Tak pernah terbayangkan oleh seorang Sia Furler, 38, video klip single pertamanya “Chandelier” ditonton lebih dari 550 juta orang di kanal Youtube. Setengah miliar manusia di muka bumi! Sementara, album perdananya “1000 Forms of Fear” melesat menduduki ranking pertama 200 Billboard selama beberapa pekan. Meski gagal merebut Grammy, dunia sudah mengakui 2014 adalah tahun Sia.

Sia, penyanyi asal Australia, menolak publisitas. Tak ingin wajahnya dikenal. Tak mau muncul dalam sampul album dan video klipnya sendiri. Tampil tanpa wajah dimana-mana. Dia membuat pernyataan, “terkenal bukan cuma tampang tapi kualitas.” Ketika seorang penyanyi pendatang baru berlomba-lomba “nampang” di sampul depan majalah Billboard, sebuah majalah musik yang sangat bergengsi di Amerika Serikat, Sia malah muncul dengan kantong belanjaan menutupi wajah.

65420150210112755767
Photo by Billboard

Dia memang serius dengan pernyataannya. Sia melangkah di karpet merah Grammy dengan wig perak yang besarnya seperti kuali. Di atas panggung Grammy 2015, dia menyanyikan “Chandelier” sambil memunggungi penonton. Dia biarkan Maddie Ziegler dan Kristen Wiig menjadi sorotan jutaan pasang mata lewat televisi. Sia sendiri memilih berdiri di pojok, menyanyi dengan kekuatan luar biasa, dan bergeming ketika gemuruh tepuk tangan penonton di Staples Center, California membahana.

Sia sebetulnya bukan benar-benar baru di industri rekaman. Sia sudah menulis banyak lagu penyanyi papan atas dunia. Ada Beyoncé, “Pretty Hurts”; Britney Spears, “Perfume”; David Guetta, “Titanium”; Rihanna, “Diamonds”; Ne-Yo, “Let Me Love You (Until You Learn to Love Yourself)”; Flo Rida, “Wild Ones. Tak kurang dari 25 juta kopi lagu ciptaannya sudah terbeli. Sia sangat menikmati peran di belakang layar. Sampai akhirnya, dia benar-benar dipaksa muncul ke permukaan setelah album pertamanya meledak.

Tahun 2005, Sia hanya dikenal sebagai seorang penyanyi piano-balad lewat lagunya “Breathe Me”. Saat itu, Sia masih masih menampakan wajah. Tapi dia tetap harus berdamai dengan popularitas ketika singlenya terjual 1,2 juta kopi. “Ini mengerikan,” kata Sia dalam wawancara dengan The New York Times, tahun lalu. “Saya hanya ingin privasi. Suatu hari, dalam perbincangan ketika teman saya mengatakan dia mendapat kanker, seseorang menghampiri kami dan meminta foto bersama. Cukup [jadi alasan], kan?”

Antipopularitas mungkin hanya satu alasan Sia muncul tanpa wajah. Sesungguhnya, dia adalah socially-phobic popstar. Wajar saja, dia pernah berjuang dengan stres dan depresi. Sia kecanduan alkhohol, memborong narkotika dari seorang dealer, menderita gangguan bipolar, dan pernah menulis surat bunuh diri. Dia mengonsumsi antidepresan dan obat penghilang rasa sakit, termasuk Xanax dan OxyContin, dan akhirnya menjadi kecanduan juga. “Chandelier” adalah cerita tentang bagaimana dia berdamai dengan bergelas-gelas alkhohol setiap malam.

2-sia-gallery-logo-tvs-trailblazers-at-the-cathedral-of-st-john-the-divine
Photo by Andrew H. Walker

Eksentrik. Itulah kata yang bisa saya simpulkan dari seorang Sia Furler. Penampilan tanpa wajah–entah itu karena alasan gimmick atau Sia memang benar-benar ketakutan pada popularitas— sudah mencuri perhatian dunia. Dalam industri rekaman yang gemerlap dan penuh sorotan, Sia Furler adalah anomali. Ketika banyak penyanyi perempuan bersaing lewat tampang, dikritik dan diawasi penampilan fisiknya oleh media, kemunculan Sia dinilai menyegarkan. Dia mendefinisikan dirinya sendiri.

Tapi toh, tampil tanpa wajah tak dapat mengurangi publisitas. Kemunculan Sia malah bikin penasaran. Dia dicari-cari wartawan yang mencoba setengah mati memotret wajahnya. Mereka yang mendukung sikap Sia berpendapat keengganannya menghindari sorotan publik bukanlah cari perhatian, tapi sebuah ungkapan seni yang tulus. Sia ingin dikenal karena karyanya, sekali lagi, bukan tampangnya.

Namun beberapa kritikus mengatakan “protes tanpa wajah” Sia yang niatnya mendobrak tuntutan industri musik itu, malah membuatnya terjebak pada sudut pandang seksis. Perempuan yang tidak sesuai dengan standar itu, ya tidak perlu mengumbar tampang. Sekalian saja tutupi wajahmu agar tak terlihat. Soal ini ada pertanyaan yang muncul dari seorang blogger. Apakah Sia mengirim pesan bahwa perempuan harus “menghilang” saja kalau ingin dianggap serius sebagai musisi. Atau sebetulnya Sia –dengan mereklaim identitas pribadinya—sedang memberdayakan dirinya? Saya memillih yang kedua.

7-sia-gallery-big-day-out-festival-auckland
Photo by Sandra Mu

Perempuan yang masuk dalam industri musik memang seringkali diukur dengan standar ganda. Tanpa perlu contoh sekaliber Sia sebetulnya untuk mengkritik tuntutan industri musik pada perempuan. Lihat saja Syahrini yang jungkir balik setengah mati menunjukkan posisi dan eksistensinya sebagai selebriti. Kalau mau jadi penyanyi ya harus cantik dan menarik. Setidaknya, kalau suaramu tidak bagus-bagus amat, wajah dan tubuhmu cukup menjual kan? Saya sinis? Tidak. Memang itulah kenyataannya.

Bagi perempuan yang masuk dalam ranah profesional, secara terus menerus diharuskan untuk menjadi dan bersikap seperti perempuan. Dengan kata lain, di samping tugas profesionalnya, seorang perempuan pekerja diharuskan melakukan pekerjaan yang diimplikasikan oleh “feminitasnya”. Dengan kata lain, perempuan harus tampil menyenangkan – serta memuaskan.

Akibatnya, perempuan mengembangkan konflik internal antara kewajiban profesional dan kepentingan femininnya. Jika dia mengutamakan kemampuan profesionalnya dan mengabaikan tuntutan feminitas itu, dia dianggap tak memenuhi standar. Apalagi, perempuan yang terjun dalam industri musik yang notabene jadi pusat sorotan publikasi seperti Sia.

Coba tanya Krisdayanti. Berapa miliar uang yang sudah dia habiskan untuk mempermak wajah dan tubuhnya ketika ia merasa dirinya “tak sesuai standar”. Tuntutan-tuntutan seperti ini membuat jumlah uang yang dihamburkan untuk perawatan wajah dan tubuh seorang selebriti menjadi di luar nalar. Banyak pula selebriti yang putar otak cari sensasi demi popularitas.

Yah, meskipun susah mencari perempuan selebriti yang berhasil mendobrak tuntutan industri dan berhasil melindungi privasinya dalam dunia yang sekarang serba blak-blakan ini. Tapi setidaknya, sikap Sia membuat kita seharusnya berpikir. Jangan-jangan, kita perempuan, yang tanpa sadar menetapkan standar ganda pada perempuan-perempuan lain.

Bukankah kita seharusnya bertanya pada diri sendiri, bagaimana kita menentukan ukuran mereka? Bagaimana kita mengkritik mereka? Seberapa besar rasa ingin tahu pada kehidupan pribadi mereka? Hal paling sederhana yang bisa kita jawab, berapa jam waktu yang kita habiskan menonton tayangan infotaintment dalam sehari?

Apakah seorang Sia, Syahrini, Krisdayanti atau perempuan-perempuan selebriti lain harus tunduk pada belenggu ketenaran yang mereka pilih sendiri demi memuaskan ego kita sebagai penikmat seni? Ataukah membiarkan mereka berkarya dan menunjukkan kualitasnya?