Kembali ke tanah Papua setelah sekian tahun lalu, ternyata rasanya masih sama. Saya masih menemukan perempuan-perempuan hebat, yang berjuang demi cita-citanya. Padahal mereka hidup dalam kultur yang sangat patriarkis. Terutama perempuan-perempuan yang sudah menikah. Sulit untuk berdaya, ketika mereka harus berhadapan dengan anggapan bahwa perempuan sudah dibeli dengan mas kawin.

Tapi nyatanya, saya tetap menemukan semangat. Mulai dari mama-mama penjual pinang di Jayapura atau mama penjual noken di Biak yang jauh-jauh datang dari Wamena. Ada banyak perempuan yang saya temui, sudah punya kesadaran untuk berdaya. Sebagian dari mereka terlibat aktif dalam organisasi. Bahkan, Mama Petronela istri Kepala Suku Kampung Kayu Batu juga sudah tau konsep soal gender, bagaimana menghadapi kekerasan dalam rumah tangga, dan bisa menjelaskan gerakan pemberdayaan perempuan di kampungnya dengan baik. Saya salut dengan teman-teman yang sudah kerja keras dampingi mereka.

Sebagai perempuan yang hidup dalam kenyamanan kota metropolitan, saya merasa gak ada apa-apanya. Beban yang mereka hadapi jauh lebih besar dibanding saya, juga kita. Setidaknya kita didukung lingkungan, keluarga, pekerjaan. Nah coba bayangkan, para mama harus berjualan di pasar untuk dapat uang, sementara suaminya duduk di pojokan pasar main kartu dan mabuk-mabukan.

Saya cuma ingin belajar dari semangat mereka. Saya tahu, saya bukan mereka. Tidak tahu kondisi nyata yang mereka hadapi. Tapi cara mereka bertahan hidup, buat saya sangat luar biasa. Sebab bagi sebagian orang, menjadi perempuan di Papua bisa jadi berkat sekaligus kutukan.

Sa pu hati su tatinggal di Papua, Mama.