Hari Minggu lalu, saya diberi pertanyaan oleh seorang guru agama Katolik. “Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu bertobat?” Pertanyaan yang butuh cukup waktu lama untuk menjawabnya. Saya berpikir keras. Jujur, saya tidak tahu jawabannya. Tapi karena ini pertanyaan bergilir, saya juga harus adil pada si penanya. Saya menjawab, “saya mau lebih baik lagi meluangkan sumber daya yang saya punya buat orang lain.”

Sesaat setelah menjawab, saya rasanya ingin tersedak. Mungkin gara-gara kata-kata yang keluar dari mulut ini, bahkan terdengar utopis bagi telinga saya sendiri. Untung saja saya tidak punya mesin waktu untuk menarik mundur kalimat itu. Kalau ya, saya pilih tombol “back” saja.

Kalimat inilah yang bikin saya geli. Bertobat.

Sungguh, saya gak tahu apa artinya bertobat. Bukankah selama ini manusia – dengan segala bentuk lembaga dan otoritasnya – ingin agar manusia lain mengikuti apa yang dikehendaki oleh sistem. Agama misalnya. Bertobat buat saya tidaklah terdengar seperti saya ingin jadi lebih baik. Ini lebih mirip seperti saya yang takut dimarahi oleh bapak saya sendiri.

Bertobat itu bagaimana mengukurnya? Apakah dengan mengikuti seluruh aturan ajaran agama, mulai dari berpuasa, tidak makan daging, mengikuti perintah Allah sepenuhnya adalah bertobat? Atau bertobat adalah mereka yang siap menerima konsekuensi apapun, demi mencapai apa yang katanya surga?

Hampir semua pemeluk agama mengatakan agamanya adalah jalan kebenaran. Di dalam logika bodoh saya, mengatakan hal seperti itu berarti sama saja mengatakan kebenaran seperti terowongan. Ada terowongan Kristen, terowongan Islam, terowongan Hindu, terowongan Budha, dan seterusnya. Mungkin kalau diteruskan di dunia ini ada hampir 5000 terowongan. Itu yang terhitung. Lalu semua itu muaranya kemana?

Pertobatan, yang mungkin dimaksud oleh guru saya itu, ibarat dinding-dinding terowongan yang membawa saya masuk ke dalam lebih jauh lagi. Saya sendiri tidak tahu sudah berjalan di dalam terowongan yang mana. Sebab selama ini, saya lebih memilih keluyuran, dari satu lorong ke lorong yang lain. Kalau saya tidak suka, saya balik kanan, dan pilih lorong yang lain. Buat saya perjalanan itu melelahkan.

Ternyata saya tidak bebas. Bagaimana dikatakan bebas, kalau apa yang saya lakukan hanya pindah dari satu lorong ke lorong yang lain? Anggap saja semua punya ukuran lorong yang sama, jarak yang sama, besar dan bahkan bau busuk yang sama. Ada doktrin, ada ajaran, ada pertobatan versi masing-masing di dalamnya.

Bukankah lorong-lorong itu selalu ada dalam kehidupan kita? Bukan hanya soal agama. Tapi juga soal ideologi, paradigma, ajaran, filsafat, apapunlah itu silakan kalian sebutkan. Selama ini yang kita lakukan hanya terjebak dari satu lorong ke lorong yang lain. Bahkan, yang merasa diri bebas dari lorong itu pun, sebetulnya terjebak pada lorong yang baru. Lorong ego yang menganggap pilihannya paling benar diantara yang lain.

Meruntuhkan lorong agama dan ideologi sesungguhnya jauh lebih mudah daripada menghancurkan apa yang kita sebut ego. Diri ini tidak pernah puas bukan? Kita mencari karena memang manusia seperti “ditakdirkan” untuk tidak merasa puas. Sadar bahwa tidak puas, membuat kita tidak pernah berhenti.

Saya yang pergi dari satu lorong ke lorong yang lain, sebabnya juga merasa tidak puas.

Padahal kebenaran bukanlah sebuah lorong. Kebenaran itu tidak statis. Kebenaran itu lentur. Kebenaran tidak ada di dalam bangunan-bangunan gereja, masjid, vihara, kuil dan segala macam gedungnya. Kebenaran juga tidak ada dalam khotbah dan ujaran-ujaran. Kebenaran juga tidak ada dalam buku-buku, karya sastra, juga ucapan orang-orang ternama.

Mungkin kalimat terakhir ini terdengar subversif di telinga kalian.

Tapi begini kira-kira. Bagaimana bila kebenaran itu ternyata ada dalam diri kita masing-masing? Bila kita menyadari hal itu, sesungguhnya kita akan berhenti mencari. Kita akan berhenti masuk dalam terowongan-terowongan itu. Kita akan menyadari bahwa kebenaran itu ternyata ada di dalam kedalaman diri yang selama ini kita tidak pernah temukan. Kenapa? Karena kita sibuk keluar masuk saja!

Lalu kebenaran yang seperti apa? Saya tidak tahu jawabannya. Carilah sendiri.

Tapi bisakah saya melakukan itu? Setidaknya, meruntuhkan lorong ego yang mungkin, karena sudah terbentuk lebih dari 30 tahun, dindingnya sudah luar biasa tebalnya? Buat saya itu jauh lebih penting daripada saya harus bertobat.

Beranikah saya merevolusi diri saya sendiri?