Perempuan mungkin ditakdirkan untuk terluka. Kau bilang itu pada rembang sore di sebuah warung kopi. Kalimat yang membuatku harus mencernanya perlahan. Seperti seorang bayi yang baru mencicip sesuap nasi. Asing.

Katamu, perjalanan akan membawamu masuk dalam perspektif yang berbeda. Hingga akhirnya kau sengaja datang ke kota ini. Kota yang sebetulnya sudah kau tinggalkan bertahun-tahun lalu. Kau bilang, kau ingin membuang semua amarahmu di sini.

Entah, sudah berapa kali kau muncul disini membawa kecewa. Kadangkala kau datang dengan rencana. Kali lain, kau tiba-tiba impulsif saja membeli tiket kereta. Lalu esok pagi muncul di depan pintu kamarku. Tapi semuanya sama saja. Kau datang dengan marah.

Tidak gampang memang menyembuhkan luka. “Bisa sih, tapi pelan-pelan,” katamu berkali-kali. Kau memberi sugesti pada pikiranmu sendiri. Padahal aku tahu, belum habis kalimat itu keluar dari mulutmu, kau sudah menyangkalnya dalam hatimu.

Rupanya kau ingin membebaskan pikiranmu dari sebuah nama. Seseorang yang sudah merenggut kesadaranmu. Dia yang sudah merasuki otakmu seperti serbuk beracun. Membuatmu mabuk seperti melahap segenggam jamur tahi. Dia yang membuatmu ingin mereguknya. Mencecapnya. Habis hingga kelenjar terakhir.

Apa sih yang membuatmu begitu tergila-gila?. Dia berbeda katamu. Ah, sekarang bagiku semua sama saja. Bukankah cinta ritmenya memang begitu-begitu saja. Cinta akan membuatmu menggelepar. Sudah itu apa? Toh, kau bertandang lagi ke kota ini berkali-kali membawa marah yang sama.

Kau mengambil pensil dan catatan kecilmu. Kau tuliskan nama yang datang dan pergi dalam hidupmu satu persatu. Dua diantaranya kau tidak lagi ingat. Aku bilang, sebut saja Mr. X. Nama itu kudapat dari temanku seorang dokter forensik. Dia selalu melabeli kaki jenazah tidak dikenal. Tanpa bermaksud menyamakan lelakimu dengan mayat, bagiku nama itu sudah cukup menjelaskan. Toh, kalau kau tidak bisa lagi mengingat nama seseorang, boleh jadi kau memang tidak benar-benar peduli.

Matamu lama terpaku pada nama kesebelas. Nama yang membuatmu kehilangan dirimu bertahun-tahun. Lima tahun yang sia-sia. Dia yang kau perjuangkan atas nama cinta. Hingga kau sendiri bingung. Kau berjuang karena mencintainya atau sebenarnya dirimu yang ingin memuja cinta.

“Sudah kau defragment saja otak itu seperti laptopmu.” Mudah. Kau tinggal klik saja control panel. Taruh program yang tidak lagi kau pakai itu dalam laci paling bawah. Buang kuncinya. Tak perlu kau gunakan lagi. Tapi anehnya, nama itu masih menghantui. Sepertinya dia tahu, dia tak bisa lagi menjangkaumu. Akhirnya dia hadir lewat mimpi tergelapmu.

Kau bicara soal betapa sakitnya mencintai orang itu sementara aku menghabiskan potongan roti terakhir. Rasanya pahit. Sepertinya aku sedang mengunyah kenangan bersama seseorang. Dia yang juga telah membuatku kehilangan diriku. Aku mencintainya saat itu. Tapi waktu mengubah segalanya. Akhirnya aku memilih pergi.

Bukankah cinta seharusnya tidak akan membuatmu kehilangan dirimu? Bukankah cinta sudah semestinya saling membebaskan?. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi berpura-pura menjadi orang lain saat kau mencintai seseorang itu sungguh menyakitkan.

Lalu kau menulis nama terakhir. Nama ketigabelas. Orang yang telah membuatmu datang lagi ke kota ini. Seseorang dari dunia berbeda yang membuatmu lagi-lagi jatuh cinta. Setelah sebelumnya kau sempat berkasih-kasihan dengan alien. Yang mana bicara dengannya saja harus membuatmu mengeluarkan kode-kode sederhana. “Hi, are you there?” Maklum, otak kalian berdua berbeda seri processor.

Kita berdua pernah sepakat, cinta tak harus hadir dalam birahi. Tapi kau kan tahu, sekali kau bermain api, kau bisa terbakar habis. Kita hanya butuh pemantik. Bukankah kita gampang sekali jatuh hati?.

Aku dan kamu mudah sekali memberi ruang. Merengkuh dan membiarkan cinta berkembang. Kita seperti moksa. Mengambang. Melihat fatamorgana. Padahal sebetulnya, bukan cinta yang hadir di sudut kamar itu. Hanya persepsi kita sendiri. Kalau sudah begitu, kita akan bilang, “aku mencintai, aku dilukai.”

Diantara kita ada yang membutuhkan luka sampai titik tertentu supaya dapat mengenali kebahagiaan. Kau tidak akan tau rasanya bahagia kalau tidak pernah menderita. Ada pula yang sudah paham, penderitaan sebaiknya direngkuh saja. Diterima. Tapi tak banyak yang sampai pada level kesadaran seperti itu. Kebanyakan kita memilih menyakiti diri sendiri. Masokis.

Kita tidak pernah memahami realitas apa adanya. Tak pernah membiarkannya berlangsung alamiah. Pikiran kita tidak pernah berhenti menganalisis. Tidak pernah tidak menginterpretasi. Padahal pikiran mengandung praduga. Karena pikiran, juga persepsi, terbentuk karena pengalaman kita sebelumnya.

Akhirnya, kita terjebak masa lalu dan menuntut masa depan. Ya, menuntut masa depan. Ketika kita mengira mencintai seseorang, maka pikiran akan bergerak seperti bola salju liar. Adakah dia juga mencintaiku?. Kalau aku melakukan apapun demi cintaku, seharusnya dia juga melakukan hal yang sama. Lalu kita akan bahagia bersama karena aku miliknya, dia milikku.

Tapi kita tidak sadar, pada titik ini, kita justru melekat pada cinta itu sendiri. Tidak bebas. Ada harapan, ada keinginan. Lalu ketika kita tidak mendapat apa yang kita mau, ada kecewa dan putus asa. Inilah perasaan yang bisa ‘membunuh’ setiap manusia. Ujungnya: menderita.

Kenapa sih kita tidak memberi jeda saja pada cinta, kataku. Toh, cinta tidak akan kemana-mana. Kau hanya perlu memberi ruang pada dirimu sendiri. Pada kesadaranmu. Kesadaran akan masa kini. Berhentilah berkelana. Ijinkan pikiranmu diam sebentar saja.

Slipi, 17 Mei 2014