Ketika saya pergi ke Amsterdam, tempat yang saya incar bukan coffee shop dimana orang biasa menikmati cannabis. Sama sekali gak tertarik. Tapi sungguh saya ingin betul datang ke Pijpenkabinet atau Museum Pipa Amsterdam.

Ini adalah museum pipa tembakau paling lengkap di seluruh dunia. Koleksi yang dipajang berasal dari seluruh dunia sepanjang sejarah peradaban manusia menikmati tembakau.

Menariknya, pipa-pipa ini dikumpulkan oleh seorang kolektor juga kurator. Dia berburu pipa tertua sejak masa pra-Colombia, 2500 tahun lalu sampai pipa modern dari kayu Briar buatan artisan. Jumlah total koleksinya 31 ribu buah pipa. Tapi yang dipajang hanya 2 ribuan mengingat usianya sudah sangat tua, sangat langka, atau terlalu mahal. Pipa ini sekarang disimpan di museum dan dirawat yayasan.

Di sini ada pipa dari Colombia, Amerika, Belanda, German, Prancis, China, Jepang, Turki, Afrika. Semuanya punya karakteristik. Pipa Prancis misalnya, terbuat dari keramik dan sangat artistik. Tahu sendiri, orang Prancis memang sangat modis. Sementara pipa Belanda jauh lebih simpel dan praktis dibuat dari tanah liat. Ada lagi pipa merchaum, terbuat dari batu mineral sepiolit yang kalau semakin lama dipakai, warnanya jadi semakin coklat gelap karena oksidasi tembakau.

Saya memang ingin tahu soal budaya menikmati tembakau dengan pipa langsung dari sumbernya. Sebab, pada masa kolonial, adalah salah satu negara yang mengenalkan cara ini ke Indonesia dan masih berlangsung sampai sekarang.

Benedict Goes, pengurus Pijpenkabinet bilang, bagi orang Belanda sendiri menggunakan pipa adalah simbol status. Pada abad 17, nyangklong berarti menunjukkan tanda bahwa dia sanggup membeli dan merawatnya. Hanya kelas pekerja yang tidak memakai pipa. “Dalam budaya pipa, ada simbol kelas. Semakin panjang pipa yang dipakai, maka statusnya juga semakin tinggi,” kata Benedict.

Yang menarik, masyarakat tradisional Belanda punya tradisi. Dalam setiap acara pernikahan, mereka selalu memberi hadiah pipa panjang terbuat dari tanah liat kepada pengantin perempuan. Pipa ini punya mitos, kata Benedict. Kalau pipanya patah, perkawinannya juga tidak akan bertahan lama. Makanya, si perempuan harus menjaga baik-baik pipa hadiah itu.

Saya bertanya, kenapa semua orang memandang aneh ketika saya menggunakan pipa di sini padahal nyangklong sudah jadi budaya berabad-abad? Benedict menjawab, karena kamu perempuan. “Buat orang Belanda sendiri, janggal melihat perempuan pakai pipa. Ini, mau gak mau harus diakui, adalah budayanya laki-laki.”

Oke. Pertama ini soal kelas. Kedua ini soal bias gender. Tapi saya gak peduli. Buat saya menikmati tembakau dengan pipa adalah pengalaman personal. Rasa dan caranya juga personal. Buat saya, jauh lebih penting belajar menelusuri rasa tembakau dan pipa satu persatu. Tapi memang jadi menarik ketika kita tahu konteks sosial, politik dan budaya cara menikmati tembakau dengan pipa.

Dua tahun lebih jadi pemipa ternyata gak cukup buat saya. Ada rasa haus yang lebih untuk memahami cara merasakan tembakau ini. Saya juga bilang sama Benedict, kalau lihat pipa buatan artisan saya suka merinding. Seperti melihat potret jiwa si artisan itu sendiri.

Benedict dan juga Don, seorang pemipa senior Belanda juga bantu saya mendapatkan pemahaman soal pipa Briar modern. Mereka tahu betul soal itu karena pipa adalah hidup mereka sehari-hari. Bukan sekadar penjual – karena di bawah museum ini juga ada tokonya – tapi mereka juga ajarkan saya memilih pipa yang baik.

Tapi saya gak beli. Saya ingat pipa-pipa di rumah yang belum semuanya saya telusuri rasanya. Dalam dunia pipa dan tembakau, saya masih newbie dan masih akan terus jadi newbie. Sebab kombinasi antara rasa tembakau dan pipa kemungkinannya bisa jutaan kali.

Terimakasih Arland Pedalwerks yang sudah ‘nyemplungin’ saya ke dunia yang tak terbatas ini.

Sweet smokes!

I don’t buy bags. I buy pipes. My 7th. #tsuge #mizki #whatever

A post shared by nagaketjil (@nagaketjil) on