena ruangan itu penuh dengan arang. Meskipun dia mengatakan tidak percaya pada hantu, tapi Melati memilih tema itu dalam performansnya. Penampilan Melati merujuk pada kematian dan entitas tertentu yang menghantui seseorang ketika melekat di suatu tempat–sebuah rumah yang bukan di Indonesia, bukan pula di Jerman.

Melati terlihat sekali menarik kehidupan pribadinya ke panggung seni. Pertunjukannya berdasarkan konteks budaya, politik, dan sosial didorong pemahaman dan pengamatan lintas budaya. Melalui tubuhnya dan skenografi kontemper yang disusun hati-hati, perkawinan antara ruang psikologis dan puitis terjadi.

Nafas ini kental terasa di ruang bawah tanah Teater Jakarta, Sabtu (19/11). Melati seringkali mengintegrasikan isu-isu sosial politik dan intim dalam penampilannya. Kecewa dengan kondisi di Indonesia ketika kemajemukan dipaksakan menjadi keseragaman.

Bagi Melati, pribadi perlahan surut peran dan fungsinya. Gejala yang seolah melawan individualisme dalam kehidupan modern ini seolah tersiasati dengan gerakan yang seragam. Tapi, keragaman menjadi sesuatu yang perlahan asing. Kontradiktif.